Siswi SMK di Linggau jadi Korban Pengeroyokan, Keluarga Lapor Polisi

- Seorang siswi SMK di Lubuk Linggau berinisial JE menjadi korban pengeroyokan oleh 13 remaja putri, dan video kejadian tersebut viral di media sosial.
- Kejadian bermula dari pesan WhatsApp yang mengundang korban ke lokasi, lalu ia dituduh mengajak berkelahi sebelum akhirnya dikeroyok hingga mengalami trauma.
- Keluarga korban telah mencoba mediasi dengan melibatkan tokoh masyarakat, namun gagal sehingga kasus dilaporkan ke Polres Lubuk Linggau dan kini dalam penyelidikan.
Lubuk Linggau, IDN Times - Seorang pelajar SMK Negeri Lubuk Linggau berinisial JE (15) diduga menjadi korban perundungan berupa pengeroyokan oleh belasan siswi lainnya. Peristiwa itu terjadi pada Rabu (8/7/2026) sekitar pukul 14.30 WIB di Danau Cewot, Kelurahan Lubuk Tanjung, Kecamatan Lubuk Linggau Barat I, Kota Lubuk Linggau.
Aksi kekerasan yang diduga dilakukan oleh 13 remaja putri tersebut terekam dalam sebuah video dan viral di media sosial. Dalam video yang beredar di media sosial, tampak korban JE terduduk dikelilingi beberapa orang.
Rambutnya dijambak beramai-ramai dengan kondisi pasrah. Akibat peristiwa tersebut, korban kini mengalami trauma dan pihak keluarga melaporkan kasus ini ke Polres Lubuk Linggau.
1. Diduga 13 orang pengeroyok merupakan siswi SMP dan SMA

Dengan ditemani ayahnya, Jon, korban datang ke Polres Lubuk Linggau pada Senin (13/7/2026) untuk melapor. Jon mengaku selaku orang tua dari JE terpaksa membawa kejadian ini ke Polres Lubuk Linggau, karena tidak ada niatan baik dari para pelaku.
"Sampai saat ini tidak ada niat baik dari mereka yang melakukan pengeroyokan. Sementara ada 13 orang yang di antaranya siswi SMP dan ada juga siswi SMA," ujarnya, Selasa (14/7/2026).
2. Berawal dari undangan WhatsApp saat korban berada di rumah

Menurut Jon, kronologi bermula ketika anaknya saat itu sedang berada di rumah sebelum menerima pesan melalui WhatsApp dari seorang temannya yang meminta korban datang ke lokasi. Setibanya di tempat kejadian, korban langsung ditanyai terkait dugaan mengajak seseorang berkelahi.
Namun, anaknya mengaku tidak pernah mengajak pihak lain untuk berkelahi. Saat hendak meninggalkan lokasi, korban diduga langsung mendapat intimidasi dan menjadi korban pengeroyokan.
"Anak saya dipanggil melalui WA untuk datang ke lokasi. Sesampainya di sana, dia dituduh mengajak berkelahi. Padahal berdasarkan pengakuan anak saya, tidak pernah ada ucapan seperti itu. Saat hendak pulang, justru anak saya dipukul dan dikeroyok," ungkapnya.
Jon menjelaskan hasil rontgen anaknya secara fisik dinyatakan sehat dan tidak ditemukan adanya cedera serius, tetapi secara psikis mengalami trauma akibat peristiwa tersebut.
"Anak saya dijambak hingga terduduk. Awalnya hanya satu orang, kemudian yang lain ikut mengeroyok," ucapnya.
3. Keluarga korban coba lakukan mediasi namun tak ada itikad baik

Jon mengaku hingga saat ini belum ada itikad baik dari pihak terduga pelaku maupun keluarganya. Bahkan sudah berupaya menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan dengan melibatkan tokoh masyarakat dari lima RT, yakni ketua RT Watas, Kayu Ara, Lubuk Tanjung, Tanjung Indah, dan Pelita Jaya. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil.
"Kami sudah memberi waktu sejak hari kejadian sampai malam tadi. Bahkan lima RT sudah mencoba memediasi, tapi mereka bilang tidak ada penjelasan dari keluarga terduga pelaku. Karena sampai saat ini tidak ada niat baik dari pihak pelaku, akhirnya kami datang ke Polres Lubuk Linggau untuk melapor," jelasnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Lubuk Linggau AKP M. Kurniawan Azwar, menjelaskan laporan sudah diterima dan ditindaklanjuti.
"Saat ini sedang kami tindaklanjuti dan dalam proses penyelidikan. Kita akan memproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku," ujarnya.




















