Indonesia Krisis Dokter Jantung Anak di Tengah 50 Ribu Bayi Derita Penyakit Bawaan

Indonesia kekurangan dokter jantung anak: kebutuhan sekitar 400 dokter, namun tersedia kurang dari 100 orang dan 60 persen terkonsentrasi di Jabodetabek.
Dari sekitar 5 juta kelahiran tahunan, diperkirakan 50 ribu bayi mengalami PJB; 12.500 di antaranya kritis dan membutuhkan penanganan segera.
Kapasitas layanan baru menangani 20 persen kasus akibat kekurangan SDM. IDAI mendorong deteksi dini melalui Cek Kesehatan Gratis serta pemenuhan nutrisi ibu hamil.
Palembang, IDN Times - Ketua Unit Kerja (UKK) Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Rizky Ardiansyah M.Ked, Sp.A, Subsp. Kardio(K) mengakui, Indonesia kini mengalami krisis dokter spesialis jantung anak. Padahal, berdasarkan data IDAI, per tahun sekitar 50 ribu anak terancam mengalami penyakit jantung bawaan (PJB).
"Indonesia butuh 400 dokter jantung anak, sementara saat ini yang ada tidak sampai 100 orang. Dari jumlah tersebut, 60 persen ada di Jabodetabek, jadi untuk di daerah tidak tertangani karena tidak dirujuk dan ahlinya tidak ada di wilayah tersebut," ujarnya saat diwawancarai di sela kegiatan Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-14 dan Peluncuran Buku Panduan Gizi untuk Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan, di Hotel Novotel Palembang, Senin (26/10/2026).
1. Terdata sekitar 20 persen dari 50 ribu bayi alami PJB kritis

Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-14 dan Peluncuran Buku Panduan Gizi untuk Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan, di Hotel Novotel Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Rizky menyampaikan, PJB masih menjadi masalah besar di Indonesia karena kondisi itu tidak selalu langsung terdeteksi saat bayi lahir. Kata dia, berdasarkan data dunia, 1 dari 100 bayi yang lahir mengalami penyakit jantung bawaan.
"Jika melihat data kelahiran di Indonesia, 5 juta anak per tahun. Artinya, 50 ribu anak mengalami penyakit jantung bawaan. Di antaranya sekitar 20-25 persen (12.500 anak) mengalami PJB kritis yang perlu penanganan segera, baik nonbedah maupun bedah," kata dia.
Melihat data tersebut, Rizky menyampaikan, perlu adanya deteksi dini pada bayi, termasuk mengenali gejala yang kerap tidak disadari oleh para orang tua.
"Kebanyakan penyakit jantung bawaan sudah dimulai sejak di dalam kandungan, tapi baru diketahui saat sudah lahir," jelasnya.
2. Penyakit jantung bawaan bisa terdeteksi saat dalam kandungan

Ilustrasi ibu hamil (magnific.com/yanalya) Menurut riset, kata Rizky, penyebab banyak bayi yang mengalami penyakit jantung bawaan belum diketahui pasti. Namun, memang sejumlah faktor memengaruhi, terutama penyebab risiko janin pada ibu hamil yang tidak mendapatkan nutrisi yang optimal saat proses pertumbuhan mulai dari awal kehamilan hingga melahirkan.
"Banyak faktor risiko yang membuat janin pada ibu hamil mengalami penyakit jantung bawaan. Faktor genetik menjadi salah satu faktornya; asap, nutrisi ibu, dan lingkungan berpengaruh terhadap pertumbuhan janin, terutama jantung," jelasnya.
Rizky mengungkapkan, dengan fasilitas yang dimiliki saat ini, Indonesia baru bisa menangani 20 persen kasus dari 50 ribu anak tersebut yang bisa ditangani di fasilitas kesehatan mulai dari tingkat pertama hingga RS rujukan.
"Ya, faktor utamanya karena kekurangan SDM," kata dia.
3. IDAI dorong PJB dalam program CKG

Agenda program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar Kementerian Kesehatan bersama Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) pada Senin (26/10/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit) Rizky menjelaskan bahwa para orang tua perlu mengenali gejala penyakit jantung bawaan yang bervariasi. Tanda awal yang bisa dikenali adalah bibirnya membiru dan sesak napas ketika baru lahir.
"Anak yang terlambat terdeteksi akan mengalami kesulitan menaikkan berat badan. Jika diatasi dengan bedah atau kateterisasi jantung, berat badan anak akan lebih mudah naik," katanya.
Pencegahan dini PJB lanjut dia, dimulai dari 1000 hari pertama kehamilan. Ibu hamil harus mendapatkan nutrisi yang baik agar bayi tidak mengalami gangguan pertumbuhan, terutama pada jantung. Ibu hamil harus mengonsumsi mikronutrien seperti asam folat dan zat besi yang terdapat di antaranya pada susu, daging, dan sumber protein lainnya.
Rizky menegaskan bahwa anak yang sudah terdiagnosis penyakit jantung bawaan akan terdiagnosis bisa diatasi atau tidak bisa bertahan dan meninggal. Penyakit jantung bawaan jenis ringan atau yang bisa diatasi memiliki tingkat keberhasilan 80-90 persen jika ditangani dengan baik. Tapi jika kompleks, sering terjadi kasus kematian pada usia 1 bulan pertama, bahkan pada minggu pertama.
"Kami (IDAI) mendorong Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk bayi-bayi di fasilitas kesehatan agar tidak terlambat terdiagnosis. Selain itu, pemerintah mesti menambah fasilitas dengan bertambahnya kesadaran orang tua untuk membawa anak melakukan CKG," jelasnya.






















