Jalan Perbatasan Banyuasin-Palembang Rusak, Pengendara Bertaruh Nyawa

- Jalan Lintas Timur Sumatra di perbatasan Palembang–Banyuasin rusak parah dan bergelombang, membuat pengendara harus ekstra hati-hati karena sering terjadi kecelakaan, terutama di KM 12 hingga KM 18.
- Warga memasang banner sindiran 'wisata jalan bergelombang' sebagai bentuk protes karena jalan sudah setahun lebih belum diperbaiki tuntas meski telah menelan korban jiwa.
- Pemerintah Provinsi Sumsel menyebut kerusakan disebabkan suhu panas dan beban kendaraan berat, namun perbaikan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR.
Palembang, IDN Times - Jalan rusak menjadi makanan sehari-hari warga di perbatasan Banyuasin dan Palembang. Pasalnya, jalan lintas timur (Jalintim) Sumatra yang menjadi sumber akses utama masyarakat dilalui beragam kendaraan truk, bus antar kota dan provinsi (AKAP), hingga kendaraan pribadi.
Jalan utama penghubung antar kabupaten dan kota tersebut dalam kondisi mengkhawatirkan. Aspal tampak bergelombang sejak memasuki perbatasan Palembang di Jalintim Sumatra KM 12 menuju Pangkalan Balai, yang menjadi pusat pemerintahan Banyuasin.
"Jalan rusak itu jelas membahayakan. Dari asrama (Arhanud) itu sudah beberapa orang jatuh di sana," ungkap Warga Banyuasin bernama Mulyono (62) kepada IDN Times, Sabtu (6/5/2026).
1. Ekstra hati-hati melintas di jalan negara

Dari pemantauan IDN Times, permukaan jalan yang tidak rata membuat kendaraan yang melintas harus mengurangi kecepatan. Getaran mulai terasa dari atas kendaraan, sementara pengendara motor harus mencoba mengubah posisi kemudi demi menjaga keseimbangan.
Lalu lintas di jalur tersebut didominasi truk besar. Saat kendaraan berat melintas, badan jalan terasa semakin tidak stabil. Pengendara motor memilih berada di sisi jalan dan menjaga jarak agar tidak kehilangan kendali.
"Banyak juga memakan korban jiwa gara-garanya jalan kan mak ini-mak ini (bergelombang)," jelasnya.
2. Sudah setahun jalan belum kunjung diperbaiki

Kondisi jalan semakin parah memasuki KM 15 hingga KM 18. Kontur jalan yang naik turun di kawasan Air Batu membuat pengendara harus lebih waspada. Ban kendaraan kerap mengikuti bentuk gelombang aspal sehingga motor terasa seperti bergerak sendiri.
Beberapa kali bodi motor harus ditahan agar tidak oleng saat melewati permukaan jalan yang bergeser naik turun. Kondisi itu semakin berbahaya ketika kendaraan besar melintas dari arah berlawanan.
Di tengah ruas jalan tersebut, sebuah banner terpasang di pinggir jalan. Tulisannya "wisata jalan bergelombang" tampak mencolok di antara lalu lalang kendaraan. Kalimat bernada satire itu dipasang warga sebagai bentuk protes karena jalan rusak disebut tak kunjung diperbaiki secara tuntas.
Bagi warga, jalan bergelombang bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan berkendara. Mereka menyebut kondisi jalan telah berulang kali menyebabkan kecelakaan. "Kondisi jalan ini sudah setahun lebih seperti ini. Memang sempat diperbaiki, tapi belum tuntas," katanya.
3. Pemotor jadi kelompok paling rentan

Menurut dia, pengendara motor menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kecelakaan di jalur tersebut. Jalan yang bergelombang membuat kendaraan mudah kehilangan keseimbangan, terutama saat pengendara melaju di antara truk-truk besar.
Saat hujan turun, kondisi jalan disebut jauh lebih berbahaya. Aspal licin dipadukan dengan permukaan jalan yang tidak rata membuat kendaraan mudah tergelincir.
"Jelas kita harus hati-hati, apalagi kalau hujan. Jalan licin ditambah bergelombang," ujarnya.
4. Di antara harapan dan frustasi warga saat bertaruh nyawa di jalan lintas

Dengan nada pelan, Mulyono mengaku tidak hafal pasti jumlah korban kecelakaan yang terjadi. Namun ia menyebut dalam tahun ini saja sudah ada beberapa korban meninggal dunia.
"Kalau tidak salah sudah enam nyawa dalam tahun ini (2026)," katanya.
Mulyono berharap pemerintah segera melakukan perbaikan menyeluruh sebelum kembali muncul korban baru di jalur tersebut.
Ia juga menyinggung besarnya potensi sumber daya alam Sumatra Selatan yang menurutnya seharusnya bisa berbanding lurus dengan kualitas infrastruktur jalan.
"Di Sumatra ini paling banyak pendapatan dari batu bara, minyak, karet, sawit. Tapi enggak tahu uangnya ke mana," ungkapnya.
5. Jalan bergelombang disebabkan panasnya jalan

Kerusakan Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatra di ruas Palembang-Betung disebut telah berlangsung dalam setahun terakhir. Jalan nasional gelombang di sejumlah titik yang dinilai membahayakan pengendara, terutama pengguna sepeda motor.
Gubernur Sumatra Selatan, Herman Deru, mengatakan ruas Jalintim Sumatra merupakan kewenangan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pemerintah Provinsi Sumsel, kata dia, telah berulang kali mengusulkan perbaikan kepada Direktorat Jenderal Bina Marga.
Menurut Herman Deru, kerusakan jalan diduga dipengaruhi suhu udara panas dan tingginya beban kendaraan yang melintas. "Aspalnya memang tidak berlubang, tetapi bergelombang karena amblas dan menggulung, istilahnya bleeding. Kondisi ini menyebabkan perlambatan kendaraan yang kerap memicu kecelakaan," ujar Deru, Senin (20/10/2025).
Tak hanya kerusakan di Jalintim ruas Palembang-Betung, sejumlah ruas Jalintim Sumatra turut mengalami. Terbaru kerusakan jalan di Musi Rawas Utara (Muratara) diduga menjadi penyebab kecelakaan bus Antar Lintas Sumatra (ALS) yang menyebabkan 19 korban jiwa.
IDN Times berupaya mengonfirmasi hal ini kepada Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatra Selatan terkait, tapi hingga berita ini diterbitkan, Kepala BBPJN Sumsel, Panji Krisna Wardana, belum memberikan tanggapan.


















