Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kisah Nada Nalida Berhasil Jadi Eksportir di Umur 19 Tahun

Kisah Nada Nalida Berhasil Jadi Eksportir di Umur 19 Tahun
Nada Nalida, ekspotir muda yang sukses di umur 19 tahun (Foto: dok pribadi)
Intinya Sih

  • Sejak SMA, Nada Nalida bercita-cita jadi eksportir dan akhirnya kuliah di Politeknik APP Jakarta jurusan perdagangan internasional meski sempat ditolak 25 universitas.
  • Di usia 19 tahun, Nada sukses ekspor perdana 22 ton fish meal ke Vietnam setelah berjuang mencari supplier dan buyer meski sempat kehilangan dukungan dari orang terdekat.
  • Keberhasilannya menarik perhatian buyer China yang memberinya pelatihan pengolahan fish oil di Oman, mendorongnya ingin bangun pabrik berstandar internasional di Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Padang, IDN Times - Menjadi seorang pebisnis di usia dini menjadi mimpi kebanyakan anak muda agar bisa mandiri dan tidak bergantung orangtua.

Keinginan itu dilakukan Nada Nalida (23) yang ingin hidup mandiri sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Perempuan yang berasal dari daerah Sidoarjo, Jawa Timur itu ingin menjadi eksportir untuk mendapatkan penghasilan.

1. Perjalanan menjadi eksportir

Nada Nalida, ekspotir muda yang sukses di umur 19 tahun (Foto: dok pribadi)
Nada Nalida, ekspotir muda yang sukses di umur 19 tahun (Foto: dok pribadi)

Untuk menggapai keinginannya, setelah lulus SMA, Nada memulai perjalanannya dengan mencari kampus yang memiliki jurusan perdagangan internasional.

"Saya sempat ditolak 25 Universitas di berbagai negara demi bisa kuliah di jurusan perdagangan internasional seperti yang saya inginkan," katanya saat diwawancarai IDN Times, Senin (20/7/2026).

Keinginannya untuk menimba ilmu bidang perdagangan internasional tak surut. Nada memilih tetap kuliah di bidang itu. "Akhirnya saya ambil jurusan perdagangan internasional di Politeknik APP Jakarta, dengan catatan saya harus langsung menjadi eksportir," katanya.

Tak butuh waktu lama untuk memahami konsep ekspor, ia langsung terjun ke dunia ekspor saat menginjak semester 2. "Saat itu umur saya baru 19 tahun. Saya mencari tahu bagaimana cara melakukan ekspor, mendapatkan supplier, menemukan buyer dan lainnya," katanya.

2. Patah hati yang berujung keberhasilan

Untuk menjadi eksportir, Nada mendapatkan berbagai hambatan dari orang terdekatnya, termasuk sang kekasih kala itu tidak memberikan dukungan. "Karena sering bertengkar soal itu, saya memilih putus. Saat itu saya menekankan kepada diri saya, harus berhasil dan menunjukkan usaha saya tidak sia-sia kepada semua orang," katanya.

Dengan upaya yang dilakukan, akhirnya Nada menemukan buyer yang mau membeli produk yang ia tawarkan. Tetapi, tantangan itu baru saja dimulai.

"Saya kan fokusnya pada produk fish meal dan fish oil yang pada tahun 2023 merupakan produk dengan modal yang relatif murah di Indonesia," katanya.

Nada harus mencari supplier untuk memenuhi permintaan buyer yang mau mengeluarkan uang banyak agar mendapatkan produk tersebut. "Saya diminta untuk keliling Indonesia untuk mencari supplier di Indonesia dan semuanya dibiayai oleh buyer yang saya temui itu," katanya.

Setelah mendapatkan supplier yang tepat, Nada akhirnya memulai ekspor pertamanya dengan negara tujuan Vietnam untuk mengirim produk fish meal sebanyak 22 ton.

3. Mendapatkan pesanan besar

Sukses melakukan pengiriman pertamanya, buyer memintanya untuk mencarikan fish meal sebanyak 500 ton dan ia harus keliling Indonesia lagi untuk mencarinya.

"Saya keliling Indonesia dengan dibiayai oleh buyernya dan diberikan uang sebesar 5 ribu dollar AS untuk mendapatkan pesanan tersebut," katanya.

Setelah keliling Indonesia untuk mencari produk yang cocok, ia kembali sukses dan mendapatkan kepercayaan buyer untuk memperpanjang kontraknya hingga saat ini.

"Alhamdulillahnya sampai saat ini kontraknya masih tetap jalan dan saya masih terus mengirim fish meal untuk buyer itu ke berbagai negara," katanya.

4. Kesempatan dari negeri tirai bambu

Kisah kesuksesan yang diraihnya, menarik perhatian seorang buyer dari negeri tirai bambu, China yang fokus pada produk fish oil.

"Saya kembali diminta untuk melakukan survei soal potensi fish oil yang ada di Indonesia. Meski belum melakukan pemesanan, tapi buyer itu mengajarkan saya banyak hal soal produk fish oil," katanya.

Untuk mendapatkan ilmu cara pengolahan dan ikan yang cocok untuk diolah menjadi fish oil, ia diminta untuk berangkat ke Oman dan mendapatkan pelatihan.

"Saya belajar tentang pabrik pengolahan yang sesuai dengan standar internasional dan bagaimana teknologi yang dirancang untun pembuatan fish oil tersebut," katanya.

Dengan ilmu yang didapatkan tersebut, Nada menyatakan ia ingin membangun pabrik pengolahan ikan di Indonesia yang sesuai standar Internasional.

"Dari situ saya mengetahui bahwa perusahaan di Indonesia tidak ada yang melakukan pengolahan sesuai standar Internasional grade A seperti yang diinginkan buyer," katanya.

Menurutnya, pabrik di Indonesia saat ini melakukan pengolahan fish meal dan fish oil masih kurang bersih dan perlu pembenahan menyeluruh agar bisa mendapatkan harga yang tinggi untuk diekspor.

"Sejauh ini saya juga memahami bahwa tidak semua pabrik di Indonesia memiliki spesifikasi dan sertifikasi yang lengkap untuk mendukung ekspor ke semua negara," katanya.

Share Article
Editorial Team

Latest News Sumatera Selatan

See More