Ngobrol Bareng Ahli Epidemiologi Sumsel: Bahas TBC dan Penyebarannya

- Kasus TBC di Sumsel, terutama Palembang, masih minim edukasi dan literasi bagi masyarakat.
- Indonesia berada di jajaran tiga besar negara dengan beban TBC tertinggi di dunia.
- Penanganan kasus TBC membutuhkan strategi pengendalian dan terapi pencegahan yang holistik dan berbasis komunitas.
Palembang, IDN Times - Dentingan suara telepon genggam jadi penanda pesan masuk. Bunyi yang sering dan berkali-kali mengisyaratkan notifikasi pesan harus segera dibaca. Kali ini, pemberitahuan masuk dari aplikasi WhatsApp. Muncul dari pratinjau gawai, laporan sepintas mengenai kasus Tuberkulosis (TBC) di Sumatra Selatan (Sumsel).
Informasi itu, detail dan valid disampaikan Ahli Epidemiologi dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Iche Andriyani Liberty. Iche menuliskan lengkap soal kasus TBC dan penyebarannya di Sumsel termasuk Kota Palembang. Selain penjabaran jelas dan respons cepat, ia pun merinci tingkat penyebaran TBC saat reporter IDN Times membahas dan mengonfirmasi soal penyakit menular mematikan ini.
1. Anak di bawah lima tahun termasuk pasien TBC tertinggi di Palembang

Beberapa waktu lalu, di medio Agustus, IDN Times menghubungi Iche perihal TBC yang jadi salah satu penyakit dengan penyebab kematian TBC tertinggi di dunia. Tetapi persoalan itu masih minim edukasi dan literasi, termasuk bagi masyarakat Sumsel.
Terlebih sepekan belakang, ada kasus viral mengenai keluarga pasien TBC yang memaksa tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Musi Banyuasin untuk membuka masker di hadapan pasien TBC. Kondisi ini jadi wujud nyata jika penularan penyakit TBC di publik memang masih minim informasi dan pemahaman ilmu mendalam.
Iche menjelaskan, TBC saat ini masih menjelma sebagai ancaman serius di Sumsel. Situasi tersebut diperkuat dengan data yang dilaporkan dinas kesehatan setempat. Yakni Kota Palembang masih mendominasi penyebaran kasus TBC di usia produktif.
"Anak di bawah lima tahun dan kelompok usia lanjut dengan penyakit penyerta memang rentan. Tapi di Palembang, kasus justru banyak ditemukan pada usia produktif yang aktif berinteraksi di lingkungan kerja maupun sosial," ujarnya.
2. Palembang jadi kota penyumbang tertinggi pasien TBC di Sumsel

Permasalahan TBC yang tinggi, tak hanya berlangsung di Palembang. Berdasarkan data global dan nasional tahun 2025 TBC memang masih bersifat sementara. Namun, proyeksi Organisasi Kesehatan Dunia WHO, menunjukkan Indonesia tetap berada di jajaran tiga besar negara dengan beban TBC tertinggi di dunia.
"Setiap tahunnya diperkirakan ada lebih dari 1 juta kasus TBC di Indonesia dengan sekitar 125 ribu kematian, atau setara dengan 14 orang meninggal setiap jam akibat TBC,” jelas Iche.
Persoalan serius ini, lanjut Iche, harus mendapatkan penanganan tepat dari kerjasama lintas sektor. Iche merinci di tingkat nasional ada 374.685 kasus yang sudah ditemukan. Angka ini masih mungkin bertambah karena 2025 masih berjalan dan belum berakhir.
Sementara menelaah dari kondisi di Sumsel dan Palembang, dinas kesehatan mencatat pada 2024 terdapat 23.420 kasus TBC dari estimasi 37.946 kasus. Tingkat cakupan pengobatan atau treatment coverage bahkan mencapai 62 persen. Berdasarkan jumlah tersebut, sebagian besar merupakan TBC Sensitif Obat (TBC-SO) berjumlah 23.056 kasus, dan TBC Resisten Obat (TBC-RO) ditemukan di angka 364 kasus.
"Palembang sebagai kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di Sumsel menjadi wilayah dengan jumlah kasus dominan," kata dia.
3. Penyebaran TBC cepat menular luas disebabkan berbagai faktor

Lebih detail, Iche menerangkan, TBC bisa menyebar cepat di masyarakat. Penyebabnya, karena bakteri mycobacterium tuberculosis yang menular melalui udara. Penularan terjadi ketika penderita batuk, bersin, atau meludah hingga melepaskan percikan dahak.
"Istilahnya droplet nuclei atau percikan dahak ke udara," ujarnya.
Iche menjelaskan, ada sejumlah faktor yang mempercepat penyebaran TBC. Yakni, keterlambatan diagnosis dan pengobatan, kepadatan penduduk dan rumah dengan ventilasi buruk serta adanya stigma sosial dan membuat pasien enggan berobat dini.
"Kemudian dari pengobatan tidak tuntas, menimbulkan resistensi obat (MDR-TB)," jelasnya.
Ia menambahkan, faktor lingkungan serta perilaku pun berperan penting. Kebiasaan merokok, buang dahak sembarangan hingga rumah minim pencahayaan dan ventilasi, memicu penyebaran makin cepat berlangsung. Apalagi kata Iche, jika penderita kasus TBC tinggal di kawasan padat penduduk yang mendorong risiko penularan makin tinggi.
4. Vaksinasi dan PHBS jadi salah satu kegiatan yang bisa menekan angka TBC

Secara umum, jelas dia, penanganan kasus TBC membutuhkan strategi pengendalian dan terapi pencegahan. Menurut Iche, strategi pengendalian TBC harus holistik dan berbasis komunitas dengan berbagai upaya dan langkah konkret, mencakup penelusuran kontak erat dan skrining TB laten, peningkatan kapasitas laboratorium molekuler, misalnya GeneXpert untuk diagnosis cepat hingga pemanfaatan teknologi digital.
"Tujuannya, untuk memastikan kepatuhan minum obat," kata dia.
Iche pun menguraikan, kasus TBC bisa ditekan lewat edukasi terkait Terapi Pencegahan Tuberkulosis atau TPT. Terapi ini jelasnya, diperuntukkan bagi orang yang sudah terinfeksi bakteri namun belum sakit atau TB laten.
Sementara kata Iche, masyarakat juga butuh menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) agar kasus ini tidak makin besar. Ia mencontohkan, di Indonesia, vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) masih digunakan sebagai imunisasi dasar untuk bayi. Namun, efektivitasnya terhadap TBC paru pada orang dewasa dinilai terbatas.
"Saat ini, uji klinis fase 3 vaksin M72 dengan efikasi sekitar 50 persen pada TB laten sedang berlangsung dan menuai pro-kontra di masyarakat," ujarnya.
5. Risiko penderita TBC meningkat jika pengobatan tidak dilakukan tuntas

Menangani persoalan TBC tidak berhenti di masyarakat dan peran tenaga medis. Pemerintah daerah serta komunitas pun jadi stakholder vital upaya mengatasi kasus TBC agar tidak kian tinggi di daerah dan nasional. Meski, pemerintah membentuk Tim Percepatan Penanggulangan TBC (TP2TB) secara lintas sektor. Tetapi, lanjutnya, kolaborasi sempurna juga harus melibatkan lembaga, media, dan pemanfaatan dana desa.
"Sejumlah langkah konkret sudah dilakukan, seperti investigasi kontak erat, skrining pada kelompok berisiko tinggi, pendampingan pengobatan, hingga monitoring berbasis komunitas melalui platform Lapor TBC," kata dia.
Namun, menurut Iche, tantangan di lapangan tetap besar dan memerlukan pendekatan interdisipliner. Termasuk dukungan anggaran yang lebih besar, serta kemitraan internasional untuk riset vaksin, diagnosis, dan pengobatan baru. Kemudian menekan masalah ini pun perlu kesadaran masyarakat yang Jadi poin dan kunci utama.
“Kalau pasien tidak menyelesaikan pengobatannya, maka risiko resistensi obat meningkat. Kalau stigma masih kuat, banyak yang terlambat berobat. Padahal TBC bisa sembuh bila ditangani sejak dini dan patuh pada terapi,” jelasnya.