7.050 Hotspot Terdeteksi di Sumsel, Puncak Karhutla Sampai September

- Sumsel mencatat 7.050 hotspot hingga 10 Agustus 2026, dengan puncak musim kemarau pada Agustus-September yang meningkatkan ancaman karhutla.
- BPBD mencatat 1.077 kejadian karhutla sejak Januari hingga Agustus; wilayah terbanyak meliputi OKI, Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim.
- Lahan gambut mulai mengering, sementara El Nino dan IOD berpotensi memperpanjang kondisi kering serta memundurkan awal musim hujan hingga akhir Oktober atau awal November.
Palembang, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan (Sumsel) masih menjadi ancaman seiring dengan memasuki puncak musim kemarau. Sejak awal tahun hingga 10 Agustus 2026, sebanyak 7.050 titik panas (hotspot) terdeteksi di sejumlah wilayah Sumsel dan diperkirakan mencapai puncak dalam satu bulan ke depan.
"Ini yang perlu kita waspadai bersama. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September dan kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan," ungkap Kepala BPBD Sumsel Muhammad Iqbal Alisyahbana, Rabu (12/8/2026).
1. Titik panas terus melonjak

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI) Iqbal menjelaskan, peningkatan titik panas mulai terjadi secara masif pada bulan Mei, dan terus melonjak saat memasuki Juni dan Juli. Khusus sepanjang Agustus hingga 10 Agustus 2026, terdapat 2.145 hotspot yang terdeteksi.
Kondisi tersebut juga diikuti oleh meningkatnya jumlah kejadian karhutla. Pada Juni 2026 tercatat 120 kejadian, kemudian melonjak menjadi 456 kejadian pada Juli. Sementara hingga Agustus, sudah terdapat 399 kejadian karhutla.
Secara kumulatif, BPBD Sumsel mencatat 1.077 kejadian karhutla sejak Januari hingga Agustus 2026. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir dan Muara Enim menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak.
2. Wilayah gambut sudah mengering

Kondisi kabut asap menyelimuti perairan Sungai Musi kota Palembang, Rabu 12 Agustus 2026. ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI Iqbal mengungkapkan, saat ini kondisi mengkhawatirkan terjadi di beberapa lahan gambut di Sumsel yang mengalami kekeringan. Kondisi itu, meningkatkan potensi karhutla apabila tidak dilakukan pencegahan sejak dini.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas lahan terbakar di Sumsel telah mencapai lebih dari 664,87 hektare. Namun, angka tersebut baru berdasarkan penghitungan hingga Juni 2026, sehingga belum menggambarkan total luas lahan terbakar hingga Agustus.
"Wilayah-wilayah gambut sudah mulai mengering dan potensi kebakarannya akan semakin besar pada Agustus dan September. Karena itu, kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan dan pencegahan," jelasnya.
3. Ada potensi musim hujan mundur

Kondisi kabut asap menyelimuti perairan Sungai Musi kota Palembang, Rabu 12 Agustus 2026. ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mengingatkan bahwa kondisi kering diperkirakan masih berlangsung hingga September. Fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) turut memengaruhi kondisi iklim Sumsel sehingga curah hujan berpotensi berkurang.
"El Nino membuat kita kehilangan hujan karena hujannya dibawa ke Samudra Pasifik. Ada satu faktor lagi yang mulai menguat, yaitu IOD. Ini juga membawa hujan khususnya di Sumatra ke Samudra Pasifik," Wandayantolis.
Kondisi tersebut juga berpotensi membuat awal musim hujan mengalami kemunduran. Jika sebelumnya awal musim hujan diperkirakan terjadi pada pertengahan Oktober, kondisi iklim saat ini berpotensi membuatnya mundur hingga akhir Oktober atau awal November.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan selama puncak musim kemarau, terutama dengan tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
"Namun, dengan El Nino yang intensitasnya sangat kuat, ada potensi awal musim hujan mundur ke akhir Oktober atau bahkan awal November," jelasnya.
















