Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Palembang Panas Menyengat? Ini Penjelasan BMKG Sumsel
Suasana suhu udara panas di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • BMKG Sumsel menjelaskan panas ekstrem di Palembang disebabkan minimnya pembentukan awan yang biasanya melindungi dari radiasi matahari langsung.
  • Kondisi ini terjadi karena Palembang sedang memasuki masa pancaroba menuju kemarau, yang memicu peningkatan suhu udara harian dan jeda hujan lebih panjang.
  • Penurunan kelembaban udara serta berkurangnya curah hujan membuat efek penyejuk alami menurun, sehingga radiasi matahari lebih banyak terserap di permukaan kota.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Suhu udara di Kota Palembang terasa sangat panas sejak pertengahan Mei 2026 akibat minimnya pembentukan awan dan kondisi peralihan musim pancaroba menuju kemarau.
  • Who?
    Kepala BMKG Sumsel Wandayantolis dan Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang Sinta Andayani memberikan penjelasan mengenai fenomena panas tersebut.
  • Where?
    Kondisi panas terjadi di wilayah Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, serta memengaruhi sebagian area sekitarnya yang mulai memasuki musim kemarau.
  • When?
    Fenomena suhu tinggi berlangsung sejak pertengahan Mei 2026 dan diperkirakan berlanjut hingga memasuki puncak suhu udara maksimum pertama pada awal Juni 2026.
  • Why?
    Panas disebabkan oleh berkurangnya tutupan awan, rendahnya kelembaban udara, minimnya curah hujan, serta fase pancaroba yang menandai peralihan menuju musim kemarau di Sumatra Selatan.
  • How?
    Pelepasan panas dari daratan meningkat karena radiasi matahari langsung tanpa perlindungan awan, sementara jeda hujan berkisar tiga hingga enam hari membuat suhu permukaan terasa lebih menyengat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Palembang sekarang panas sekali. Kata orang BMKG, langitnya jarang ada awan jadi matahari langsung nyorot ke tanah. Sekarang juga lagi masa pancaroba mau masuk kemarau panjang. Hujan jarang turun, udara jadi kering dan panas banget. Katanya nanti bisa makin panas lagi pas bulan September sampai Oktober.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Penjelasan BMKG Sumsel tentang cuaca panas di Palembang menunjukkan adanya pemantauan ilmiah yang cermat terhadap perubahan musim. Informasi mengenai peralihan pancaroba, penurunan kelembapan udara, serta prediksi puncak suhu membantu masyarakat memahami kondisi alam secara rasional. Transparansi ini memperlihatkan kesiapan lembaga meteorologi dalam memberikan edukasi dan kejelasan publik tentang fenomena iklim lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Kenapa Palembang panas menyengat? Hal ini jadi pertanyaan beberapa masyarakat sekitar. Sebab, sejak pertengahan Mei 2026, cuaca dan suhu udara di Kota Pempek ini terasa sangat panas.

"Palembang saat ini minim pembentukan awan yang biasanya melindungi daerah dari radiasi matahari langsung, sehingga cuaca terasa panas," kata Kepala BMKG Sumsel, Wandayantolis, Senin (1/6/2026).

1. Sumsel bertahap memasuki kemarau panjang

Suasana panas di Kawasan BKB Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Dia menyampaikan, tidak hanya minim awan yang melindungi radiasi matahari, Palembang saat ini dalam kondisi peralihan masa pancaroba. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Sumatra Selatan, panas di Palembang juga dipengaruhi kemarau panjang.

"Jadi, Sumsel, wilayah ini secara bertahap memasuki musim kemarau," jelasnya.

2. Palembang memasuki suhu panas maksimum

Aktivitas lalu lintas di Jembatan Ampera Palembang (IDN Times/ Deryardli Tiarhendi)

Wandayantolis mengatakan, fase pancaroba biasanya diikuti dengan peningkatan suhu udara harian dan terasa panas karena masuk puncak suhu udara maksimum pertama dalam setahun.

Sedangkan puncak kedua terjadi sekitar akhir September-Oktober 2026. Puncak kedua biasanya terkait dengan pelepasan panas dari daratan dan lautan setelah matahari bergerak semu di Sumsel.

"Selama masa ini, jeda hujan akan memanjang jadi 3-6 hari tanpa hujan (HTH), saat HTH terjadi, suhu udara terasa lebih menyengat," kata dia.

3. Uap atmosfer berkurang sebabkan cuaca panas dan minim hujan

Suasana panas saat kegiatan CFD di Jembatan Ampera Palembang (Dok. IDN Times)

Kemudian lanjutnya, Palembang panas dari akumulasi pelepasan panas di atas awan dipengaruhi penurunan kelembapan udara dengan lebih sedikit uap air sehingga panas menyerap.

"Curah hujan turun juga mengurangi efek penyejuk udara saat ini. Tutupan awan berkurang menjadikan pancaran radiasi matahari makin banyak di permukaan," jelasnya

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang Sinta Andayani menambahkan, Sumsel mendekati kemarau dan aktif di seluruh wilayah Indonesia.

"Ketersediaan uap air di atmosfer mulai berkurang. Dengan kondisi ini, pertumbuhan awan hujan juga jadi minim," kata Sinta.

Editorial Team

Related Article