Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tradisi Unik Mandi Bongen, Warga Muba Ramai ke Sungai Musi saat Surut
Masyarakat di Sekayu dan sekitarnya saat menikmati mandi bongen. (Dok. IDN Times)
  • Fenomena surutnya Sungai Musi di Musi Banyuasin saat kemarau memunculkan hamparan pasir bernama Bongen, yang menjadi momen tradisi mandi dan wisata warga setempat.
  • Kawasan Sekayu Waterfront jadi lokasi favorit warga untuk bersantai, bermain, hingga menikmati senja sambil mandi bongen, ditemani pedagang jajanan yang ramai berjualan.
  • Tradisi Mandi Bongen dianggap simbol kebersamaan masyarakat Muba lintas status sosial serta pengingat pentingnya menjaga kebersihan sungai sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Musi Banyuasin, IDN Times – Ada fenomena alam unik yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) saat musim kemarau tiba. Surutnya air sungai selalu menghadirkan pemandangan menakjubkan di aliran Sungai Musi hingga ke dasarnya, hingga menyisakan pasir yang banyak dan tebal.

Momen mengeringnya sungai terpanjang kedua di Pulau Sumatra yang melintasi wilayah Bumi Serasan Sekate itu kemudian dimanfaatkan untuk berwisata sekaligus mandi. Warga setempat menyebut pasir dengan sebutan Bongen. Maka dari sanalah muncul tradisi Mandi Bongen.

1. Pantai Bingen hanya muncul akhir Juli hingga September

Masyarakat di Sekayu dan sekitarnya saat menikmati mandi bongen. (Dok. IDN Times)

Dari semula sungai, warga kemudian menjulukinya sebagai Pantai Bongen. Hamparan pasir yang selama ini terendap di dasar sungai memberikan pemandangan menakjubkan. Tentunya masyarakat tak mau melewatkan momen penting ini, sebab bongen hanya muncul setiap akhir Juli hingga September.

Tak sedikit warga mandi di sungai yang sudah dangkal tersebut. Tradisi Mandi Bongen kemudian melahirkan kebudayaan mandi dengan pasir khas masyarakat pesisir Sungai Musi Kota Sekayu ketika sungai dangkal.

2. Warga lokal biasanya memanfaatkan area berpasir untuk bersantai

Masyarakat di Sekayu dan sekitarnya saat menikmati mandi bongen. (Dok. IDN Times)

Lokasi paling populer untuk menikmati fenomena alam ini berada di kawasan Sekayu Waterfront. Warga lokal biasanya memanfaatkan area berpasir ini untuk bersantai, bermain bersama keluarga dan menikmati pemandangan matahari tenggelam.

Jangan khawatir jika kehausan dan kelaparan di tengah hamparan pasir saat berkunjung ke Sekayu Waterfront, sebab banyak pedagang jajanan yang berjualan. Mulai dari berbagai jenis jus, es putar, minuman ringan, gorengan, hingga makanan berat.

Semakin sore akan semakin ramai karena warga yang pulang dari bekerja akan datang bersantai di sini untuk mandi bongen. Ditambah dengan pemandangan matahari tenggelam yang melukis semburat senja di seberang waterfront, membuat siapa pun betah untuk menikmati suasana di tepian Pantai Bongen.

3. Pantai Bongen jadi siklus alam yang menakjubkan di Muba

Masyarakat di Sekayu dan sekitarnya saat menikmati mandi bongen. (Dok. IDN Times)

Irwansyah, salah satu warga Sekayu, mengaku dirinya sangat bersyukur atas tradisi yang hanya muncul sekali dalam setahun ini. Di saat kemarau dengan udara kering dan banyak kejadian kebakaran lahan di wilayahnya, Mandi Bongen merupakan hiburan dari siklus alam yang menakjubkan.

"Air Sungai Musi itu kadang penuh, kadang menyusut. Saat menyusut itulah, kebersamaan kami tumbuh. Di atas pasir itu, status sosial dilepas di tepi sungai. Mulai dari pejabat, pedagang, pelajar, semua sama. Kita berbaur menikmati Mandi Bongen," ujarnya.

Bagi masyarakat Musi, menurutnya, sungai bukan cuma tentang air mengalir. Namun, ada urat nadi kehidupan dan banyak masyarakat bergantung di sana. Belum lama ini mereka meraup rezeki dari fenomena Seluang Mudik, sekarang diberi suguhan alam berupa Pantai Bongen yang menjadi identitas kebudayaan masyarakat Muba.

"Saat ini mungkin lebih menyoroti soal kesadaran warga untuk tidak membuang sampah di sana. Sebab miris sekali, pemandangan sudah bagus, tapi bongen dipenuhi sampah setiap hari," ucap Irwansyah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article