Cegah Karhutla, BNPB Pertimbangkan Adopsi Teknologi Pembasahan Gambut

BNPB mempertimbangkan mengadopsi teknologi Sambonesia dari penanganan karhutla di OKI karena mampu menginjeksikan air ke lapisan gambut bawah yang masih menyimpan panas.
Pembasahan gambut dinilai penting untuk pencegahan dan pemadaman, terutama saat kemarau; pompa sentrifugal serta penampungan air digunakan agar bara bawah permukaan tidak menjalar.
Per 8 September 2026, titik api masih terdeteksi di Pangkalan Lampam, Tulung Selapan, dan Air Sugihan; penanganan melibatkan pemerintah, TNI/Polri, masyarakat, serta perusahaan.
Palembang, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mempertimbangkan untuk mengadopsi teknologi pembasahan gambut yang digunakan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Ketua Harian Unsur Pengarah BNPB Ary Laksmana Widjaja mengatakan, teknologi bernama Sambonesia itu dinilai efektif karena mampu mengalirkan air hingga ke lapisan bawah gambut yang masih menyimpan panas.
"Penanganan menggunakan Sambonesia sudah sangat bagus. Kita coba adopsi untuk diterapkan di tempat lain," ujar Ary di Palembang, Kamis (10/9/2026).
1. Teknologi pembasahan gambut dinilai menarik

BNPB upayakan adopsi pembasahan gambut lewat teknologi yang dinamakan Sambonesia yakni membasahi gambut di lapisan bawah (Dok: APP Sinarmas) Salah satu hal yang menjadi perhatian Ary saat meninjau penanganan karhutla di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) ialah teknologi Sambonesia. Perangkat yang digunakan tim penanggulangan kebakaran APP Group tersebut bekerja dengan membasahi gambut, termasuk melalui injeksi air ke lapisan bawah permukaan.
Menurut Ary, metode ini berbeda dengan pemadaman api di permukaan karena air juga diarahkan ke bagian gambut yang masih menyimpan panas. Kondisi tersebut dinilai penting karena api di lahan gambut dapat tetap menyala atau membara di bawah permukaan meski api di atas tanah telah terlihat padam.
"Sambonesia bagus untuk lahan terbakar karena selain menyemprotkan air ke permukaan, terdapat injeksi yang masuk ke gambut sehingga lapisan bawahnya ikut dibasahi," katanya.
Ary mengatakan teknologi tersebut memiliki peluang untuk diterapkan di wilayah lain. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi wilayah dan kebutuhan penanganan karhutla masing-masing daerah.
"Kita coba adopsi untuk diterapkan di tempat lain," ujarnya.
2. Pencegahan tak cukup menunggu api muncul

BNPB upayakan adopsi pembasahan gambut lewat teknologi yang dinamakan Sambonesia yakni membasahi gambut di lapisan bawah (Dok: APP Sinarmas) Menurut Ary, pembasahan gambut juga dapat ditempatkan sebagai bagian dari upaya pencegahan. Menjaga gambut tetap lembap dinilai penting, terutama ketika memasuki periode kemarau dan kondisi lahan semakin mudah terbakar.
Dalam penanganan di lapangan, ia juga melihat penggunaan pompa sentrifugal untuk mengambil dan mendorong air menuju lokasi kebakaran.
Jika ditemukan bara di bawah permukaan, lahan dapat dibasahi secara intensif agar api tidak kembali menjalar. Air juga dapat ditampung pada area tertentu sehingga meresap ke lapisan gambut.
"Ketika lahan dibuka dan ditemukan gambut yang masih terbakar di bawah permukaan, area itu bisa langsung diisi air. Pembasahan seperti ini sangat penting dalam pencegahan dan penanganan karhutla di lahan gambut," katanya.
3. Titik api masih terdeteksi di OKI

BNPB upayakan adopsi pembasahan gambut lewat teknologi yang dinamakan Sambonesia yakni membasahi gambut di lapisan bawah (Dok: APP Sinarmas) Saat kunjungan ke OKI pada 29 Agustus 2026, Ary melihat penanganan karhutla melibatkan pemerintah daerah, TNI/Polri, Manggala Agni, masyarakat, dan dunia usaha. Ia menilai keterlibatan perusahaan penting, termasuk untuk mengantisipasi kebakaran dari luar konsesi yang berpotensi merembet.
Ary juga melihat fasilitas pemadaman dan pemantauan titik panas di Air Sugihan, termasuk fire base, peralatan pemadaman, helikopter water bombing, serta command center. Ia menilai kolaborasi tersebut membantu mempercepat penanganan ketika ditemukan titik api.
Berdasarkan pemantauan per 8 September 2026, titik api masih ditemukan di Pangkalan Lampam, Tulung Selapan, dan Air Sugihan. Sementara di Cengal, tidak lagi terdeteksi fire spot.
“Perusahaan menunjukkan effort untuk ikut membantu melakukan pencegahan dan pemadaman," katanya.


















