Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Erupsi Anak Krakatau, Kualitas Udara 3 Daerah di Sumsel Memburuk

Kota Palembang
Erupsi Anak Krakatau, Kualitas Udara 3 Daerah di Sumsel Memburuk
Potret Gunung Anak Krakatau (commons.wikimedia.org/Tyke)
  • PALI, Palembang, dan Ogan Ilir mencatat kualitas udara sangat tidak sehat per 6 September 2026, dengan ISPU 237, 216, dan 213 akibat dominasi partikulat PM2.5.
  • Erupsi Anak Krakatau sejak 4 September menyebarkan abu hingga sejumlah wilayah, tetapi KLH/BPLH belum menyimpulkan erupsi sebagai penyebab utama polusi di Sumsel yang juga terdampak karhutla.
  • KLH/BPLH mengintensifkan pemantauan udara dan air laut melalui tim teknis, AQMS, serta ISPU; warga, terutama kelompok rentan, diimbau membatasi aktivitas luar dan memakai masker bila diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mencatat Sumatra bagian selatan menjadi wilayah dengan kualitas udara paling mengkhawatirkan di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hingga 6 September 2026 pukul 14.00 WIB, tiga daerah di Sumatra Selatan masuk kategori sangat tidak sehat berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), dengan parameter kritis didominasi oleh partikulat halus PM2.5.

  1. 1. Palembang, PALI, dan Ogan Ilir tembus kategori sangat tidak sehat

    Kondisi Kota Palembang yang diselimuti kabut asap akibat Karhutla.
    Kondisi Kota Palembang yang diselimuti kabut asap akibat Karhutla. (IDN Times Rangga Efrizal)

    Berdasarkan data KLH/BPLH, wilayah dengan kualitas udara terburuk di Sumatra Selatan adalah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dengan ISPU 237, disusul Palembang 216 dan Kabupaten Ogan Ilir 213. Ketiganya masuk kategori Sangat Tidak Sehat.

    Selain itu, empat daerah lain di Sumsel berada pada kategori Tidak Sehat, yakni Musi Rawas (165), Prabumulih (139), Musi Banyuasin Serasan Jaya (128), dan Lahat (112). Sementara Muara Enim tercatat berada pada kategori Sedang dengan nilai ISPU 81.

    KLH/BPLH menyebut tingginya nilai ISPU di Sumatra bagian selatan didominasi oleh konsentrasi PM2.5 yang menjadi parameter kritis dalam pemantauan kualitas udara.

  2. 2. Abu vulkanik meluas, tetapi dampaknya masih dikaji

    ilustrasi abu vulkanik akibat sapuan angin
    ilustrasi abu vulkanik akibat sapuan angin (unsplash.com/Zach Lucero)

    KLH/BPLH menjelaskan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau mulai terpantau pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB berdasarkan informasi BMKG. Analisis citra satelit hingga 6 September 2026 pukul 08.00 WIB menunjukkan sebaran abu vulkanik meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.

    Meski demikian, kementerian menegaskan bahwa Sumatra bagian selatan juga masih terdampak karhutla. Hubungan langsung antara peningkatan konsentrasi partikulat dengan erupsi Gunung Anak Krakatau masih memerlukan kajian teknis lebih lanjut sehingga belum dapat disimpulkan sebagai penyebab utama memburuknya kualitas udara di Sumsel.

  3. 3. KLH optimalkan pemantauan dan minta warga waspada

    ilustrasi masker N95
    ilustrasi masker N95 (pixabay.com/AbrahamSuna)

    Sebagai langkah mitigasi, KLH/BPLH menurunkan tim teknis untuk memantau kualitas udara ambien, termasuk PM2.5, PM10, sulfur dioksida (SO2), serta kualitas air laut di pesisir Banten dan Lampung. Pemantauan juga dilakukan melalui Air Quality Monitoring System (AQMS) dan sistem ISPU secara berkelanjutan.

    KLH/BPLH juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti informasi resmi pemerintah. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan pernapasan diminta membatasi paparan udara luar dan menggunakan masker saat beraktivitas jika diperlukan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More