Rekor Baru Hotspot Sumsel: Hari Ini Sentuh 3.039 Titik, OKI Membara

- Hotspot Sumsel mencapai rekor 3.039 titik pada 17 September 2026, naik dari 2.545 sehari sebelumnya; akumulasi September 49.591 titik menjadi tertinggi sejak 2015.
- OKI menyumbang hotspot terbanyak dengan 1.034 titik dan mencatat 14 dari 63 kejadian karhutla hasil patroli 16 September, diikuti Muba dengan 684 titik.
- Kabut asap menyelimuti Sumsel, menurunkan jarak pandang Bandara SMB II Palembang menjadi 0,8 km; Palembang mencatat ISPU sangat tidak sehat 234 PM2,5.
Ogan Komering Ilir, IDN Times - Jumlah titik panas atau hotspot di Sumatra Selatan terus melonjak tajam dalam hitungan hari. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumsel melaporkan jumlah hotspot sudah tembus di angka 3.039 titik berdasarkan data Sipongi pada Kamis (17/9/2026) pukul 08.30 WIB.
Angka tersebut melesat naik dari sehari sebelumnya, yakni 2.545 titik pada Rabu (16/9/2026) pukul 05.00 WIB. Hingga 17 September, angka tersebut melampaui catatan tertinggi pada Agustus sekaligus sepanjang 2026. Bahkan, secara akumulatif, jumlah hotspot sepanjang 1–17 September 2026 menjadi yang tertinggi sejak 2015 dengan mencatat angka 49.591 titik.
1. OKI duduki klasemen puncak sumbang hotspot dan karhutla

Sebaran hotspot Sumsel pada Kamis (17/9/2026). (Sok SiPongi Kemenhut) Kali ini, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) masih menjadi daerah dengan hotspot terbanyak, yakni 1.034 titik, disusul Musi Banyuasin (Muba) dengan 684 titik. Banyuasin 379 titik, Muara Enim 299 titik, Musi Rawas Utara 149 titik, Ogan Komering Ulu (OKU) Timur 143 titik, Musi Rawas 109 titik, OKU 71 titik, dan OKU Selatan 70 titik.
Tingginya angka hotspot ini bersama dengan banyaknya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mencapai 63 kejadian hasil patroli 16 September. Kabupaten OKI masih berada di atas klasemen kejadian Karhutla terbanyak, yakni 14 titik.
2. Jarak pandang Bandara SMB II Palembang hanya 0,8 Km

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. (Dok. IDN Times) Sementara itu, berdasarkan pantauan Regional Haze Situation, sebaran kabut asap terjadi di seluruh wilayah Sumsel berdasarkan asmc.asean.org. Kondisi ini membuat jarak pandang Bandara SMB II Palembang hanya 0,8 km pada 16 September pukul 08.00 WIB.
Akibat kabut asap yang makin pekat, DLHP Sumsel pada Kamis (17/9/2026), melaporkan kondisi kualitas udara beberapa wilayah Sumsel terpantau berada pada kategori sedang, tidak sehat, bahkan sangat tidak sehat. Kota Palembang lagi-lagi berada di zona merah Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dengan angka 234 PM2,5. Disusul Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dengan ISPU 227 PM2,5.
Selanjutnya, untuk wilayah di zona kuning atau kategori tidak sehat, yakni Ogan Ilir dengan ISPU 167, Prabumulih dengan ISPU 149, Muba dengan ISPU 161, Musi Rawas dengan ISPU 176, dan Lahat dengan ISPU 119.
3. Sebagian besar hotspot terdeteksi di wilayah gambut

Tim Manggala Agni saat melakukan pemadaman di tengah lahan terbakar di SM Padang Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan. (Dok. Manggala Agni) Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, melaporkan, tingginya jumlah titik panas tersebut menjadi perhatian BPBD Sumsel dalam upaya mencegah dan menangani potensi karhutla. Terlebih saat ini Sumsel memasuki puncak musim kemarau di El Nino yang panjang.
"Keberadaan hotspot di sejumlah wilayah, terutama daerah yang memiliki kawasan gambut, menjadi salah satu indikator yang perlu diwaspadai karena dapat berkaitan dengan potensi terjadinya karhutla," ujarnya
BPBD Sumsel memberikan perhatian khusus terhadap daerah yang memiliki kawasan gambut. Pasalnya, sebagian besar hotspot berada di lahan gambut. Beberapa daerah bahkan memiliki jumlah hotspot gambut lebih tinggi dibandingkan titik panas di lahan mineral.
"Tingginya jumlah hotspot membuat pemerintah daerah dan tim penanggulangan karhutla memperkuat langkah pencegahan dan penanganan kebakaran. Upaya tersebut terutama difokuskan pada wilayah yang memiliki kawasan gambut dan jumlah titik panas tinggi," ucap Sudirman.


















