Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Asal-usul Nama Panda, Sapi Kurban Presiden Prabowo di Palembang

Asal-usul Nama Panda, Sapi Kurban Presiden Prabowo di Palembang
Kandang hewan kurban jelang hari raya Idul Adha di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)
Intinya Sih

  • Sapi bernama Panda, berbobot 964 kilogram, terpilih menjadi hewan kurban Presiden Prabowo di Palembang.

  • Tedjo, peternak asal Palembang, memelihara Panda selama lebih dari satu tahun dengan pakan intensif seperti ampas tahu, konsentrat, vitamin, serta perawatan khusus agar tetap sehat.

  • Usaha peternakan keluarga Tedjo berdiri sejak 1996 dan menerapkan sistem bank pakan untuk menjaga ketersediaan rumput; ia menjual berbagai jenis sapi mulai Rp17 juta.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Palembang, IDN Times - Sapi berbobot 964 kilogram yang terpilih menjadi hewan kurban Presiden Prabowo Subianto di Palembang memiliki nama unik: Panda. Penamaan itu bukan tanpa alasan, melainkan terinspirasi dari warna tubuhnya yang menyerupai hewan asal Tiongkok panda.

Peternak sapi, Tedjo, mengatakan nama “Panda” disematkan karena warna tubuh sapi yang dominan hitam dengan bagian wajah putih. Kombinasi warna tersebut membuat sapi ini terlihat khas dan berbeda dari sapi lainnya.

"Karena jenisnya (warna) seperti panda, warna hitam putih di wajahnya seperti memakai kacamata," ungkap Tedjo saat ditemui IDN Times, Rabu (19/5/2026).

1. Panda punya bobot dan nafsu makan yang besar

Kandang hewan kurban jelang hari raya Idul Adha di Palembang
Kandang hewan kurban jelang hari raya Idul Adha di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Sapi jenis simental tersebut telah dipelihara selama lebih dari satu tahun, sejak dibeli dari peternakan di Lampung. Saat ini, usianya sekitar tiga tahun dan menjadi salah satu sapi dengan bobot besar yang dipersiapkan untuk kurban Presiden Prabowo.

Selama proses pemeliharaan, Tedjo mengaku memberikan perawatan khusus dengan pakan yang cukup intensif setiap hari. Ia menyebut kebutuhan pakan sapi besar seperti Panda cukup tinggi.

"Untuk ampas tahu sekitar 15 kilogram per hari, sedangkan konsentrat 2 sampai 3 kilogram. Ada juga vitamin dan pakan tambahan lainnya," jelasnya.

2. Usaha peternakan sudah berlangsung sejak 1996

IMG-20260520-WA0016.jpg
Kandang hewan kurban jelang hari raya Idul Adha di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Meski biaya perawatan cukup besar, Tedjo mengaku tetap menikmati pekerjaannya sebagai peternak sapi. Ia menilai hubungan antara peternak dan ternak harus dibangun agar menjadi kunci sapi tetap sehat. "Untuk menjadi peternak, kita harus sejiwa dengan ternak supaya dia (hewan ternak) tidak stres," jelasnya.

Tedjo juga bersyukur sapi bernama Panda tersebut terpilih menjadi hewan kurban Presiden Prabowo untuk Kota Palembang. "Perasaannya bersyukur sapi Panda ini terpilih menjadi sapi kurban dari Presiden Prabowo untuk Kota Palembang," ungkapnya.

3. Punya bank pakal untuk penuhi kebutuhan sapi

Kandang hewan kurban jelang hari raya Idul Adha di Palembang
Kandang hewan kurban jelang hari raya Idul Adha di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Ia juga menjelaskan, dalam perawatan ternak ia menerapkan konsep "bank pakan" agar kebutuhan sapi dapat terpenuhi secara stabil. Dengan bank pakan, dia tak perlu khawatir dengan rumput karena dapat dipanen dua pekan sekali.

Usaha peternakan sapi yang dimiliki Tedjo merupakan usaha keluarga yang sudah ada sejak tahun 1996 silam. Di peternakannya, ia menyediakan berbagai jenis sapi, seperti Bali, simental, Madura, hingga persilangan Bali-Madura.

"Sapi Bali menjadi jenis yang paling banyak diminati pembeli karena memiliki tulang kecil namun daging yang lebih banyak," katanya. Untuk harga, sapi yang dijual di peternakannya dibanderol mulai dari Rp17 juta, tergantung jenis dan ukuran sapi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ita Lismawati F Malau
EditorIta Lismawati F Malau

Latest News Sumatera Selatan

See More