Palembang, IDN Times – BPBD Sumatra Selatan (Sumsel) hingga 13 Juni 2026 mencatat 154 kejadian karhutla dengan luas terbakar 305,39 hektare. Bahkan pada Januari–April 2026 saja, luas karhutla telah mencapai 182,54 hektare, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2024 dan 2025.
Kondisi ini menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel, menunjukkan peristiwa karhutla tidak dapat terus diperlakukan sebagai kejadian musiman yang selesai setelah api dipadamkan.
Tingginya kasus karhutla di Sumsel ini ditengarai ada pola yang berulang dan ada persoalan ekologis yang belum diselesaikan. Maka itu lewat aksi simbolik 'Sumsel Lumbung Asap di lahan yang terbakar, Walhi menyampaikan kritik terhadap cara pandang dan penangan karhutla yang selama ini masih cenderung menempatkan kebakaran sebagai persoalan musim kemarau atau bencana alam semata.
