Karantina Indonesia: Teknologi AI Dorong Pertanian Sumsel Adaptif

Karantina Indonesia menilai AI, IoT, drone, sensor, citra satelit, big data, dan bioteknologi dapat membangun pertanian Sumsel yang presisi, adaptif, serta memperkuat biosekuriti.
Karantina Sumsel menggelar program praktisi di Fakultas Pertanian Unsri untuk memperkuat kerja sama dan mengenalkan perkarantinaan kepada mahasiswa sebagai pelindung sumber daya hayati.
Biosekuriti bertujuan menekan risiko organisme pengganggu tumbuhan, penyakit hewan, dan spesies invasif melalui pengawasan pre-border hingga post-border berbasis risiko, surveilans, diagnostik, serta ketertelusuran.
Palembang, IDN Times - Sektor pertanian Sumatra Selatan mampu mengikuti perkembangan teknologi dan digitalisasi perubahan zaman. Selain membuka peluang untuk membangun sistem pertanian yang makin presisi dan adaptif, pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut memperkuat biosekuriti karantina Indonesia.
"Selain AI, teknologi Internet of Things (IoT), drone, sensor, citra satelit, big data, hingga pengembangan bioteknologi mampu bertransformasi lebih kuat dalam membangun sistem biosecurity," ujar Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding, dikutip Jumat (25/9/2026).
Table of Content
1. Karantina berperan melindungi sumber daya hayati

Lahan Pertanian Terasering di Perbukitan (Pexels / Tom Fisk) Sebelumnya, Karantina Indonesia terus mendorong generasi muda agar lebih peka terhadap peluang pertanian. Salah satunya adalah memberikan program praktisi yang melibatkan pegawai Karantina untuk berbagi pengalaman perkarantinaan kepada mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya pada 24 September 2026.
Menurut Kepala Karantina Sumsel, Sri Endah Ekandari, kegiatan Goes to Campus sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama yang telah terjalin antara Karantina Sumsel dan Unsri.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami pertanian dari sisi produksi, tetapi juga mengenal pentingnya perkarantinaan dalam melindungi sumber daya hayati," kata dia.
2. Mahasiswa diharapkan mampu membangun pertanian ke depan

ilustrasi Indonesia, sawah, pertanian, padi (pexels.com/Irgi Nur Fadil) Endah menyampaikan, teknologi harus sejalan dengan pengenalan biosecurity kepada mahasiswa. Sebab katanya, melalui perkembangan digital, generasi emas dapat melanjutkan pembangunan sektor pertanian.
“Mahasiswa adalah generasi yang akan melanjutkan pembangunan pertanian ke depan, sehingga pemahaman dan kepedulian terhadap kekarantinaan perlu mulai ditumbuhkan sejak di bangku kuliah,” kata dia.
3. Inovasi tanpa biosecurity menciptakan risiko

ilustrasi pertanian (magnific.com/wirestock) Berdasarkan konteks perkarantinaan, biosecurity penting dipahami karena mampu mengurangi risiko masuknya dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan, penyakit hewan, serta organisme asing invasif.
Biosecurity ini katanya, termasuk pengawasan pendekatan pre-border, border, hingga post-border yang perlu diperkuat dengan manajemen berbasis risiko, surveilans, diagnostik, dan ketertelusuran.
"Inovasi tanpa biosecurity menciptakan risiko, dan biosecurity tanpa inovasi akan tertinggal," jelasnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















