Transformasi Bisnis Berbuah Manis, Laba Pupuk Indonesia Naik 253 Persen

- Pupuk Indonesia mencatat laba bersih Rp8,51 triliun pada semester I 2026, naik 253 persen berkat transformasi bisnis, efisiensi operasional, dan dukungan pemerintah melalui agenda Danantara.
- Transformasi perusahaan diperkuat lewat diversifikasi bisnis non-subsidi, revitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun, serta pengembangan proyek metanol, clean ammonia, dan industrial support untuk memperkuat daya saing global.
- Distribusi pupuk bersubsidi meningkat 10,68 persen dengan sistem i-Pubers dan regulasi baru yang mempermudah akses petani, memastikan penyaluran cepat serta mendukung ketahanan pangan nasional.
Palembang, IDN Times - PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatatkan kinerja keuangan positif sepanjang enam bulan pertama 2026. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp8,51 triliun atau melonjak 253 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Pencapaian ini disebut sebagai hasil dari transformasi bisnis dan penguatan tata kelola perusahaan yang dijalankan sejalan dengan agenda Danantara Indonesia. Pupuk Indonesia juga menerapkan efisiensi operasional serta disiplin biaya sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan daya saing perusahaan.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan transformasi yang dijalankan mulai menunjukkan hasil nyata bagi kinerja perusahaan. Rahmad mengatakan berkat dukungan pemerintah melalui Danantara, transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil berupa capaian kinerja keuangan yang membanggakan.
"Dengan fondasi keuangan yang semakin kuat, kami optimistis pertumbuhan ini berkelanjutan, bukan hanya untuk kinerja perusahaan, tapi juga untuk kontribusi yang lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional," ujar Rahmad, dikutip dari siaran pers resmi, Kamis (16/7/2026).
1. Pendapatan dan EBITDA ikut melonjak

Selain mencatatkan laba bersih Rp8,51 triliun, Pupuk Indonesia juga membukukan pendapatan sebesar Rp59,67 triliun selama Januari-Juni 2026. Nilai tersebut tumbuh 51 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, EBITDA perusahaan meningkat 140 persen menjadi Rp14,28 triliun. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan volume produksi serta efisiensi biaya operasional yang dilakukan secara konsisten sebagai bagian dari transformasi bisnis.
Menurut Rahmad, perusahaan menerapkan efisiensi operasional dan disiplin biaya sesuai agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sehingga mampu menjaga pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan, terlepas dari fluktuasi harga komoditas.
2. Transformasi diperkuat lewat revitalisasi pabrik dan diversifikasi bisnis

Pupuk Indonesia menyebut transformasi perusahaan tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga memperkuat ketahanan bisnis agar tetap adaptif menghadapi dinamika ekonomi global.
Strategi tersebut dilakukan melalui diversifikasi sumber pendapatan, termasuk memperbesar kontribusi segmen non-subsidi dan produk non-pupuk. Perusahaan juga memperluas sumber pasokan serta skema kontrak bahan baku guna mengurangi dampak volatilitas harga komoditas global terhadap biaya produksi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pupuk Indonesia juga menjalankan transformasi menyeluruh melalui operational dan digital excellence, penguatan holding business streamlining, perbaikan distribusi public service obligation, hingga penguatan bisnis komersial. Upaya tersebut turut diperkuat dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 yang menjadi dasar peningkatan efisiensi operasional perusahaan.
Ke depan, perusahaan berkomitmen untuk merevitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun mendatang sejalan dengan arahan Danantara untuk mengoptimalkan portofolio aset BUMN. Selain itu, Pupuk Indonesia juga menyiapkan sejumlah proyek pengembangan, seperti bisnis metanol beserta turunannya, clean ammonia, hingga industrial support.
3. Distribusi pupuk bersubsidi makin mudah diakses petani

Transformasi yang dijalankan perusahaan juga diklaim memberikan dampak langsung bagi petani. Sepanjang 2025, Pupuk Indonesia menyalurkan 8,11 juta ton pupuk bersubsidi atau meningkat 10,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut didukung oleh implementasi sistem i-Pubers yang mempercepat proses penebusan pupuk, serta penerapan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang menyederhanakan tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi agar lebih cepat dan tepat sasaran.
Hingga 12 Juli 2026, Pupuk Indonesia telah menyalurkan 5,13 juta ton pupuk bersubsidi atau sekitar 52 persen dari total alokasi pemerintah sebesar 9,8 juta ton.
"Sejalan dengan agenda transformasi BUMN yang didorong Danantara, semua perubahan struktural ini bermuara pada satu hal, pupuk yang terjangkau dan lebih cepat sampai ke petani, dengan cost yang lebih sehat bagi negara serta menjaga ketahanan pangan," ungkap Rahmad.
Dengan kapasitas produksi nasional sekitar 14,8 juta ton per tahun, Pupuk Indonesia menyatakan memiliki kapasitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri sekaligus memanfaatkan peluang pasar global tanpa mengganggu pasokan bagi petani.
Rahmad menegaskan, fokus perusahaan bukan hanya mengejar laba yang tinggi, tetapi juga membangun fondasi bisnis yang kuat dalam jangka panjang.
"Bagi kami, keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, tapi memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah. Ketahanan bisnis kami bukan hanya soal bertahan dari gejolak industri, tapi juga soal memastikan pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani di akar rumput," pungkas Rahmad.




















