Tinjau Karhutla Lais, Gubernur Incar 977 Hektare Lahan Cetak Sawah

Masyarakat di wilayah Lais selama ini lebih terbiasa berkebun dibandingkan bertani sawah
Pengelolaan lahan secara produktif juga menjadi bagian penting dalam pencegahan karhutla
Hingga saat ini karhutlah di Muba tercatat terjadi di 242 lokasi yang tersebar di 14 kecamatan dengan total luasan sekitar 228 hektare
Musi Banyuasin, IDN Times - Gubernur Sumatra Selatan (Sumsel) Herman Deru mendorong optimalisasi lahan terbengkalai menjadi lahan produktif sebagai salah satu upaya menekan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Desa Tanjung Agung Timur, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Sumsel mendorong pembangunan cetak sawah di Desa Tanjung Agung Timur dengan luas mencapai 977 hektare atau hampir 1000 hektare. Program tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produktivitas pangan, tetapi juga menjadikan lahan yang selama ini terbengkalai menjadi lahan pertanian yang dikelola secara rutin.
1. Penyebab karhutla salah satunya lahan terbengkalai dan kurang produktif

Gubernur Sumsel saat meninjau sejumlah titik karhutbunlah di Kecamatan Lais, Kabupaten Muba, Jumat (4/9/2026). (Dok. Pemkab Muba) Deru mengatakan, wilayah tersebut memiliki potensi karhutla yang cukup tinggi, sama seperti kawasan Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir. Salah satu faktor membuat wilayah tersebut rawan terbakar adalah masih adanya lahan yang terbengkalai dan tidak dikelola secara optimal.
"Saya tadi ke Desa Tanjung Agung Timur, Kecamatan Lais, Muba. Itu daerah yang potensi karhutla sangat tinggi, sama dengan di Muara Medak Bayung Lencir. Penyebabnya salah satunya lahan terbengkalai," ujarnya saat meninjau sejumlah titik kebakaran hutan, kebun dan lahan (karhutbunlah) di Kecamatan Lais, Kabupaten Muba, Jumat (4/9/2026).
2. Rencana cetak sawah untuk desa Tanjung Agung Timur 977 hektare

Gubernur Sumsel saat meninjau sejumlah titik karhutbunlah di Kecamatan Lais, Kabupaten Muba, Jumat (4/9/2026). (Dok. Pemkab Muba) Menurut Deru, rencananya cetak sawah untuk desa itu saja 977 hektare. Target pemerintah tentunya meningkatkan produktivitas pangan dan harapannya Muba bisa jadi daerah penyangga lumbung pangan Sumsel.
"Masyarakat di wilayah tersebut selama ini lebih terbiasa berkebun dibandingkan bertani sawah. Tetapi kalau disediakan lahan sawah dan bisa mencapai tiga kali panen, masyarakat akan terpancing menjadi petani sawah. Karena itu, pemerintah perlu menyediakan lahan sawah yang produktif agar masyarakat tertarik beralih atau menambah aktivitas pertanian mereka," jelasnya.
Ia menilai, pengelolaan lahan secara produktif juga menjadi bagian penting dalam pencegahan karhutla. Lahan yang terawat dan dimanfaatkan secara rutin dinilai lebih kecil risikonya untuk terbengkalai dan terbakar. "Kalau tanah terawat, maka akan bebas karhutla," tegas Deru.
3. Karhutla di Muba tidak seluruhnya disebabkan oleh pembukaan lahan

Gubernur Sumsel saat meninjau sejumlah titik karhutbunlah di Kecamatan Lais, Kabupaten Muba, Jumat (4/9/2026). (Dok. Pemkab Muba) Bupati Muba, HM Toha Tohet menjelaskan, hingga saat ini karhutlah di Muba tercatat terjadi di 242 lokasi yang tersebar di 14 kecamatan dengan total luasan sekitar 228 hektare, sementara 75 lokasi sudah ditanggulangi. Kecamatan Bayung Lencir menjadi wilayah dengan jumlah lokasi terbanyak, yakni 44 lokasi, disusul Lais 43 lokasi, Sekayu 42 lokasi dan Sungai Keruh 31 lokasi.
"Karhutla yang terjadi di Muba tidak seluruhnya disebabkan oleh pembukaan lahan. Dari sejumlah lokasi yang ditemukan, terdapat indikasi lain seperti puntung rokok maupun faktor alam. Karena itu, penanganan perlu dilakukan dengan melihat kondisi dan penyebab kebakaran di lapangan," ujarnya.
Pemkab Muba telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanganan termasuk edukasi kepada masyarakat dilakukan sejak sebelum musim rawan karhutla. Termasuk berkeliling kecamatan bersama unsur TNI dan Polri untuk mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
"Patroli terpadu terus dilaksanakan. Ketika terjadi kebakaran, tim darat bersama TNI-Polri langsung melakukan pemadaman," terang Toha.

















