Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Stok LPG 3 Kg Muba Aman, Warga Terbantu Gas Alam untuk Rumahan
Disdagperin Muba saat memantau agen gas subsidi di Sekayu. (Dok. Disdagperin Muba)
  • Kebutuhan LPG 3 Kg di Sekayu tidak terlalu tinggi karena sebagian besar masyarakat sudah menggunakan gas alam,
  • Hanya sedikit bagian warga dan UMKM yang membutuhkan gas melon.
  • Dinas Perdagangan dan Perindustrian Muba memantau langsung distribusi, stok, dan pasokan gas untuk mengantisipasi kelangkaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Musi Banyuasin, IDN Times - Usai keluarnya kebijakan pemerintah pusat yang melarang penjualan LPG 3 Kg di tingkat pengecer, kini untuk di wilayah Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumsel sudah tak terlihat lagi pengecer yang menjual gas melon ini.

Bahkan banyak pengecer yang melaporkan tidak menerima pasokan dari pangkalan lebih dari satu minggu ini. Sedangkan distribusi di tingkat agen masih berjalan normal, dengan pasokan stabil sesuai jadwal mingguan.

Kebutuhan LPG 3 Kg di Sekayu juga tidak terlalu tinggi seperti beberapa daerah lain. Karena sebagian besar masyarakat di Sekayu sudah menggunakan gas alam untuk rumah tangga. Sehingga tidak merasakan kelangkaan gas seperti daerah lainnya. Meskipun masih ada sebagian warga yang menggunakan gas melon termasuk untuk UMKM di Sekayu.

1. Jargas hanya untuk rumah tangga, UMKM masih LPG 3 Kg

(Warga Sekayu Muba saat menggunakan gas alam) IDN Times/Yuliani

Yuni, salah satu warga Perumahan Griya Bumi Lestari Kelurahan Balai Agung Sekayu merasa bersyukur tidak bersusah payah mendapatkan elpiji subsidi seperti daerah lain. Karena sudah dua tahun ini dirinya menggunakan gas alam yang telah mengalir ke rumahnya.

"Alhamdulillah sudah pakai jargas. Di daerah kami juga sudah lama nggak pakai gas melon. Namun beberapa rumah makan kecil dan penjual makanan keliling masih gunakan gas melon," ujarnya.

Sementara Rahmat, pedagang pentol keliling mengaku kini harus pergi ke pangkalan langsung untuk mencari gas melon yang sering dipakai untuk berjualan. Dirinya biasa membeli di pangkalan LPG 3 Kg di Ruko Permata Randik milik Saparudin dengan harga sesuai HET atau Rp20 ribu.

"Terakhir saya beli masih ada, cuma memang dibatasi nggak boleh bawa banyak tabung. Kami sempat khawatir lihat berita kalau harus mengantre beli gas," ungkapnya.

2. Disdagperin turun langsung pantau ketersediaan gas

Salah satu pangkalan gas elpiji di Sekayu. (Dok. Disdagperin Muba)

Untuk mengantisipasi kelangkaan, Pemkab Muba melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian langsung bergerak cepat melakukan pemantauan distribusi, stok, dan pasokan gas. Tim pemantau yang dipimpin oleh Kadisdagperin Muba Azizah, turun ke lapangan untuk memastikan kelancaran pasokan.

"Untuk di pangkalan masih terpantau aman, dengan pasokan yang dilakukan 1-2 kali per minggu dan harga tetap sesuai HET," ujarnya, Selasa (3/2/2025).

3. Pastikan konversi pengecer ke pangkalan berjalan lancar

Salah satu pangkalan gas elpiji di Sekayu. (Dok. Disdagperin Muba)

Azizah mengingatkan semua pihak untuk mematuhi larangan penjualan gas di pengecer. Masyarakat diimbau untuk membeli gas langsung dari pangkalan resmi yang ditunjuk.

"Nanti kami akan mengadakan rapat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Pertamina, BPH Migas, dan Dinas ESDM Provinsi. Rapat ini bertujuan untuk membahas konversi pengecer menjadi pangkalan serta memastikan semua pihak memahami dan memenuhi ketentuan yang ada," ungkapnya.

Editorial Team