BBPJN Sumsel: Jalintim Cepat Rusak Akibat Truk ODOL Sering Melintas

- BBPJN Sumsel mempercepat perbaikan Jalintim Betung–Palembang yang rusak parah akibat maraknya kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL) melintas di jalur strategis tersebut.
- Lebih dari 50 persen kendaraan di ruas Betung–Palembang tergolong ODOL, menyebabkan tekanan berlebih pada lapisan jalan dan mempercepat penurunan kualitas perkerasan.
- Pekerjaan rigid pavement dilakukan malam hari untuk menghindari kemacetan, dengan dukungan anggaran Rp838,344 miliar guna menjaga kemantapan jalan nasional Sumsel mencapai 88,66 persen.
Palembang, IDN Times - Perbaikan Jalan Lintas Timur (Jalintim) ruas Betung-Batas Kota Palembang terus dikebut oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatra Selatan. Namun, upaya menjaga kualitas jalur nasional tersebut masih menghadapi tantangan besar, lantaran tingginya aktivitas kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL) yang disebut menjadi salah satu penyebab utama jalan cepat mengalami kerusakan.
"Kerusakan jalan paling banyak dipengaruhi oleh kendaraan ODOL," ungkap Kepala BBPJN Sumsel, Panji Krisna Wardana, Senin (20/7/2026).
1. Kendaraan ODOL 50 persen melintas di Jalintim

Menurut Panji, kendaraan besar yang melintas di ruas Betung-Palembang menjadi salah satu faktor yang mempercepat penurunan kualitas jalan. Tingginya aktivitas kendaraan dengan muatan melebihi batas kemampuan jalan memberikan tekanan besar terhadap lapisan perkerasan.
Kondisi tersebut semakin berdampak karena Jalintim Betung-Palembang merupakan jalur strategis yang setiap hari dilalui kendaraan angkutan barang dengan intensitas tinggi.
"Lebih dari 50 persen kendaraan yang melintas di ruas Betung sampai batas Kota Palembang merupakan kendaraan ODOL," jelasnya.
2. Alasan pengerjaan dilakukan malam hari

Tingginya volume kendaraan, khususnya angkutan logistik, juga menjadi tantangan dalam proses perbaikan jalan. BBPJN tidak bisa sembarangan melakukan pekerjaan pada siang hari karena arus lalu lintas di jalur tersebut sangat padat.
Karena itu, pengerjaan rigid pavement atau perkerasan beton pada sejumlah titik Jalintim dilakukan pada malam hari. Skema tersebut dipilih agar pekerjaan tetap berjalan tanpa menyebabkan gangguan besar terhadap aktivitas masyarakat dan distribusi barang.
"Kondisi lalu lintas yang padat membuat pekerjaan tidak memungkinkan untuk dilaksanakan pada siang hari. Pelaksanaan pekerjaan rigid lebih baik dilakukan pada malam hari," jelasnya.
3. Kondisi kemantapan jalan nasional di Sumsel

Menurut BBPJN, Jalintim Betung-Palembang memiliki peran penting sebagai jalur utama pergerakan ekonomi di Sumatra Selatan. Ruas ini menjadi penghubung aktivitas industri, perdagangan, hingga distribusi logistik dari wilayah Banyuasin menuju Kota Palembang.
Selain menangani titik-titik kerusakan, pemerintah juga terus menjaga tingkat kemantapan jalan nasional di Sumsel. Saat ini, tingkat kemantapan jalan nasional di Sumatera Selatan mencapai 88,66 persen dari total panjang jalan nasional sepanjang 1.580,7 kilometer.
"BBPJN Sumsel menyiapkan anggaran sebesar Rp838,344 miliar pada Tahun Anggaran 2026. Dana tersebut akan digunakan untuk berbagai kegiatan penanganan jalan," jelasnya.


















