Kenapa Kabut Asap Karhutla Kembali Selimuti Palembang? Ini Penjelasan BMKG

Kabut asap kembali menyelimuti Palembang akibat ratusan titik panas di Sumsel, dengan asap karhutla terdorong angin kencang 8–10 knots menuju kota.
Pada pagi hari, asap dapat turun dan menumpuk dekat permukaan sehingga jarak pandang menurun; saat siang lebih panas, asap terangkat lalu tersebar angin.
Pemerintah Sumsel menyoroti pembakaran lahan dan sampah, serta akan meminta DLHP menerbitkan edaran kepada daerah untuk mengingatkan warga agar tidak membakar apa pun.
Palembang, IDN Times - Kabut asap kembali menyelimuti Kota Palembang hari ini setelah sebelumnya kondisi cuaca sempat membaik. Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh banyaknya asap dari wilayah karhutla, tetapi juga oleh pergerakan angin dan perubahan kondisi udara sepanjang hari.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengatakan ratusan titik panas yang kembali muncul di Sumsel menghasilkan asap yang kemudian terbawa menuju Palembang.
"Asap terbawa angin dari daerah-daerah yang sedang terbakar makin kuat terdorong masuk untuk mengepung Kota Palembang," ungkap Siswanto kepada IDN Times, Jumat (25/9/2026).
1. Angin kencang membawa asap ke Palembang

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Siswanto menyebut kondisi atmosfer saat ini turut mendukung penyebaran asap dari wilayah karhutla ke Palembang. Asap yang terbawa angin kemudian terkonsentrasi di sekitar permukaan sehingga kabut asap lebih terasa pada waktu tertentu.
"Angin yang bertiup lebih kencang, tercatat sekitar 8-10 knot," jelasnya.
2. Perubahan pergerakan udara pengaruhi jarak pandang

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Menurutnya, kondisi kabut asap juga dapat berubah antara pagi dan siang hari. Pada pagi hari, ketika matahari mulai memanaskan permukaan daratan, asap yang berada di lapisan atas dapat turun dan menumpuk di dekat permukaan.
Akibatnya, konsentrasi asap lebih terasa dan jarak pandang di sejumlah wilayah dapat menurun. Namun, kondisi tersebut tidak selalu bertahan hingga siang. Ketika permukaan tanah semakin panas, udara di dekat permukaan bergerak naik.
"Ketika memasuki siang hari, suhu permukaan tanah menjadi sangat panas. Karena udara panas secara alami bergerak naik, asap yang menumpuk di bawah tadi terangkat kembali tinggi ke langit dan disebarkan oleh angin," ujarnya.
Perubahan pergerakan udara tersebut membuat kondisi jarak pandang di Palembang dapat kembali membaik pada siang hari. Fenomena itu menjelaskan mengapa kabut asap dapat terasa lebih pekat pada pagi hari, kemudian berkurang ketika permukaan daratan semakin panas.
3. Minta masyarakat tidak membakar apapun di lingkungannya

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Terpisah, Gubernur Susel, Herman Deru, menyebut masih menemukan beberapa pihak yang secara sengaja membakar lahan memanfaatkan kondisi kemarau. Pembakaran lahan ataupun sampah dinilai membahayakan masyarakat akibat paparan polusi dan potensi kebakaran yang meluas.
"Kemarin contoh, saya habis ngantar cucu sekolah. Lah, kok di tengah kota ada orang bakar-bakar di kebunnya, itu kan kesadaran," jelasnya.
Untuk mencegah pembakaran sembarangan, Deru akan meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel membuat surat edaran kepada pemerintah kabupaten dan kota.
"Saya akan bersurat. Ini di DLHP ada. Saya akan suruh buatkan edaran ke bupati wali kota itu untuk mengingatkan masyarakat atas peningkatan kesadaran untuk tidak membakar apa pun di halaman rumah," ujarnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)

















