Parade Kebaya Songket di Palembang Pecahkan Rekor MURI

- Parade Kebaya Songket di Palembang pecahkan rekor MURI sebagai perempuan berkebaya dengan kain songket terbanyak, digelar untuk peringatan Hari Kebaya Nasional 2026 dan pelestarian budaya Indonesia.
- Kegiatan ini menonjolkan perpaduan kebaya dan songket khas Sumsel, memperkuat identitas budaya lokal serta menginspirasi daerah lain dalam melestarikan warisan tradisional dan semangat pemberdayaan perempuan.
- Gerakan berkebaya dinilai berdampak luas pada ekonomi kreatif, menggerakkan UMKM seperti pengrajin batik, penjahit, desainer muda, hingga MUA, sekaligus memperkuat ekonomi keluarga melalui peran perempuan.
Palembang, IDN Times -Parade Kebaya Songket bertajuk Pesona Perempuan Indonesia di Kota Palembang berhasil mencatatkan rekor MURI untuk kategori perempuan berkebaya dengan kain songket terbanyak. Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional 2026 sekaligus menjadi bagian dari gerakan pelestarian kebaya yang diinisiasi Dewan Pimpinan Pusat Perempuan Indonesia Maju (DPP PIM).
Parade tersebut tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi upaya untuk memperkenalkan songket Sumatra Selatan dan Jembatan Ampera sebagai ikon daerah ke tingkat internasional. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) periode 2024–2029, Nannie Hadi Tjahjanto.
"Ini suatu kebanggaan buat saya tersendiri dan suatu kehormatan tentunya. Yang mana kebaya sudah dikenalkan di UNESCO, tentu kita sebagai generasi penerus harus melestarikan," ungkap Nannie.
1. Rekor MURI jadi bagian dari gerakan pelestarian kebaya

Ketua Umum DPP PIM, Lana T. Koentjoro, mengatakan parade di Palembang merupakan bagian dari konsolidasi gerakan pelestarian kebaya yang dilakukan serentak di berbagai daerah pada peringatan Hari Kebaya Nasional tahun ini.
Menurutnya, semangat tersebut semakin penting setelah kebaya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada akhir 2024. Karena itu, pengakuan internasional harus diikuti dengan upaya nyata agar kebaya tetap hidup dalam keseharian masyarakat.
"Pengakuan UNESCO bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Kita harus konsisten menunjukkan bahwa kebaya benar-benar dijalankan dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat," ujar Lana.
2. Kebaya dan songket dinilai mengangkat budaya lokal Sumsel

Nannie mengapresiasi dukungan Pemprov Sumsel, BKOW, Dekranasda, serta pemerintah daerah yang mengemas parade dengan memadukan kebaya dan kain songket.
Ia menilai langkah tersebut mampu memperkuat identitas budaya daerah sekaligus menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk mengangkat warisan budaya masing-masing, baik batik, tenun, maupun kain tradisional lainnya.
Selain itu, menjelang usia 100 tahun Kowani, Nannie mengingatkan pentingnya melanjutkan semangat perjuangan perempuan Indonesia, termasuk dalam memperjuangkan kesetaraan dan pemberdayaan perempuan di berbagai bidang.
"Di usia menuju 100 tahun ini, kita harus memastikan tidak ada lagi KDRT, perdagangan manusia, anak terlantar, hingga keterlibatan perempuan sebagai kurir narkoba akibat desakan ekonomi," tegas Nannie.
3. Gerakan berkebaya ikut menggerakkan UMKM

DPP PIM menilai gerakan berkebaya tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi kreatif dan UMKM. Lana mengatakan penggunaan kebaya memberikan efek berganda bagi berbagai sektor, mulai dari pengrajin batik, songket, penjahit, desainer, pembuat aksesori, hingga pelaku jasa tata rias.
"Ketika masyarakat mengenakan kebaya, terdapat multiplier effect ekonomi yang sangat luas. Mulai dari perajin batik, penenun, perajin songket, penjahit, desainer muda, perajin aksesori, hingga industri makeup artist (MUA) ikut bergerak. Gerakan berkebaya ini secara nyata memperkuat ekonomi keluarga melalui pemberdayaan perempuan," tambah Lana.
Hal senada disampaikan Nannie. Menurutnya, Hari Kebaya Nasional bukan hanya tentang mengenakan pakaian tradisional, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
"Dari kebaya ini kita telah mengangkat seluruh UMKM Indonesia. Mulai dari selop, kain ganding, hingga jasa MUA. Saya sendiri bersanggul dan berdandan subuh-subuh menggunakan berbagai aksesori. Jadi, sudah berapa banyak UMKM yang dilibatkan dalam satu tubuh saya saja? Hal inilah yang kami perjuangkan dan dukung luar biasa agar Hari Kebaya ini membawa dampak nyata bagi Indonesia," tutur Nannie.

















