Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dolar Naik Tetap Berimbas ke Desa, Begini Penjelasan Ekonom Sumsel

Dolar Naik Tetap Berimbas ke Desa, Begini Penjelasan Ekonom Sumsel
Ilustrasi uang rupiah dan dolar Amerika Serikat terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • Pelemahan Rupiah akibat penguatan Dolar AS menurunkan daya beli masyarakat dan memicu kenaikan harga barang, termasuk di wilayah pedesaan.
  • Nilai tukar Rupiah yang menembus Rp17.600 per Dolar AS berdampak besar pada sektor pertanian karena bahan baku pupuk dan pestisida banyak bergantung pada impor.
  • Kenaikan kurs Dolar juga mendorong potensi naiknya harga BBM dan biaya distribusi hasil panen, sehingga keuntungan petani serta harga kebutuhan pokok ikut tertekan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Palembang, IDN Times - Presiden RI Prabowo Subianto sempat menyatakan dalam pidatonya bahwa penguatan nilai dolar AS tidak terlalu berdampak terhadap Indonesia, khususnya di wilayah desa. Sebab kata Prabowo, "rakyat di desa enggak pakai dolar,".

Namun, berdasarkan kondisi ekonomi, pernyataan tersebut perlu diluruskan. Karena apabila dolar AS makin menguat, imbas tetap akan dirasakan masyarakat Indonesia.

Menurut pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), Sri Rahayu, akibat rupiah yang melemah, efek yang terjadi akan meluas dan menekan aktivitas ekonomi masyarakat.

"Rupiah melemah artinya daya beli rupiah turun. Akibatnya, harga-harga sebenarnya naik. Ini akan berdampak juga pada masyarakat desa," ujarnya, Senin (18/5/2026).

1. Pelemahan rupiah dorong daya beli masyarakat menurun

Dinamika Nilai Tukar Rupiah dan Emas
Mata uang rupiah dan emas (pexels.com/RobertLens)

Rupiah sebagai mata uang nasional, lanjutnya, mendorong inflasi atau kenaikan suatu komoditas yang makin tinggi. Pelemahan Rupiah menyebabkan daya beli menurun sehingga harga barang-barang cenderung mengalami kenaikan.

"Dampak pelemahan rupiah tetap akan terasa secara tidak langsung," kata dia.

Lebih lanjut, kata Rahayu, akibat nilai rupiah memburuk, aktivitas transaksi sehari-hari akan terganggu. Sebab, banyak kebutuhan produksi dan distribusi di Indonesia masih bergantung pada impor dan harga global.

2. Sektor pertanian sangat berdampak pada penukaran dolar dan rupiah

Ilustrasi pertanian
Ilustrasi pertanian (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

Diketahui, nilai rupiah terkini untuk penukaran mata uang dolar AS sudah menyentuh lebih dari Rp17.600. Angka itu menjadi nominal tertinggi sepanjang sejarah penukaran mata asing. Kondisi tersebut, kata Rahayu, semestinya perlu disoroti dan pemerintah mulai harus memikirkan bagaimana agar rupiah tidak makin lemah.

Melihat dari aspek kehidupan dan pertumbuhan ekonomi di desa, jika rupiah tidak membaik, efeknya sangat terasa di sektor pertanian. Karena pertanian menjadi salah satu bidang paling rentan terdampak di wilayah pedalaman.

Rahayu menyampaikan bahwa kelompok pertanian untuk kebutuhan produksi seperti pupuk dan pestisida sebagian besar menggunakan bahan baku impor.

“Kondisi ini membuat modal tanam petani meningkat karena harga pupuk dan pestisida ikut naik. Otomatis pengeluaran petani juga bertambah," jelas dia.

3. Impor nilai minyak mentah turut berdampak dari kenaikan dolar AS

Ilustrasi kegiatan ekspor impor. (unsplash.com/Dominik Lückmann)
Ilustrasi kegiatan ekspor impor. (unsplash.com/Dominik Lückmann)

Kemudian, lanjut Rahayu, karena tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah, juga dinilai menjadi faktor lain yang memperbesar dampak pelemahan rupiah.

Kenaikan kurs dolar AS diperkirakan dapat mendorong kenaikan harga BBM, termasuk bensin eceran dan solar di wilayah pedesaan. Akibatnya, biaya operasional alat pertanian seperti traktor dan pompa air ikut meningkat.

"Ongkos distribusi hasil panen juga berpotensi mengalami kenaikan sehingga menekan keuntungan petani. Kalau harga BBM naik, ongkos angkut hasil panen juga naik. Itu pasti berpengaruh sampai ke desa," katanya.

4. Kebutuhan barang Indonesia banyak berkaitan dengan harga global

ilustrasi dolar AS
ilustrasi dolar AS (pexels.com/Jonathan Borba)

Dari nilai rupiah yang melemah, Rahayu juga menyoroti kemungkinan kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan telur akibat peningkatan biaya produksi saat melakukan distribusi barang.

Bahkan, jelasnya, ia telah menerima informasi dari sejumlah peternak ayam di Kota Palembang terkait penurunan permintaan pasar ke luar daerah karena ongkos pengiriman kian mahal.

“Sekarang saja beberapa peternak ayam di Palembang sudah menyampaikan bahwa permintaan dari luar menurun karena ongkos angkut naik," ujar Rahayu.

Dia menegaskan meskipun masyarakat melakukan transaksi sehari-hari menggunakan rupiah, dampak pelemahan kurs dolar tetap memiliki efek berantai terhadap perekonomian nasional hingga ke tingkat desa.

“Dampaknya tetap terasa karena kebutuhan produksi dan distribusi Indonesia berkaitan dengan impor dan harga global,” jelas dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hafidz Trijatnika
EditorHafidz Trijatnika
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More