Indonesia Sudah Punya Early Warning Karhutla, Api Tetap Meluas di 2026

- Indonesia memiliki sistem peringatan dini karhutla yang mampu memprediksi risiko hingga enam bulan dan memetakan wilayah rawan sampai tingkat desa, tetapi pemanfaatannya dinilai belum optimal.
- Kemarau 2026 dipengaruhi El Nino kuat dan IOD positif yang sinyalnya terdeteksi sejak April-Mei, sehingga tren kekeringan Agustus-Oktober telah diketahui lebih awal.
- Model Integrated Fire Management memprioritaskan desa rentan, terutama di Sumatra Selatan, Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah, namun implementasi dashboard serta SOP masih belum optimal.
Palembang, IDN Times — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali meluas pada 2026 terjadi ketika Indonesia sebenarnya telah memiliki sistem peringatan dini (early warning system) untuk memprediksi risiko kebakaran. Teknologi tersebut mampu membaca potensi karhutla hingga enam bulan sebelumnya, bahkan memetakan wilayah rawan sampai tingkat desa.
Temuan itu disampaikan dalam diskusi ilmiah Forum Intelektual Antar Disiplin (FIAD) yang menghadirkan akademisi dari IPB University, Universitas Indonesia, ITB, dan Kaleka. Para peneliti menilai tantangan utama bukan lagi pada kemampuan memprediksi kebakaran, melainkan pada pemanfaatan hasil prediksi sebagai dasar tindakan pencegahan.
1. El Nino dan IOD sudah terdeteksi sejak awal musim

Kepala Lembaga Riset Internasional Lingkungan dan Perubahan Iklim IPB University, Prof. Rizaldi Boer dalam diskusi ilmiah Forum Intelektual Antar Disiplin (FIAD). (Tangkapan Layar YouTube FIAD) Kepala Lembaga Riset Internasional Lingkungan dan Perubahan Iklim IPB University, Prof. Rizaldi Boer, menjelaskan bahwa musim kemarau 2026 dipengaruhi oleh dua fenomena iklim yang terjadi bersamaan, yaitu El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kombinasi keduanya membuat Indonesia mengalami kondisi yang jauh lebih kering dibandingkan dengan musim kemarau biasa.
Menurut Rizaldi, sinyal El Nino maupun IOD sudah mulai terbentuk sejak April hingga Mei. Perkembangannya terus dipantau melalui berbagai model prediksi iklim sehingga tren kekeringan menuju Agustus hingga Oktober sebenarnya telah diketahui jauh sebelum musim kemarau mencapai puncak.
“Kalau dia sama-sama positif ketemu dan terjadi bersamaan, maka itu akan terjadi kondisi kering yang sangat luar biasa," ujar Rizaldi.
Ia menambahkan, prediksi tersebut bukan hanya menggambarkan kondisi cuaca, tetapi juga menjadi dasar untuk menyusun strategi antisipasi sebelum kebakaran terjadi.
2. Ilmuwan nilai pencegahan masih tertinggal dari prediksi

Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan tengah melakukan pemadaman karhutla di Pangkalan Lampam, Ogan Komering Ilir, Rabu (19/8/2026). (Dok.Manggala Agni) Rizaldi menilai perkembangan teknologi telah memungkinkan Indonesia beralih dari pendekatan pemadaman menuju pencegahan berbasis risiko. Sistem yang dikembangkan mampu memprediksi potensi kebakaran dalam rentang 1–6 bulan ke depan dengan resolusi spasial hingga tingkat desa.
Menurutnya, informasi tersebut semestinya menjadi dasar mobilisasi sumber daya, mulai dari pengelolaan tata air gambut, penempatan masyarakat peduli api, hingga intervensi di wilayah dengan kerentanan tinggi sebelum api muncul.
“Kita harus bergerak dari paradigma reaktif ke paradigma proaktif. Tetapi sayangnya, pemanfaatan informasi ini tidak pernah kita optimalkan," kata Rizaldi.
3. Peta risiko karhutla sudah tersedia hingga level desa

Guru Besar Geografi Universitas Indonesia, Prof. Supriatna dalam diskusi ilmiah Forum Intelektual Antar Disiplin (FIAD). (Tangkapan Layar YouTube FIAD) Selain memprediksi kondisi iklim, Indonesia juga sebenarnya telah mengembangkan sistem pemetaan risiko kebakaran berbasis penginderaan jauh. Guru Besar Geografi Universitas Indonesia, Prof. Supriatna, mengungkapkan bahwa tim peneliti menyusun model Integrated Fire Management yang mengidentifikasi desa-desa prioritas pencegahan karhutla.
Model tersebut, kata Supriatna, menggabungkan berbagai variabel, mulai dari kedalaman gambut, fungsi kawasan hutan, tutupan lahan, distribusi hotspot, hingga faktor sosial ekonomi seperti kepadatan penduduk, tingkat kemiskinan, dan akses jalan.
Seluruh data kemudian diolah menjadi dashboard yang menunjukkan wilayah dengan tingkat kerentanan tertinggi.
“Kami langsung dapat desa-desa prioritas untuk dilakukan pencegahan, kebanyakan di Sumatra Selatan, Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah," ujar Supriatna.
Supriatna mengatakan dashboard tersebut juga telah diintegrasikan dengan BMKG dan dilengkapi dengan SOP sebagai bagian dari sistem peringatan dini karhutla, meski implementasinya belum berjalan secara optimal.

















