Petisi Kabut Asap Mencuat, Herman Deru: Jangan Ada Prasangka Kita Gak Prihatin

Petisi terkait kabut asap dan karhutla di Sumsel telah dibagikan 810 orang serta ditandatangani 690 orang, menyoroti respons pemerintah yang dinilai lamban, minim koordinasi, dan tidak transparan.
Pembuat petisi mendesak evaluasi kebijakan karhutla, kolaborasi dengan lembaga serta masyarakat sipil, penguatan pencegahan dini, dan penggunaan teknologi ramah lingkungan untuk deteksi kebakaran.
Gubernur Herman Deru menyatakan prihatin, menginstruksikan pengobatan ISPA akibat asap gratis, serta meminta puskesmas di kabupaten dan kota disiagakan 24 jam.
Palembang, IDN Times - Sebuah petisi yang ditujukan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencuat di laman media sosial. Petisi tersebut telah dibagikan kepada 810 orang dan ditandatangani oleh 690 orang hingga pukul 16.08 WIB, guna menanggapi kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas di Bumi Sriwijaya.
Dalam petisi itu, masyarakat menilai lambatnya respons pemerintah dalam melakukan pencegahan dan penanganan karhutla. Mereka menilai tindakan pemerintah minim koordinasi dan tidak transparan.
"Kami mendesak pemerintah untuk mengambil langkah-langkah konkret dengan melakukan evaluasi mendalam terhadap kebijakan penanganan karhutla," ungkap Anisa Irawan, sang pembuat petisi, dikutip IDN Times, Jumat (2/10/2026).
1. Pemerintah dinilai minim strategi pencegahan sejak dini

Gubernur Sumsel Herman Deru (IDN Times/Rangga Erfizal) Dalam petisi itu, pembuat petisi mendesak pemerintah untuk bekerja sama dengan lembaga-lembaga terkait serta masyarakat sipil untuk mengembangkan strategi pencegahan sejak dini dan memperkenalkan teknologi ramah lingkungan yang dapat membantu deteksi dini kebakaran.
Menurutnya, petisi ini merupakan panggilan masyarakat Palembang dan Sumsel untuk mewujudkan masa depan daerah yang lebih sehat dan aman.
"Dengan menandatangani petisi ini, Anda mendukung perjuangan kami untuk udara bersih dan lingkungan yang sehat. Marilah kita bergerak bersama untuk perubahan yang lebih baik," jelasnya.
2. Herman Deru tanggapi desakan masyarakat

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI) Menanggapi desakan warga terkait kabut asap, Gubernur Sumsel Herman Deru mengaku prihatin dengan kondisi yang terjadi di Palembang dan sejumlah daerah lainnya. Ia mengatakan akan memerintahkan agar warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap tidak dibebani biaya pengobatan.
"Ya ampun. Jangan sampai ada prasangka kalau kita ini enggak prihatin. Saya sebagai kepala daerah, begitu juga dengan bupati, wali kota, ini kan punya masyarakat yang dipimpin secara personal. Kita juga punya keluarga, punya anak, punya cucu," jelas Deru.
Menurut Deru, kondisi kabut asap yang dirasakan warga Palembang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya adalah kondisi topografi kota. Ia menyebut posisi Palembang membuat asap dari wilayah lain berkumpul sehingga dampaknya turut dirasakan masyarakat.
"Palembang ini memang tempatnya berkumpulnya asap dengan topografi rendah," jelasnya.
3. Pengobatan ISPA gratis

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi Deru memastikan warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap tetap dapat memperoleh penanganan tanpa memikirkan biaya. Untuk memperluas akses layanan, ia meminta kepala daerah di kabupaten dan kota menyiagakan sejumlah puskesmas selama 24 jam.
Pelayanan tersebut, kata Deru, diberikan secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan maupun pengobatan akibat dampak kabut asap.
"Untuk ISPA, utama yang diakibatkan oleh asap ini, saya instruksikan untuk sama sekali tidak dipungut biaya," tegasnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















