Antrean Solar di Sumsel Makin Parah, Palembang-Jambi dari 2 Hari jadi 4 Hari

- Antrean BBM di sejumlah SPBU memperpanjang perjalanan sopir truk antarkota; Nawa Junaidi menyebut durasi perjalanan yang biasanya dua hari bisa menjadi empat hari.
- Waktu antre BBM normal sekitar 1,5 jam kini dapat mencapai dua hingga tiga jam, termasuk di Jalintim; sopir memilih SPBU 24 jam demi menyesuaikan jadwal berkendara dan istirahat.
- Pemprov Sumsel mencatat hambatan distribusi FAME untuk Biosolar, sementara Pertamina Patra Niaga menyebut kenaikan tajam permintaan solar pada Agustus dan September 2026 turut memicu antrean.
Palembang, IDN Times - Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Sumatra Selatan (Sumsel) tak hanya membuat pengemudi harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM). Bagi sopir truk antarkota, kondisi itu ikut memperpanjang waktu perjalanan hingga berhari-hari.
Nawa Junaidi (49), sopir truk asal Muaro Bungo, Jambi, mengaku antrean BBM seperti itu sudah ditemuinya sejak beberapa bulan terakhir. Setiap kali mengantar barang ke Palembang, ia harus kembali berhadapan dengan antrean kendaraan di SPBU.
Sebagai sopir truk, perjalanan menuju Palembang sebenarnya sudah menjadi rutinitas Nawa. Namun, waktu yang harus dihabiskan di jalan kini semakin panjang karena ia perlu menyesuaikan perjalanan dengan kondisi antrean BBM.
“Kalau terganggu kita kalau biasanya di jalan dua hari ini bisa empat hari di jalan,” ungkap Nawa kepada IDN Times di SPBU Yayasan Palembang, Senin (14/9/2026).
1. Antrean terasa semakin panjang

Nawa Junaidi (49), sopir truk asal Muaro Bungo, Jambi harus mengantre BBM dikarenakan kondisi Solar yang langka (IDN Times/Rangga Erfizal) Menurut Nawa, waktu yang terbuang cukup terasa ketika antrean terjadi di SPBU. Dalam kondisi normal, antrean yang ia hadapi bisa diselesaikan sekitar 1,5 jam. Namun, waktu tunggu dapat bertambah menjadi dua hingga tiga jam.
“Antrean sama aja di Jalintim juga seperti itu,” jelasnya.
Ia mengatakan kondisi tersebut tidak hanya ditemuinya di satu SPBU. Antrean serupa juga dapat terjadi ketika melintas di Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatra, sehingga pengemudi harus memperhitungkan kembali waktu perjalanan.
Bagi Nawa, bertambahnya waktu di jalan juga berarti semakin banyak waktu yang harus disiapkan untuk perjalanan dan beristirahat. Bahkan, ketika antrean terjadi di dalam kota, waktu pengemudi bisa habis hanya untuk menunggu.
"Ada di kota larangan, kadang-kadang habis waktu kalau harus mengisi malam hari,” jelasnya.
2. Sopir pilih SPBU yang buka 24 jam

Nawa Junaidi (49), sopir truk asal Muaro Bungo, Jambi harus mengantre BBM dikarenakan kondisi Solar yang langka (IDN Times/Rangga Erfizal) Pengalaman serupa dirasakan Ribut (46), pengemudi truk lainnya yang mengantre di SPBU Sekojo Palembang. Ia menyebut antrean di SPBU belakangan justru semakin panjang dan belum menunjukkan tanda-tanda sepi.
Menurutnya, pengemudi truk tidak selalu bisa memilih waktu untuk mengisi BBM. Mereka harus membagi waktu antara berkendara, mengisi bahan bakar, dan beristirahat.
Karena itu, Ribut lebih memilih SPBU yang beroperasi selama 24 jam. Pilihan tersebut dinilai lebih sesuai dengan pola perjalanan pengemudi truk yang waktunya tidak selalu sama.
“Antrean tak kunjung sepi, malah setiap ke SPBU semakin panjang. Sebagai pengemudi truk, pasti bosan harus antre panjang, makanya kita lebih memilih untuk mengakses SPBU yang 24 jam. Kalau SPBU yang buka malam gak pas waktunya. Karena kita harus jalan dan istirahat,” bebernya.
3. Pemprov Sumsel soroti pasokan FAME

Pengisian BBM di SPBU Veteran Palembang pasca kenaikan BBM Non-Subsidi yang berlaku pukul 00.00 WIB, Sabtu (18/4/2026) (IDN Times/Rangga Erfizal) Keluhan para sopir tersebut muncul di tengah antrean Biosolar yang sebelumnya disoroti Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan. Gubernur Sumsel Herman Deru menyebut persoalan pasokan Fatty Acid Methyl Ester (FAME), bahan yang digunakan dalam proses pembuatan Biosolar, menjadi salah satu kendala distribusi.
“Jadi ketika kita tanyakan dengan Pertamina Patra Niaga, ternyata jujur memang ada. Mereka ada hambatan di distribusi FAME-nya, jadi sebelum di-blending menjadi Biosolar yang akan didistribusikan ke SPBU,”ujarnya.
Sementara itu, Region Manager Retail Sales PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Ayub Ritto, mengatakan antrean juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan solar pada Agustus dan September 2026.
“Di bulan Agustus dan September ini, kami dari Pertamina melihat ada beberapa peningkatan permintaan khusus solar. Ini meningkat cukup tajam,” katanya.


















