Ekonomi Syariah Sumsel Terkendala Penetrasi Layanan Keuangan

- Ekonomi syariah Sumatra Selatan terkendala rendahnya penetrasi layanan keuangan syariah; nasabah bank syariah baru sekitar 8 persen dari total penduduk Muslim.
- Gubernur Herman Deru mendorong penguatan ekonomi syariah dari aktivitas daerah dengan keterlibatan pelaku usaha, masyarakat, dan dukungan khusus kepala daerah.
- KNEKS menilai Sumsel berpotensi mengembangkan ekonomi syariah lewat pertanian, perkebunan, industri, perdagangan, dan UMKM, dengan fokus menciptakan nilai tambah serta menangkap pasar halal global.
Palembang, IDN Times - Perkembangan ekonomi syariah di Sumatra Selatan masih mengalami tantangan dan terkendala oleh sejumlah persoalan. Salah satunya adalah dari sisi penetrasi layanan keuangan syariah. Padahal secara mayoritas, warga Sumsel termasuk dalam jumlah muslim terbanyak di Indonesia.
"Contohnya, jumlah nasabah bank syariah di Sumsel baru mencapai sekitar 8 persen dari total penduduk muslim. Begitu juga dalam skala nasional, pasti ada sesuatu yang salah di dalam cara kita bersosialisasi. Coba bayangkan, berarti 8 persen dari 9 juta orang ini hanya berkisar di 800 atau 700 ribu yang menjadi nasabah bank syariah,” kata Gubernur Sumsel Herman Deru dalam agenda Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) di Palembang, dikutip Minggu (11/10/2026).
1. Pengembangan ekonomi syariah di Sumsel tak mudah

Gubernur Sumsel Herman Deru (IDN Times/Rangga Erfizal) Pengembangan ekonomi syariah, kata Deru, tidak harus langsung diarahkan pada orientasi ekspor. Penguatan dapat dimulai dari aktivitas ekonomi di masing-masing daerah dengan melibatkan pelaku usaha dan berbagai elemen masyarakat.
“Kita tahu bahwa ini tidak mudah, maka diperlukan dorongan khusus dari para kepala daerah. Mungkin kita belum berorientasi ekspor, tapi kita minimal di dalam berekonomi di daerah kita masing-masing bagaimana membangkitkan ekonomi syariah,” katanya.
2. Sektor pertanian disebut mampu mengembangkan ekonomi syariah

ilustrasi pertanian (magnific.com/wirestock) Sementara itu, menurut Direktur Eksekutif KNEKS, Sholahudin Al Aiyub menilai Sumsel justru berpotensi menjadi wilayah berbasis produksi ekonomi syariah. Apalagi, katanya, Sumsel memiliki warga mayoritas Muslim yang diyakini mampu mengembangkan ekosistem keuangan syariah di berbagai sektor.
"Terutama sektor pertanian, perkebunan, industri pengolahan, perdagangan, UMKM, dan komoditas lainnya," ujarnya.
Lebih lanjut, kata Aiyub, tantangan berikutnya adalah mengonversi berbagai sektor tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah. Pengembangan ekonomi syariah, jelasnya, tidak cukup hanya mengandalkan besarnya potensi yang dimiliki.
“Itulah agenda besar KNEKS dan KDEKS ke depan. Tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi juga di kabupaten/kota di Sumsel,” kata dia.
3. Inklusi keuangan syriah dapat berkembang di negara non muslim

Pembukaan Pekan Ekonomi Syariah di Hotel Claro, Makassar, Senin (25/3/2024). (IDN Times/Asrhawi Muin) Optimis Sumsel mampu menopang ekonomi syariah, lanjut Aiyub, yang turut didukung oleh peningkatan permintaan produk halal di pasar global yang saat ini mencapai sekitar 3 triliun dolar AS. Dia menyampaikan, besarnya pasar tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim.
Melainkan, sejumlah negara non-Muslim seperti Brasil, China, India, Amerika Serikat, dan Turki juga berhasil jadi pemasok berbagai kebutuhan pasar halal global
“Ini menunjukkan bahwa inklusivitas ekonomi dan keuangan syariah luar biasa. Negara-negara seperti Brasil, China, Amerika Serikat dan lainnya (penyedia permintaan barang di pasar syariah) pandai menangkap pasar,” jelasnya.























![[OPINI] Menjalani Tugas dengan 'Enjoy', Bukan Nirempati tapi Menjaga Waras dalam Kerja Penuh Tekanan](https://image.idntimes.com/post/20260823/whatsapp-image-2026-08-23-at-07_ba9d8e4f-23bc-47bf-97d1-1d68726a7e32.jpeg)