Petani Sumsel Punya Lahan Luas tapi Aturan Pupuk Subsidi Tak Relevan

- Pemerintah Sumsel menyoroti ketimpangan alokasi pupuk subsidi dibanding Lampung, padahal luas lahan pertanian dan produksi padi di Sumsel jauh lebih besar.
- Kebijakan pembatasan pupuk subsidi per kartu keluarga dinilai tidak relevan di Sumsel karena banyak petani mengelola lahan hingga empat hektare dalam satu KK.
- Dari sekitar 980 ribu petani di Sumsel, hanya 30 persen yang menerima pupuk subsidi, sementara data penerima masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah.
Palembang, IDN Times - Pemerintah Sumatra Selatan (Sumsel) menyoroti ketimpangan alokasi pupuk subsidi yang diterima daerah dibanding wilayah tetangganya Lampung. Padahal, luas lahan pertanian dan produksi padi Sumsel dinilai lebih besar.
Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Sumsel R Bambang Pramono mengatakan luas lahan sawah dan tanaman padi di Lampung hanya sekitar 380 ribu hektare (ha). Sementara Sumsel mencapai 515 ribu ha atau lebih besar sekitar 150 ribu ha.
"Masalah petani kita mengelola sawah lebih besar dibanding petani di Lampung maupun di Jawa. Di Jawa, rata-rata petani mengelola 0,5 ha. Sedangkan di Sumsel bisa berkali-kali lipat hingga 4 ha satu kartu keluarga (KK)," kata Bambang, Selasa (12/5/2026).
1. Satu petani bisa kelola 4 ha lahan

Bambang menambahkan, kebijakan pupuk subsidi yang dibatasi berdasarkan KK dinilai kurang relevan diterapkan di Sumsel. Sebab, banyak petani yang memiliki lahan pertanian lebih dari dua hektare dalam satu KK.
"Terlebih mereka petani yang mengelola lahan pasang surut, bisa mencapai 4 ha," ujarnya.
2. Hanya 30 persen petani dapat subsidi di Sumsel

Luasan lahan yang lebih besar, penerimaan pupuk subsidi di Sumsel dinilai tak sebanding dengan wilayah lain seperti Lampung yang memiliki luas lahan pertanian yang lebih kecil.
Di Lampung, jumlah petani yang terdaftar dalam sistem mencapai lebih dari 1 juta orang dan hampir seluruhnya mendapat alokasi pupuk subsidi. Sedangkan di Sumsel, dari sekitar 980 ribu petani yang tercatat, hanya sekitar 321 ribu petani yang memperoleh alokasi pupuk subsidi.
"Artinya hanya sekitar 30 persen petani di Sumsel yang mendapatkan pupuk subsidi, padahal luas lahan kita lebih besar," jelasnya.
3. Produksi padi dinilai lebih tinggi namun alokasi pupuk subsidi rendah

Bambang menambahkan, persoalan pupuk subsidi ini terletak pada basis data petani penerima subsidi yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan jumlah petani penerima pupuk subsidi di Sumsel tidak sebanding dengan luas lahan pertanian yang dimiliki.
Selain luas lahan, kontribusi produksi pangan Sumsel juga dinilai lebih tinggi dibanding Lampung. Pada 2025 lalu, produksi padi Sumsel mencapai sekitar 3,6 juta ton, sedangkan Lampung masih berada di kisaran 3 juta ton.
"Produksi kita lebih besar, luas lahan juga lebih luas, tetapi alokasi pupuk subsidi justru lebih kecil. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita," jelasnya.



















