Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ancaman Karhutla Meningkat, Ada 542 Titik Hotspot di Sumsel Sepanjang Mei

Ancaman Karhutla Meningkat, Ada 542 Titik Hotspot di Sumsel Sepanjang Mei
Ilustrasi karhutla di Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)
Intinya Sih
  • BPBD Sumsel mencatat lonjakan signifikan titik panas mencapai 542 hotspot sepanjang Mei 2026, menandakan meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah provinsi.
  • Pemerintah daerah diminta segera menetapkan status siaga karhutla agar langkah pencegahan dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi di wilayah rawan kebakaran.
  • Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar karena hampir seluruh wilayah Sumsel kini rentan terbakar akibat kondisi tanah dan vegetasi yang mulai mengering.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Palembang, IDN Times -‎ Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan mencatat jumlah titik panas (hotspot) di Sumsel mengalami peningkatan signifikan. Setelah sebelumnya tercatat 81 titik, kini hotspot harian melonjak menjadi 117 titik, menandakan meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

Hingga 30 Mei 2026, terdapat 542 titik panas yang terpantau sepanjang bulan Mei. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. BPBD Sumsel pun mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat langkah-langkah pencegahan sejak dini.

1. Lonjakan hotspot terjadi di tengah kondisi cuaca panas dan mulai berkurangnya curah hujan

Helikopter pemadam Karhutla di Sumsel. (IDN Times/Rangga Efrizal)
Helikopter pemadam Karhutla di Sumsel. (IDN Times/Rangga Efrizal)

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman mengatakan, peningkatan jumlah hotspot tersebut menjadi sinyal eskalasi ancaman karhutla di berbagai wilayah Sumsel, terutama di daerah yang selama ini dikenal rawan kebakaran.

"Terjadi peningkatan signifikan angka hotspot pada beberapa hari di akhir Mei ini. Hal ini seiring dengan masuknya musim kemarau di seluruh wilayah Sumsel," ujarnya, Minggu (31/5/2026).

Menurutnya, lonjakan hotspot terjadi di tengah kondisi cuaca panas dan mulai berkurangnya curah hujan di sejumlah daerah. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan apabila tidak diantisipasi sejak dini.

BPBD Sumsel mencatat, pada Januari 2026, hotspot tercatat sebanyak 75 titik, Februari 54 titik, Maret 107 titik, dan April 150 titik. Sementara sepanjang tahun 2026, total hotspot yang terpantau telah mencapai 928 titik.

"Kabupaten Lahat menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi sebanyak 209 titik, disusul Muara Enim 179 titik dan Musi Banyuasin 110 titik," jelasnya.

2. Status siaga penting agar pemda lebih siap melakukan pencegahan

Helikopter pemadaman karhutla di Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)
Helikopter pemadaman karhutla di Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)

Berdasarkan data BPBD Sumsel per 31 Mei 2026, terdapat 28 hotspot yang terpantau pada pukul 05.30 WIB. Sebarannya berada di Muara Enim sebanyak 12 titik, Lahat 8 titik, Muratara 5 titik, Musi Banyuasin 2 titik, dan Ogan Ilir 1 titik.

Selain itu patroli udara yang dilakukan Subsatgas Udara pada 30 Mei 2026 menemukan enam kejadian karhutla, masing-masing di Muara Enim dan PALI sebanyak dua lokasi, serta Banyuasin dan Musi Banyuasin masing-masing satu lokasi.

Menghadapi kondisi tersebut, Sudirman meminta pemerintah daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla segera menetapkan status siaga agar upaya pencegahan dan penanganan dapat dilakukan lebih optimal.

"Status siaga penting agar pemerintah daerah lebih siap dalam melakukan pencegahan dan penanganan, karena di beberapa wilayah sudah terjadi karhutla," tegasnya.

3. Hampir seluruh wilayah Sumsel memiliki potensi kemudahan terjadinya kebakaran

ilustrasi Karhutla. (Dok. Manggala Agni)
ilustrasi Karhutla. (Dok. Manggala Agni)

Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.bWarga diminta segera melapor kepada aparat setempat apabila menemukan asap maupun titik api di kawasan hutan, perkebunan, atau lahan kosong di sekitar tempat tinggal mereka.

"Hampir seluruh wilayah Sumsel saat ini memiliki potensi kemudahan terjadinya kebakaran karena lapisan atas permukaan tanah, termasuk lahan gambut dan semak belukar, mulai mengering akibat musim kemarau," ucap Sudirman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest News Sumatera Selatan

See More