Kualitas Udara Sumsel Mulai Tak Sehat, Pemprov Sebut Belum Separah 2023

- Kualitas udara Sumatra Selatan menurun seiring karhutla; hingga 11 Agustus 2026, tim gabungan mencatat 142 titik panas di sejumlah wilayah.
- DLHP Sumsel menyatakan kondisi saat ini belum separah 2023, ketika titik panas melebihi 500 per hari, asap pekat menutup Sungai Musi, dan jarak pandang di bawah 100 meter.
- Palembang telah masuk kategori tidak sehat di atas indeks 100, sedangkan Ogan Ilir sekitar 90-an; warga sensitif seperti penderita asma diminta membatasi aktivitas luar ruangan.
Palembang, IDN Times - Kualitas udara di Sumatra Selatan (Sumsel) mulai mengalami penurunan seiring meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data tim gabungan penanganan karhutla Sumsel per 11 Agustus 2026, tercatat sebanyak 142 titik panas tersebar di sejumlah wilayah.
Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran DLHP Sumsel, Rezawahya, mengatakan kondisi kualitas udara di Sumsel secara umum masih cukup baik. Namun, sejumlah hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara telah berada pada kategori tidak sehat.
"Pertama, kualitas udara memang menurun. Kalau dibanding 2023, tidak separah 2023," ujar Rezawahya kepada IDN Times, Rabu (12/8/2026).
1. Karhutla di 2023 dianggap pernah sangat berbahaya

Kondisi kabut asap menyelimuti perairan Sungai Musi kota Palembang, Rabu 12 Agustus 2026. ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI Menurutnya, kondisi karhutla saat ini masih jauh dibandingkan dengan situasi pada 2023. Ketika itu, jumlah titik panas sempat melonjak hingga lebih dari 500 titik dalam sehari dan asap pekat membuat jarak pandang di sejumlah wilayah menurun drastis.
"Kalau tahun 2023, kita itu pernah di atas 200 (sangat tidak sehat) yang asapnya sampai menutupi Sungai Musi, enggak kelihatan lagi. Jarak pandangan di bawah 100 meter," katanya.
2. Akui kualitas udara dalam kondisi tidak sehat

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI) Sementara saat ini, jumlah titik panas yang terpantau masih berada jauh di bawah kondisi tersebut. Penanganan di lapangan juga dinilai lebih cepat, sehingga penyebaran dampak karhutla belum separah tiga tahun lalu.
"Kalau dilihat dari jumlah titik panas, kayaknya masih jauh dari kondisi seperti tahun 2023, di mana waktu itu banyak sekali hot spot dan sulit dikendalikan tim. Alhamdulillah, sekarang tidak terlalu banyak, dan tim lapangan bergerak cepat," jelasnya.
Meski demikian, kondisi kualitas udara di setiap daerah tidak sepenuhnya sama. Di Ogan Ilir, misalnya, hasil pemantauan terakhir masih berada di kisaran 90-an atau kategori sedang, meski sudah mendekati ambang tidak sehat.
"Secara umum masih bagus. Memang data kita menunjukkan sudah kategori tidak sehat (Palembang), di atas 100. Tapi di Ogan Ilir angkanya kemarin masih sekitar 90-an, sedang, yang mendekati tidak sehat," ungkap Rezawahya.
3. Masyarakat dengan sensitivitas udara dilarang berada di luar ruangan

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI) Dengan kondisi tersebut, masyarakat secara umum masih dapat beraktivitas di luar ruangan. Namun, kelompok yang sensitif terhadap paparan udara buruk diminta mengurangi aktivitas di luar rumah.
"Kalau untuk aktivitas di luar ruangan masih aman. Kalau yang sensitif, kayak orang yang punya asma, jangan terlalu banyak aktivitas di luar rumah," jelasnya.
















