Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

BKSDA Lacak Serangan Beruang Madu di Musi Rawas

BKSDA Lacak Serangan Beruang Madu di Musi Rawas
BBKSDA bersama personil Polsek Jayaloka saat menyisir kebun lokasi serangan beruang. (Dok. Polsek Jayaloka)
Intinya Sih
  • Tim melakukan pemetaan sejumlah titik yang diduga menjadi jalur perlintasan beruang madu

  • Jika satwa ini terpantau sudah mendekati permukiman maka akan dievakuasi

  • Diduga korban dan beruang sama-sama terkejut saat berpapasan di kebun

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Musi Rawas, IDN Times - ‎Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama Polsek Jayaloka dan warga setempat melakukan pengecekan lokasi dan survei serta rencana pemasangan perangkap beruang di Dusun Kertayasa, Desa Ciptodadi I, Kecamatan Sukakarya, Musi Rawas, Rabu (20/5/2026).

Upaya ini dilakukan sejak adanya laporan serangan beruang ke warga setempat yang berkebun. Di lokasi, petugas gabungan melakukan penyisiran area perkebunan guna mengidentifikasi jejak kaki serta tanda-tanda keberadaan satwa liar tersebut. Tim juga melakukan pemetaan sejumlah titik yang diduga menjadi jalur perlintasan beruang madu untuk menentukan lokasi efektif pemasangan perangkap yang telah disiapkan Tim BKSDA Kabupaten Lahat.

1. Jika satwa ini terpantau sudah mendekati permukiman, maka akan dievakuasi

BBKSDA bersama personil Polsek Jayaloka saat menyisir kebun lokasi serangan beruang
BBKSDA bersama personil Polsek Jayaloka saat menyisir kebun lokasi serangan beruang. (Dok. Polsek Jayaloka)

Kasi Konservasi Wilayah (SKW) II BKSDA Sumsel, Yusmono, membenarkan pihaknya telah menerima laporan insiden tersebut dan langsung mengirimkan tim penyelamat dari Lahat ke TKP.

"Tim sudah turun ke TKP untuk mengecek dan memastikan posisi keberadaan beruang tersebut. Kami juga membawa kandang jebak. Jika satwa ini terpantau sudah mendekati permukiman warga, maka akan langsung kami evakuasi. Namun, jika posisinya masih berada jauh di dalam hutan akan kita biarkan," ujarnya, Rabu (21/5/2026).

2. Diduga korban dan beruang sama-sama terkejut saat berpapasan di kebun

ilustrasi beruang madu (commons.wikimedia/Wichyanan)
ilustrasi beruang madu (commons.wikimedia/Wichyanan)

Yusmono menjelaskan, karakter asli beruang madu sebenarnya tidak agresif terhadap manusia. Hewan omnivora ini biasanya hanya akan menyerang jika dalam kondisi terdesak, kaget, atau saat sedang melindungi anaknya. Dalam kasus di Musi Rawas, diduga kuat antara korban dan beruang sama-sama terkejut saat berpapasan di area kebun yang berbatasan dengan hutan kecil.

"Pola hidup beruang itu keliling untuk mencari makan. Jika di suatu wilayah tersedia banyak sumber makanan, mereka bisa menetap selama 7 hingga 10 hari bahkan membuat sarang sebelum akhirnya berpindah lagi," ungkapnya.

Selain melakukan pelacakan, tim BKSDA juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat setempat mengenai status beruang sebagai satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang. Warga dilarang keras untuk melukai, menangkap, apalagi membunuh satwa tersebut.

"Kami mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, hindari beraktivitas terlalu pagi atau terlalu sore di sekitar lokasi kejadian dan segera menghindar jika berpapasan," tegas Yusmono.

3. Pemasangan perangkap belum dilakukan karena posisi sarang utama tak ditemukan

ilustrasi beruang madu (unsplash.com/John Thomas)
ilustrasi beruang madu (unsplash.com/John Thomas)

Sementara itu, Kapolres Musi Rawas, AKBP Agung Adhitya Prananta mengatakan, pihaknya bersama pemerintah daerah dan BKSDA akan terus melakukan langkah-langkah penanganan secara maksimal agar keberadaan satwa liar ini tidak kembali membahayakan masyarakat.

"Dari hasil kegiatan tersebut, petugas berhasil memperoleh gambaran medan serta titik-titik yang diduga menjadi lintasan satwa liar. Namun pemasangan perangkap belum dapat dilakukan karena posisi sarang utama beruang madu masih dalam proses pencarian lebih lanjut," ujarnya.

Sesuai hasil koordinasi bersama, Tim BKSDA bersama personel Polsek Jayaloka dijadwalkan kembali melaksanakan tracking lanjutan guna memastikan titik pemasangan perangkap yang paling efektif.

"Kami berharap kehadiran petugas gabungan di lapangan dinilai mampu mengurangi rasa cemas masyarakat terhadap ancaman hewan buas tersebut," jelasnya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani

Latest News Sumatera Selatan

See More