Ilustrasi warga membeli air bersih karena kekeringan. (IDN Times/Asrhawi Muin)
Akibat kondisi tersebut, masyarakat terpaksa mencari sumber air lain yang masih tersedia. Sebagian warga mengambil air dari mata air umum, sementara lainnya mengandalkan aliran Sungai Lematang. Air kemudian diangkut menggunakan jeriken untuk keperluan memasak, mandi, mencuci, hingga kebutuhan konsumsi.
"Kadang harus antre karena banyak warga dari daerah lain yang juga mengambil air di lokasi yang sama," jelasnya.
Zuhari mengaku sejak sumur di lingkungan tempat tinggalnya tidak lagi mengeluarkan air, dirinya hampir setiap hari harus menempuh perjalanan sekitar lima kilometer menuju mata air di dusun tetangga. Air yang diperoleh dibawa pulang menggunakan jeriken bersama warga lainnya.
"Hampir setiap hari kami harus mengambil air dari dusun sebelah. Kadang harus antre karena banyak warga dari daerah lain yang juga mengambil air di lokasi yang sama," jelasnya.