Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sumsel Diguyur Hujan, Terpantau Karhutla 5 Kejadian Hotspot Nihil

Kota Palembang
Sumsel Diguyur Hujan, Terpantau Karhutla 5 Kejadian Hotspot Nihil
Laporan situasi Karhutla pada 23 Juli 2026. (Dok. BPBD Sumsel)
Intinya Sih
  • Hujan seharian di Sumsel membuat jumlah hotspot nihil dan hanya lima titik karhutla terpantau di beberapa kabupaten, menandakan penurunan signifikan aktivitas kebakaran.
  • BPBD Sumsel menyebut hujan meningkatkan kelembapan tanah dan mengisi cadangan air, namun masyarakat tetap diminta waspada karena musim kemarau masih berlangsung.
  • BMKG menjelaskan hujan dipicu oleh aktivitas MJO, suhu laut hangat, serta Operasi Modifikasi Cuaca yang membantu memperkuat pembentukan awan hujan di wilayah Sumsel.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel melaporkan situasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumsel mengalami perubahan signifikan usai diguyur hujan seharian pada Rabu (22/7/2026). Berdasarkan data Sipongi Kemenhut yang diperbarui pada 23 Juli pukul 05.00 WIB, jumlah titik panas (hotspot) menunjukkan angka nol (tidak terpantau).

Sementara dari patroli darat, kejadian karhutla hanya terpantau 5 titik yang berada di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 3 titik, Ogan Komering Ilir (OKI) 1 titik, dan Ogan Komering Ulu Timur (OKU) 1 titik. Hal ini dikarenakan hujan ringan turun di beberapa wilayah sejak siang hingga malam hari.

1. Lahan menjadi basah, potensi munculnya titik panas maupun karhutla menurun

Beberapa orang berjalan di taman saat hujan dengan payung, sementara genangan air terlihat di sekitar dan lampu taman menyala.
Ilustrasi hujan. (IDN Times/Sukma Shakti)

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan nihilnya hotspot itu menurunkan potensi dan dampak karhutla terutama di wilayah zona merah. Hujan yang turun dengan intensitas ringan hingga sedang telah meningkatkan kelembapan tanah dan membasahi lahan-lahan yang sebelumnya mulai mengering akibat musim kemarau.

"Lahan menjadi basah sehingga potensi munculnya titik panas maupun karhutla menurun. Bahan bakaran berupa semak, ilalang, dedaunan kering, dan ranting juga menjadi lebih sulit terbakar," ujarnya.

Menurutnya, hujan turut membantu mengisi kembali cadangan air pada kanal, embung, serta lahan gambut sehingga dapat memperlambat proses pengeringan lahan apabila beberapa hari ke depan tidak terjadi hujan lagi.

Kendati demikian, pihaknya tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Sebab musim kemarau masih berlangsung dan kondisi cuaca dapat berubah dengan cepat apabila curah hujan kembali berkurang selama beberapa hari berturut-turut.

"Walaupun kondisi saat ini cukup baik karena hujan, kami tetap mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Potensi karhutla masih dapat muncul kembali apabila cuaca kembali panas dan lahan mulai mengering," ucapnya.

2. BMKG jelaskan penyebab hujan turun di wilayah Sumsel

Ilustrasi awan gelap dengan petir dan tetesan hujan di atas permukaan air berlatar belakang merah.
Ilustrasi hujan petir. (IDN Times/Arief Rahmat)

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, menjelaskan bahwa turunnya hujan pada Rabu kemarin disebabkan oleh Madden-Julian Oscillation (MJO) yang secara spasial terpantau aktif di Sumsel. Hal ini memberikan dukungan terhadap aktivitas konvektif, sehingga berpotensi meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan.

"Berdasarkan hasil pemantauan dinamika atmosfer, suhu muka laut yang relatif hangat di perairan sekitar Sumsel turut mendukung peningkatan penguapan dan suplai uap air ke atmosfer," ujarnya.

Kondisi tersebut diperkuat oleh kelembapan udara yang relatif tinggi pada lapisan bawah hingga menengah, serta kondisi labilitas atmosfer pada kategori ringan hingga sedang, terutama pada periode siang hingga malam hari.

"Kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan lingkungan atmosfer yang cukup mendukung pertumbuhan dan perkembangan awan konvektif, sehingga berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang," jelasnya.

3. Operasi Modifikasi Cuaca bantu turunkan hujan

Kementerian Kehutanan menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatra Selatan untuk mencegah karhutla.
Kementerian Kehutanan menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatra Selatan untuk mencegah karhutla. (Dok. IDN Times)

Selain dukungan dinamika atmosfer tersebut, pada periode yang sama juga dilaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pelaksanaan OMC untuk mengoptimalkan awan potensial hujan yang telah terbentuk secara alami, melalui penyemaian bahan semai pada awan target yang memenuhi kriteria operasional.

Penyemaian dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi proses mikrofisika di dalam awan sehingga proses pembentukan butir air, penggabungan partikel air, dan presipitasi dapat berlangsung lebih optimal.

"Dengan demikian, OMC memanfaatkan dan mengoptimalkan potensi awan yang tersedia agar peluang terjadinya hujan dapat meningkat, baik dari sisi efektivitas proses presipitasi maupun distribusi hujan pada wilayah sasaran dan daerah di sepanjang pergerakan awan," ucap Siswanto.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More