Sepekan MBG Jalan, Harga Telur dan Ayam di Pasar Randik Muba Melonjak

- Program Distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sekayu, Musi Banyuasin, berjalan sepekan dan memicu keluhan warga akibat lonjakan harga telur serta ayam ras di Pasar Randik.
- Stok telur menipis karena banyak pasokan terserap untuk kebutuhan dapur SPPG, membuat pedagang kesulitan memperoleh barang dari distributor dan terpaksa menaikkan harga jual.
- Kenaikan harga telur dan ayam berdampak pada pelaku usaha kuliner yang harus menyesuaikan modal agar tetap untung, sambil berharap pemerintah menjaga stabilitas pasokan bahan pangan.
Musi Banyuasin, IDN Times - Distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali bergulir sejak Senin (13/7/2027) di Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Sepekan sejak program andalan Presiden Prabowo tersebut berjalan, masyarakat kembali mengeluhkan harga sejumlah bahan pokok yang meroket.
Pantauan di Pasar Randik Sekayu pada Minggu (19/7/2026), kenaikan paling melejit terutama pada telur dan ayam ras. Jika libur sekolah dua pekan sebelumnya, harga telur masih Rp23 ribu per kilogram, kini harganya menyentuh Rp27 ribu. Kemudian, untuk ayam ras potong, dari yang sebelumnya Rp32 ribu, kini naik menjadi Rp37 ribu.
1. Stok telur ayam di pasar mulai menipis karena dari distributor kosong

Sementara untuk harga cabai merah keriting masih di kisaran Rp40-45 ribu per kilo. Untuk cabai setan stabil di harga Rp60 ribu. Lalu bawang merah belum mengalami kenaikan signifikan, masih di harga Rp30-35 per kilogram. Harga ikan belum bergerak dari harga sebelumnya. Ikan lele Rp27 ribu per kilogram dan ikan nila Rp35 ribu.
Beberapa pedagang mengakui stok telur ayam di pasar mulai menipis karena dari distributor banyak yang kosong. Hal ini dipicu oleh permintaan dapur SPPG yang tinggi, sehingga tidak semua distributor memiliki persediaan yang cukup. Imbasnya, pedagang terpaksa menjual dengan harga lebih tinggi dibandingkan biasanya.
2. Kenaikan harga bertahap, pedagang ikuti harga dari pemasok

Ko Anton, salah satu pedagang sembako di Pasar Randik, mengaku dirinya kesulitan mendapatkan stok telur dari distributor langganan dan harus memesan jauh-jauh hari.
"Banyak disuplai untuk MBG. Jadi jangan berharap harganya seperti kemarin (Rp23 ribu)," ujarnya.
Menurutnya, selain telur ayam, belum ada perubahan yang signifikan pada harga sejumlah kebutuhan pokok lainnya. Meski harga telur naik, kondisi tersebut juga belum berdampak terhadap penjualan telur di pasar.
"Kemungkinan harga bahan pokok masih dapat bergerak apabila permintaan terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan," ucapnya.
Pedagang ayam potong, Mai, mengaku harga naik secara bertahap tergantung pada perubahan harga agen. Dari semula Rp33 ribu, selang dua hari kemudian Rp35 ribu, dan hari ini mencapai Rp37 ribu per kilogram.
"Kami hanya mengikuti harga dari pemasok. Harapan kami dari pedagang ini, harga tetap stabil agar daya beli masyarakat terjaga. Pedagang juga tetap memperoleh keuntungan yang layak," ungkapnya.
3. Kenaikan harga telur dan ayam turut berdampak pada pelaku usaha kuliner

Sementara itu, kenaikan harga telur dan ayam turut berdampak pada pelaku usaha kuliner. Susan, salah satu pengusaha rumah makan di Sekayu, mengaku dirinya harus pintar-pintar mengatur modal dan uang belanja agar tetap memperoleh keuntungan dari jualan lauk masak.
"Telur dan ayam itu menu wajib karena olahannya juga banyak. Mau tak mau harus tetap beli meskipun harganya naik," ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat menjaga keseimbangan pasokan bahan pangan agar stok selalu tersedia dan tidak terjadi kenaikan harga terlalu jauh.
"Biarpun harga telur dan ayam naik, setidaknya bawang dan cabai jangan ikut naik. Karena pusing sekali mengatur modal kalau semuanya naik, sementara harga jualan kita tak bisa naik. Banyak konsumen protes dan ujung-ujungnya tidak laku," ungkapnya.




















