Kualitas Udara Palembang Masuk Kategori Berbahaya, PM2.5 Tembus 618,6

- Kualitas udara Palembang berstatus berbahaya pada 6 September 2026 dini hari, dengan PM2.5 mencapai 618,6 mikrogram per meter kubik di Talang Betutu dan 375,1 di Musi 2.
- Kabut asap menyelimuti Sumatra Selatan pada 5–6 September; angin tenggara ke barat laut melintasi Palembang, sejalan dengan sebaran asap dari kawasan timur provinsi.
- Hingga 5 September 2026, BPBD Sumsel mendeteksi 30.721 hotspot, terbanyak pada Agustus. Penanganan dilakukan lewat patroli, pemantauan, modifikasi cuaca, dan pemadaman.
Palembang, IDN Times – Kualitas udara di Palembang mencapai kategori berbahaya pada Minggu (6/9/2026) dini hari. Berdasarkan data BMKG, konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Stasiun Talang Betutu mencapai 618,6 mikrogram per meter kubik, sedangkan di Stasiun Musi 2 tercatat puncaknya 375,1 mikrogram per meter kubik.
Lonjakan polusi terjadi bersamaan dengan kabut asap yang menyelimuti hampir seluruh wilayah Sumatra Selatan pada 5–6 September 2026. Pantauan regional Haze Situation juga mendeteksi sebaran asap di sebagian besar wilayah provinsi.
1. PM2.5 mencapai level berbahaya saat dini hari

Grafik riwayat PM2.5 6 September 2026 di Talang Betutu Palembang. (BMKG) Data riwayat PM2.5 menunjukkan kualitas udara mulai memburuk sejak tengah malam dan mencapai titik tertinggi antara pukul 00.00-04.00 WIB.
Stasiun Talang Betutu menjadi lokasi dengan konsentrasi tertinggi. Pada pukul 01.00 WIB, PM2.5 tercatat 618,6 mikrogram per meter kubik, kemudian masih bertahan pada kategori berbahaya hingga sekitar pukul 04.00 WIB sebelum berangsur menurun.
Sementara itu, Stasiun Musi 2 mencatat pola yang serupa. Konsentrasi PM2.5 meningkat dari kategori tidak sehat menjadi sangat tidak sehat, lalu mencapai 375,1 mikrogram pe meter kubik pada pukul 03.00 WIB. Setelah pukul 09.00 WIB, kualitas udara di kedua stasiun mulai membaik dan turun ke kategori sedang.
Perbedaan nilai antara Talang Betutu dan Musi 2 menunjukkan bahwa distribusi asap di Palembang tidak merata, dengan wilayah Talang Betutu mengalami paparan partikulat yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan Musi 2.
2. Arah angin membawa asap menuju Palembang

Sebaran asap di Sumsel, 5 September 2026 berdasarkan citra satelit NASA. (Dok. Manggala Agni) Citra satelit NASA pada 5 September 2026 juga memperlihatkan sebaran kabut asap yang membentuk pita memanjang dari Musi Banyuasin hingga Ogan Komering Ilir dan melintasi Kota Palembang. Wilayah yang meliputi Muara Medak dan Sinar Harapan (Musi Banyuasin), Tanah Pilih dan Mukut (Banyuasin), hingga Muara Padang, Sungai Pasir, Kecamatan Cengal, Penanggoan Duren, Jeramba Rengas, dan Lebung Itam di Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Pada periode yang sama, arah angin dominan bertiup dari tenggara menuju barat laut. Jalur pergerakan massa udara tersebut berimpitan dengan koridor sebaran asap yang melintasi Palembang, sementara BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai kategori berbahaya pada dini hari.
Jalur tersebut melintasi Palembang sehingga asap diduga terbawa dari kawasan karhutla di Kabupaten Ogan Komering Ilir, terutama wilayah Tanjung Lubuk dan Kecamatan Cengal yang telah mengalami kebakaran selama sekitar dua pekan.
Analisis spasial dari peta SiPongi memperlihatkan sebaran hotspot lebih banyak terkonsentrasi di wilayah timur Sumatra Selatan dibandingkan dengan Kota Palembang. Titik panas tampak tersebar di kawasan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Ogan Ilir.
3. BPBD Sumsel: Hotspot 2026 sudah mencapai 30.721 titik

Jumlah hotspot di Sumatra Selatan, Minggu 6 September 2026 (Sipongi Kemenhut) Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumatra Selatan, Sudirman, mengatakan hingga 5 September 2026 jumlah hotspot yang terdeteksi sepanjang tahun mencapai 30.721 titik. Dari total tersebut, Agustus menjadi bulan dengan hotspot tertinggi, yakni 17.088 titik.
“Peningkatan hotspot bisa terjadi meski penanganan karhutla terus dilakukan secara terpadu oleh tim gabungan. Kondisi ini menjadi perhatian bersama mengingat potensi karhutla masih tinggi di sejumlah wilayah,” ujarnya.
Menurut Sudirman, penanganan karhutla di Sumsel terus dilakukan melalui patroli darat dan udara, pemantauan hotspot, operasi modifikasi cuaca (OMC), serta pemadaman langsung di lokasi kebakaran sebagai upaya menekan meluasnya kebakaran hutan dan lahan.
















