Udara Palembang Masuk Level Hitam, Dini Hari Waktu Paling Berbahaya

Palembang memasuki level hitam kualitas udara setelah pemantauan tiga hari menunjukkan PM2.5 di Musi 2 mencapai kategori berbahaya, dengan puncak 600 mikrogram per meter kubik pada 7 September dini hari.
Konsentrasi PM2.5 cenderung meningkat pada malam hingga dini hari, sementara siang hari membaik tetapi tetap tidak sehat. Pada Rabu, angkanya turun namun masih di atas 400 mikrogram per meter kubik.
Kabut asap mengandung partikulat halus yang berisiko terhirup ke saluran pernapasan dan termasuk catatan tertinggi saat karhutla Sumsel tahun ini; BMKG memastikan sumbernya karhutla, bukan erupsi Anak Krakatau.
Palembang, IDN Times - Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatra Selatan, Wandayantolis, mengatakan, berdasarkan pemantauan kualitas udara dalam tiga hari terakhir, kini Kota Palembang mulai memasuki level hitam atau indikator udara sangat buruk, dengan waktu paling berbahaya ketika kualitas udara memburuk pada dini hari.
"Kualitas udara kian memburuk hingga statusnya berbahaya," katanya, Rabu (9/9/2026).
1. Kawasan Musi 2 Palembang jadi lokasi paling berbahaya

Perairan Sungai Musi Palembang saat kabut asap. (IDN Times/Hafidz Trijatnika) Berdasarkan data tiga hari terakhir, konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di kawasan Musi 2 Palembang tercatat mencapai level berbahaya atau masuk kategori hitam. Kondisi terburuk terjadi pada 7 September 2026 pada dini hari.
"Yakni konsentrasi PM2.5 menembus 600 mikrogram per meter kubik. Kemudian, sehari setelahnya, kualitas udara kembali memburuk, sementara pada hari ini (Rabu) angkanya mulai turun tetapi masih berada di level berbahaya dengan konsentrasi di atas 400," jelas dia.
2. Udara siang hari di Palembang masih dalam kategori tidak sehat

Kabut asap menyelimuti Palembang, Minggu 23 Agustus 2026. Jembatan Ampera tampak samar dari kejauhan. (IDN Times/Rangga Erfizal) Lebih lanjut, Wandayantolis menyampaikan bahwa pola kualitas udara di Palembang dalam beberapa hari terakhir menunjukkan perbedaan cukup tajam antara dini hari dan siang hari. Yakni, konsentrasi PM2.5 cenderung meningkat pada malam hingga dini hari.
"Sehingga kualitas udara masuk kategori berbahaya. Ketika siang hari, kondisi berangsur membaik, namun kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat," katanya.
3. Kabut asap Palembang tak berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau

Kondisi Kota Palembang yang diselimuti kabut asap akibat Karhutla. (IDN Times Rangga Efrizal) Kondisi tersebut, lanjut dia, membuat kabut asap yang dirasakan warga bukan hanya persoalan jarak pandang, tetapi juga tingginya konsentrasi partikulat halus yang dapat terhirup ke saluran pernapasan.
"Dari catatan, PM2.5 juga menjadi salah satu angka tertinggi yang tercatat selama periode karhutla di Sumsel tahun ini," jelas Wandayantolis.
Namun, ia menegaskan di tengah kabut asap yang makin pekat, BMKG memastikan kondisi tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
"Hasil monitoring BMKG dan pengecekan lapangan, tidak ada debu erupsi yang sampai ke Palembang. Asap ini sumbernya dari karhutla," kata dia.




















