Dolar AS Rp18.175 Tertinggi Sejak 1998: Gelombang PHK Bayangi Sumsel

Pada 28 Oktober 2026, dolar AS menembus Rp18.175, menjadi nilai tertinggi sejak pascareformasi 1998.
Pengamat ekonomi Sumatra Selatan Sri Rahayu menyebut pelemahan rupiah berkepanjangan dapat menekan daya beli masyarakat.
Kondisi tersebut juga berpotensi menurunkan volume produksi industri dan memicu gelombang PHK massal, termasuk di Sumatra Selatan.
Palembang, IDN Times - Nilai tukar mata uang Indonesia terhadap dolar AS pada 28 Oktober 2026 kembali tertekan. Bahkan saat momen Sumpah Pemuda, dolar AS tembus Rp18.175 dan angka itu merupakan nilai tertinggi pasca Reformasi 1998. Kondisi tersebut mengancam gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) termasuk di Sumatra Selatan.
"Saat terjadi pelemahan rupiah yang berkepanjangan, potensi menekan daya beli masyarakat, menurunkan volume produksi industri, hingga memicu gelombang PHK massal," ujar Pengamat Ekonomi Sumatra Selatan Sri Rahayu, dikutip Rabu (28/10/2026).
1. Perilaku kriminal potensi naik saat rupiah lemah

ilustrasi dolar AS (unsplash.com/Viacheslav Bublyk) Sementara kata Kepala Badan Pusat Statistik Sumsel Moh. Wahyu Yulianto, kondisi ekonomi yang kian anjlok berpotensi menambah pengangguran di Indonesia. Jika banyak masyarakat tak memiliki pendapatan dan pekerjaan, maka tingkat kriminalitas juga berpengaruh.
"Pengangguran yang naik dan meningkat secara signifikan, tidak hanya akan menyebabkan gelombang PHK besar-besaran di semua sektor, tetapi juga bikin perilaku kriminal di publik makin banyak dan membahayakan," jelasnya.
2. Rupiah tertekan berdampak pada kerugian usaha dan pendapatan pajak

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt) Dia menyampaikan bahwa apabila rupiah terus-menerus melemah, tentu akan terjadi deflasi akibat daya beli masyarakat yang menurun. Jika deflasi berlangsung lama, pemilik usaha akan mengalami kerugian. Kemudian, lanjut dia, pelaku usaha berpotensi sulit membayar cicilan dan timbul situasi cicilan kredit macet. Kemudian memicu investor menarik kembali modal.
"Nah, saat melihat aktivitas jual beli bisnis merosot dan melandai terus-menerus, pendapatan negara pun menurun karena pajak yang dibebankan kepada pengusaha atau masyarakat juga menurun. Akibatnya, aktivitas perekonomian negara mengalami resesi," jelas dia.
3. Pemkot sebut pangan dan ekonomi stabil saat rupiah krisis

Petugas menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta, Senin (26/8/2024). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto Di balik ahli ekonomi membahas potensi krisis keuangan saat rupiah melemah, Pemerintah Kota Palembang justru mengklaim kondisi ekonomi dan pangan daerah dalam situasi terkendali. Menurut Sekretaris Daerah Kota Palembang Aprizal Hasyim, masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan pasokan dan harga pangan.
Sebab kata Aprizal, pemerintah daerah terus berkoordinasi intensif dengan Perum Bulog dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok. Dia menjelaskan, berdasarkan pantauan pemerintah dan dinas perdagangan di lapangan, harga berbagai komoditas sembako dan sayur-mayur secara keseluruhan disebut masih relatif stabil.
"Kebutuhan sembako, terutama beras, bisa aman sampai akhir Desember 2026," ujarnya.























