Kabut Asap Palembang, Ortu Cemas Sekolah Swasta Masih Gelar KBM

- Sejumlah sekolah swasta di Palembang masih menggelar KBM tatap muka pada 9-11 September 2026, meski Pemkot menerapkan PJJ akibat kabut asap.
- Sekolah tatap muka mewajibkan masker, membatasi kegiatan di dalam ruangan, dan mengizinkan siswa sakit atau bergejala ISPA belajar daring dari rumah.
- Orang tua mempertanyakan KBM saat kualitas udara buruk, sementara Pemkot meminta TK hingga SMP menjalankan PJJ dengan beban tugas yang tidak berlebihan.
Palembang, IDN TImes - Kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diterapkan Pemerintah Kota Palembang di tengah kondisi kabut asap belum sepenuhnya membuat aktivitas belajar siswa beralih ke rumah.
Sejumlah sekolah swasta di Palembang masih menjalankan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka. Kondisi ini membuat penerapan pembelajaran di tengah buruknya kualitas udara menjadi berbeda antarsekolah.
Salah satu orang tua siswa, Fajar (35), mengatakan kedua anaknya bersekolah di sekolah swasta dengan kebijakan berbeda. Salah satu sekolah tetap menggelar KBM, sementara sekolah lainnya menerapkan PJJ.
"Peraturan sekolahnya berbeda. Satu tetap melakukan pembelajaran KBM, satunya PJJ dari rumah," ungkap Fajar kepada IDN Times, Rabu (9/9/2026).
1. Siswa yang sakit boleh belajar dari rumah

Kabut asap di kawasan Keramasan, akses menuju Tol Palembang-Indralaya. (IDN Times/Rangga Erfizal) Untuk sekolah yang masih menerapkan KBM, pembelajaran dilakukan dengan sejumlah penyesuaian. Siswa tetap masuk sekolah pada 9-11 September 2026, tetapi kegiatan belajar difokuskan di dalam ruangan.
Selain itu, siswa diwajibkan menggunakan masker selama berada di sekolah dan membawa masker cadangan.
Sekolah juga memberikan kelonggaran bagi siswa yang mengalami gangguan kesehatan, termasuk gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang diduga berkaitan dengan paparan kabut asap.
"Mereka tetap masuk, tapi bagi yang punya permasalahan ISPA atau sakit diperbolehkan belajar daring," ujarnya.
2. Orang Tua Pertanyakan KBM di Tengah Kabut Asap

Kabut asap menyelimuti Palembang, Minggu 23 Agustus 2026. Jembatan Ampera tampak samar dari kejauhan. (IDN Times/Rangga Erfizal) Kebijakan tersebut dinilai belum sepenuhnya menjawab kekhawatiran sebagian orang tua. Bagus (30), salah satu wali murid di sekolah swasta Palembang, mempertanyakan keputusan sekolah yang masih menjalankan KBM tatap muka saat kondisi udara sedang buruk.
Menurutnya, penerapan PJJ seharusnya bisa menjadi pilihan bagi seluruh siswa, bukan hanya mereka yang sudah mengalami gangguan kesehatan.
"Sebagai orang tua saya berharap sekolah melaksanakan PJJ. Anak saya sudah seminggu lebih mengalami batuk dan demam," ungkap Bagus.
Bagus mengatakan kondisi tersebut membuat dirinya khawatir jika anak tetap harus beraktivitas di luar rumah untuk mengikuti pembelajaran tatap muka.
Dia berharap sekolah mengikuti kebijakan pemerintah dengan menerapkan pembelajaran dari rumah selama kondisi udara di Palembang belum membaik.
"Sekarang demamnya sembuh, tapi batuknya belum sembuh," jelasnya.
3. Pemkot Palembang berlakukan PJJ untuk siswa TK-SMP

Kabut asap menyelimuti Palembang, Minggu 23 Agustus 2026. Jembatan Ampera tampak samar dari kejauhan. (IDN Times/Rangga Erfizal) Diberitakan sebelumnya, Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, mengambil sikap untuk menerapkan PJJ bagi siswa TK, SD dan SMP sederajat di Palembang. Langkah ini dilakukan menyikapi kabut asap yang semakin pekat melanda Palembang dalam beberapa waktu terakhir.
"Kesehatan anak-anak kita adalah hal yang tidak bisa ditawar. Berdasarkan pantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dan laporan pengetatan status siaga darurat bencana asap, serta meningkatnya temuan kasus ISPA di kalangan siswa, kami memutuskan untuk mengalihkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) fisik ke metode PJJ," ungkap Ratu Dewa.
Dewa menjelaskan, kebijakan tersebut tidak berarti kegiatan belajar dihentikan. Sekolah tetap diminta menjalankan pembelajaran dari rumah dengan menyesuaikan metode dan kondisi peserta didik.
Guru juga diminta tidak memberikan tugas secara berlebihan selama PJJ. Pembelajaran tetap diarahkan untuk memenuhi capaian kurikulum, tetapi beban siswa perlu diperhatikan mengingat mereka juga berada dalam situasi kabut asap.
"Kepala satuan pendidikan diinstruksikan untuk menjamin proses KBM tetap berjalan aktif, bermakna, dan terarah dengan memanfaatkan platform digital tanpa mengesampingkan capaian kurikulum," jelasnya.

















