Kenapa Palembang Panas Menyengat? Ini Penjelasan BMKG Sumsel

- BMKG Sumsel menjelaskan panas ekstrem di Palembang disebabkan minimnya pembentukan awan yang biasanya melindungi dari radiasi matahari langsung.
- Kondisi ini terjadi karena Palembang sedang memasuki masa pancaroba menuju kemarau, yang memicu peningkatan suhu udara harian dan jeda hujan lebih panjang.
- Penurunan kelembaban udara serta berkurangnya curah hujan membuat efek penyejuk alami menurun, sehingga radiasi matahari lebih banyak terserap di permukaan kota.
Palembang, IDN Times - Kenapa Palembang panas menyengat? Hal ini jadi pertanyaan beberapa masyarakat sekitar. Sebab, sejak pertengahan Mei 2026, cuaca dan suhu udara di Kota Pempek ini terasa sangat panas.
"Palembang saat ini minim pembentukan awan yang biasanya melindungi daerah dari radiasi matahari langsung, sehingga cuaca terasa panas," kata Kepala BMKG Sumsel, Wandayantolis, Senin (1/6/2026).
1. Sumsel bertahap memasuki kemarau panjang

Dia menyampaikan, tidak hanya minim awan yang melindungi radiasi matahari, Palembang saat ini dalam kondisi peralihan masa pancaroba. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Sumatra Selatan, panas di Palembang juga dipengaruhi kemarau panjang.
"Jadi, Sumsel, wilayah ini secara bertahap memasuki musim kemarau," jelasnya.
2. Palembang memasuki suhu panas maksimum
Wandayantolis mengatakan, fase pancaroba biasanya diikuti dengan peningkatan suhu udara harian dan terasa panas karena masuk puncak suhu udara maksimum pertama dalam setahun.
Sedangkan puncak kedua terjadi sekitar akhir September-Oktober 2026. Puncak kedua biasanya terkait dengan pelepasan panas dari daratan dan lautan setelah matahari bergerak semu di Sumsel.
"Selama masa ini, jeda hujan akan memanjang jadi 3-6 hari tanpa hujan (HTH), saat HTH terjadi, suhu udara terasa lebih menyengat," kata dia.
3. Uap atmosfer berkurang sebabkan cuaca panas dan minim hujan

Kemudian lanjutnya, Palembang panas dari akumulasi pelepasan panas di atas awan dipengaruhi penurunan kelembapan udara dengan lebih sedikit uap air sehingga panas menyerap.
"Curah hujan turun juga mengurangi efek penyejuk udara saat ini. Tutupan awan berkurang menjadikan pancaran radiasi matahari makin banyak di permukaan," jelasnya
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang Sinta Andayani menambahkan, Sumsel mendekati kemarau dan aktif di seluruh wilayah Indonesia.
"Ketersediaan uap air di atmosfer mulai berkurang. Dengan kondisi ini, pertumbuhan awan hujan juga jadi minim," kata Sinta.



















