Sektor Pertanian Sumsel Merosot Terdampak Pelemahan Nilai Rupiah

- Pelemahan nilai rupiah membuat sektor pertanian dan peternakan Sumsel terdampak, terutama penurunan permintaan ekspor akibat naiknya biaya angkut dan distribusi.
- Sektor pertanian masih menjadi penopang utama ekonomi Sumsel dengan produksi padi 2025 mencapai 3,63 juta ton GKG, meningkat dari tahun sebelumnya.
- APINDO Palembang menilai pelemahan rupiah menekan biaya produksi industri berbasis impor dan mendesak pemerintah menjaga stabilitas nilai tukar agar dunia usaha tidak semakin terbebani.
Palembang, IDN Times - Pelemahan nilai rupiah kini mulai dirasakan sejumlah sektor unggul Sumatra Selatan. Salah satunya dari kelompok pertanian dan peternakan. Industri tersebut mengalami efek cukup signifikan dari sisi permintaan pasar global. Yakni permintaan pengiriman luar negeri perlahan menurun.
"Beberapa peternak ayam di Palembang sudah menyampaikan bahwa permintaan dari luar menurun karena ongkos angkut naik," kata Pengamat Ekonomi Sumsel Sri Rahayu, Rabu (20/5/2026).
1. Penguatan kurs dolar berdampak berantai di Indonesia

Permintaan pengiriman yang mengalami kemerosotan termasuk pengiriman telur ayam. Secara umum, permintaan masih tinggi, tetapi karena butuh distribusi dan biaya kirim, permintaan pasar turun. Bukan karena kebutuhan yang cukup, tapi pembatasan permintaan dipengaruhi nilai rupiah yang lemah.
"Memang masyarakat melakukan transaksi sehari-hari menggunakan rupiah, tapi dampak pelemahan kurs dolar memiliki efek berantai terhadap perekonomian nasional hingga ke tingkat desa," jelasnya.
2. Kehutanan dan perikanan Sumsel turut berkontribusi terhadap ekonomi daerah

Sementara kata Kepala Bank Indonesia Kantor Wilayah Sumsel, Bambang Pramono, pertumbuhan ekonomi sejak tahun 2025 ditopang cukup tinggi dari sektor pertanian. Sebab Sumsel, termasuk salah satu provinsi lumbung pangan.
"Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga memberikan kontribusi signifikan (dorong pertumbuhan ekonomi Sumsel)," kata dia.
Bukti nyata, pertanian daerah mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi dilihat dari hasil produksi panen padi hasil pemerintah konsisten mengembangkan perluasan lahan sawah.
Tercatat pada 2025, produksi padi Sumsel mencapai 3,63 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka itu meningkat signifikan dibandingkan 2024 sebesar 2,91 juta ton GKG.
3. Sumsel potensi hasilkan 5 juta gabah kering giling

Pemerintah daerah kata Bambang, berharap akan ada peningkatan hasil produksi GKG lebih besar apabila hasil cetak sawah berjalan optimal. Secara potensi, panen GKG Sumsel dapat meningkat hingga 5 juta ton dan membawa Sumsel masuk peringkat dua besar nasional.
Keyakinan tersebut lanjutnya, didorong dari laporan Badan Pusat Statistik Sumssl yang menyatakan adanya peningkatan luas baku sawah yang sebelumnya mencapai 514 ribu hektare kini telah meningkat menjadi 579 ribu hektare.
4. Dunia usaha Sumsel turut merasakan dampak rupiah melemah

Sementara menurut Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kota Palembang, Gordon Butar Butar, pelemahan rupiah terhadap dolar AS memberi tekanan langsung terhadap struktur biaya dunia usaha. Sebab katanya, sejumlah sektor industri nasional masih bergantung pada bahan baku impor sehingga kenaikan kurs dolar akan berdampak pada biaya produksi.
"Pasti berdampak pada dunia usaha, karena setiap barang pasti akan menyesuaikan harga terbaru," ujarnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan, situasi lemahnya rupiah ini perlu adi perhatian serius pemerintah, baik dari pusat maupun daerah. Indonesia perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, sehingga pelaku usaha tidak makin terbeban.
"Kami harap sebagai pengusaha, agar pemerintah segera mengintervensi terhadap penyelesaian masalah akibat melemahnya rupiah terhadap dolar," jelas dia.

















