Pemadaman Karhutla Terkendala Medan di OKU Timur dan Banyuasin

- Kebakaran hutan dan lahan melanda OKU Timur serta Banyuasin, Sumatra Selatan, dengan total area terdampak mencapai sekitar 17 hektare dan proses pemadaman masih terus berlangsung.
- Vegetasi rapat seperti kayu gelam di Cempaka dan semak belukar di Sembawa membuat api cepat merambat serta menyulitkan akses petugas dalam upaya pemadaman.
- Meski pantauan udara menunjukkan kondisi sudah bersih, tim darat tetap memeriksa lapisan bawah tanah untuk memastikan tidak ada sisa api demi mencegah kebakaran kembali.
Palembang, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih melanda dua wilayah di Sumsel, yakni OKU Timur dan Banyuasin. Kebakaran pertama terjadi di Desa Gunung Batu, Cempaka, dengan lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 2 hektare (ha) dengan kondisi tanah gambut dan vegetasi berupa semak belukar, tegakan gelam dan akasia.
Kedua, wilayah Desa Pulau Muning, Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin. Lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 15 ha dengan luas yang berhasil dipadamkan sekitar 5 ha.
"Sejauh ini proses pemadaman masih berlangsung di dua lokasi, yakni Sembawa Banyuasin dan Cempaka OKU Timur yang dalam proses pemadaman," ungkap Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra, Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, Rabu (15/7/2026).
1. Api dapat merambat karena bahan bakar yang cepat terbakar

Ferdian menjelaskan, proses pemadaman di Kecamatan Cempaka membutuhkan waktu lebih lama karena vegetasi di lokasi didominasi oleh tegakan kayu gelam yang rapat. Kondisi tersebut membuat api lebih mudah merambat, sehingga petugas harus bekerja secara cermat dan berhati-hati saat menjinakkan kobaran api.
"Kondisi vegetasinya berupa tegakan kayu gelam yang rapat. Akses personel untuk mencapai titik api juga cukup berat, sehingga menjadi bahan bakar yang sangat potensial. Karena itu, tim harus benar-benar berhati-hati dan cermat saat melakukan pemadaman," jelasnya.
2. Semak belukar dan purun di lokasi kebakaran Banyuasin

Ferdian menambahkan, kebakaran di Desa Pulau Muning, Kecamatan Sembawa, Banyuasin, terjadi di lahan APL milik masyarakat dengan vegetasi yang didominasi semak belukar, purun, galam, dan tanaman sawit di atas tanah mineral.
Menurutnya, banyaknya material yang mudah terbakar serta luasnya area yang terdampak membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama. Petugas harus memastikan seluruh titik api benar-benar padam agar tidak kembali menyala atau meluas ke area lain.
"Lokasi memiliki bahan bakar yang cukup banyak dan areanya juga luas. Karena itu, proses pemadaman harus dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan api tidak menyebar atau menyala kembali," jelasnya.
3. Kebakaran dinyatakan bersih dari udara

Ia menegaskan bahwa keselamatan personel selalu menjadi prioritas utama dalam setiap operasi pemadaman. Sebelum petugas masuk ke lokasi, tim terlebih dahulu melakukan size-up untuk menilai kondisi lapangan dan potensi bahaya.
"Keselamatan responder adalah yang utama. Karena itu, sebelum terjun ke lokasi, selalu ada tim size up yang bertugas menilai sumber air, kondisi bahan bakar, akses masuk, hingga jalur evakuasi apabila terjadi eskalasi kebakaran," ujarnya.
Meski dari pantauan udara kondisi kebakaran di Sembawa sudah dinyatakan bersih, petugas di lapangan masih melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan tidak ada api yang tersisa, terutama di lapisan bawah permukaan tanah.
"Dari udara, kondisi lokasi sudah terlihat clear. Namun, di darat kami tetap memastikan tidak ada api ataupun potensi api yang masih tersimpan di lapisan bawah, sehingga tidak memicu kebakaran kembali," katanya.



















