Hotspot Sumsel Melonjak 139 Titik, Tren Karhutla Tertinggi Sepanjang 2026

- Jumlah hotspot di Sumsel melonjak jadi 139 titik pada pekan ketiga Juli 2026, dengan sebaran terbanyak di Musi Banyuasin dan dipicu kondisi cuaca kering tanpa hujan.
- Sejak Januari hingga 18 Juli 2026 tercatat 444 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar 664,87 hektare, melibatkan lebih dari 11 ribu personel penanggulangan di seluruh wilayah.
- Lahan mineral mendominasi karhutla Sumsel tahun ini seluas 642,3 hektare, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya dan berpotensi bertambah seiring puncak musim kemarau.
Musi Banyuasin, IDN Times – Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan terus meningkat seiring dengan memasuki puncak musim kemarau. Hal itu tergambar dari jumlah titik panas (hotspot) pada pekan ketiga Juli yang menjadi tertinggi dalam sebulan terakhir.
Berdasarkan data BPBD Sumsel, sebaran hotspot menyentuh angka 139 titik dari data Sipongi Kemenhut yang diakses pada Minggu (19/7/2026) pukul 05.00 WIB.
Hotspot terbanyak berada di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) 42 titik, Ogan Komering Ilir (OKI) 19 titik, Musi Rawas 15 titik, dan Banyuasin 14 titik.
Kemudian Muara Enim, Musi Rawas Utara (Muratara) dan OKU Timur masing-masing tercatat 10 titik. Sementara Ogan Ilir 8 titik, PALI 4 titik, Prabumulih dan Lahat masing-masing 3 titik, lalu Empat Lawang 1 titik.
1. Meningkatnya hotspot dipengaruhi kondisi cuaca yang semakin kering

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan meningkatnya hotspot dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang semakin kering akibat minimnya curah hujan di sebagian besar wilayah Sumsel. Namun, ia menegaskan hotspot hanyalah indikator awal sehingga setiap temuan tetap harus diverifikasi melalui patroli lapangan.
“Hotspot belum tentu merupakan titik api, tetapi menjadi peringatan dini yang harus segera ditindaklanjuti agar potensi kebakaran tidak berkembang menjadi karhutla,” ujarnya, Minggu (19/7/2026).
2. Total karhutla Sumsel hingga 18 Juli 2026 ada 444 kejadian

Selain itu, hasil patroli udara dan darat pada 18 Juli 2026 menangkap sebaran titik api (firespot) yang terdeteksi di 9 kabupaten dengan 22 kejadian karhutla. Tercatat total karhutla Sumsel sejak 1 Januari hingga 18 Juli 2026 sebanyak 444 kejadian dengan indikasi lahan terbakar seluas 664,87 hektare. Tren Juli ini meningkat 221 kasus dari Juni yang mencatatkan 120 kasus.
"Saat ini personel penanggulangan karhutla Sumsel berjumlah 11.387 orang yang terdiri dari 12 Satgas BPBD Sumsel dan kabupaten, TNI/Polri, Lanud SMH, Manggala Agni, Polhut, KTPA, MPA, RPK perusahaan dan RPK HTI. Semua siaga melakukan patroli dan penanggulangan kebakaran dengan peralatan yang mendukung," terang Sudirman.
3. Karhutla di Sumsel masih didominasi lahan mineral

Sementara itu, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto, mengatakan total luas lahan terbakar mencapai 664,87 hektare atau naik 77,4 persen dibandingkan 374,8 hektare pada semester I 2025.
Data luasan karhutla tersebut diperoleh dari hasil analisis citra satelit melalui kerja sama Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Kementerian Lingkungan Hidup.
"Berdasarkan jenis lahannya, karhutla di Sumsel sepanjang semester I 2026 masih didominasi lahan mineral dengan luas mencapai 642,3 hektare, sedangkan lahan gambut tercatat 22,57 hektare," ungkapnya.
Menurutnya, luasan karhutla tersebut masih berpotensi bertambah seiring meningkatnya frekuensi kejadian kebakaran sepanjang Juli.
"Pastinya luasan ini akan meningkat lagi mengingat periode Juli secara frekuensi juga lebih banyak kejadian," jelasnya.



















