BPBD Minta Tambah 2 Heli Water Bombing Padamkan Karhutla di Sumsel

- BPBD Sumsel meminta tambahan dua helikopter water bombing dari BNPB untuk mempercepat pemadaman karhutla, terutama di lokasi yang sulit dijangkau tim darat.
- Dengan tambahan tersebut, Sumsel menyiagakan sembilan armada udara: tujuh helikopter water bombing dan dua helikopter patroli, sambil mengevaluasi penanganan bersama satgas.
- Musim kemarau diperkirakan memuncak hingga Oktober saat El Nino kuat; BPBD mengandalkan pemadaman darat dan OMC serta mengimbau warga tidak membuka lahan dengan membakar.
Palembang, IDN Times - Kondisi hotspot atau titik panas terus bermunculan di kabupaten dan kota di Sumsel hari ini. Kondisi ini berpotensi mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumsel, sehingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meminta tambahan helikopter water bombing kepada pemerintah pusat.
"Kita sudah berkirim surat ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk penambahan heli. Sekali dengan adanya tambahan diharapkan nanti bisa mempercepat penanganan kebakaran, terutama untuk daerah-daerah yang aksesnya jauh," ungkap Kepala Pelaksana BPBD Sumatera Selatan, Iqbal Alisyahbana, Senin (10/8/2026).
1. Ada sembilan unit siaga di Palembang

Helikopter waterboombing (WB) disiagakan untuk memadamkan api karhutla di wilayah OKI (IDN Times/Rangga Erfizal) Iqbal menjelaskan, dari permintaan penambahan helikopter pihaknya mendapatkan dua unit yang akan bertugas di Sumsel. Helikopter tersebut akan mengangkut air ke lokasi karhutla yang jauh dari akses tim darat.
"Untuk total armada udara yang disiagakan, kini mencapai sembilan unit yang terdiri dari tujuh helikopter waterbombing dan dua helikopter patroli," jelasnya.
2. Lakukan koordinasi penanganan karhutla

Ilustrasi karhutla di Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal) Selain memperkuat operasi udara, pihak BPBD terus melakukan evaluasi penanganan karhutla yang akan dilakukan bersama seluruh satuan tugas. Langkah ini diambil untuk memastikan penanganan sesuai tupoksi pencegahan karhutla.
"Nanti kita akan mengevaluasi dan menerima laporan langkah-langkah apa saja yang sudah dilakukan," jelasnya.
3. Oktober jadi puncak kemarau

Kondisi Karhutla di Desa Palem Raya, asap nyaris masuk ke area Tol Palindra. (Dok. Manggala Agni) BPBD juga masih mengandalkan operasi pemadaman melalui jalur darat serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, pertumbuhan awan hujan dalam dua hari terakhir dinilai masih relatif tipis sehingga belum banyak membantu penanganan di lapangan.
Kondisi kemarau turut diperberat oleh fenomena El Nino yang berdasarkan pemantauan BMKG berada pada kategori kuat dan diproyeksikan bertahan hingga Oktober.
"Dari pantauan satelit dan patroli udara, memang kebakaran ini sebagian besar diakibatkan oleh ulah manusia. Berdasarkan data BMKG, bulan Agustus sampai Oktober ini puncak musim kemarau dan El Nino sudah termasuk level kuat, jadi kami minta kepada masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar," jelasnya.















