Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sumur Mulai Kekeringan, Warga di Pagar Alam Tempuh 5 Km Ambil Air
Pengisian air bersih usai kekeringan landa Pagar Alam (Dok: IDN Times)
  • Krisis air bersih melanda Kecamatan Dempo Tengah dan Dempo Selatan, Pagar Alam, setelah sejumlah sumur warga mengering akibat musim kemarau.
  • Warga mengambil air dari mata air umum dan Sungai Lematang untuk memasak, mandi, mencuci, serta konsumsi; sebagian menempuh sekitar lima kilometer dan harus mengantre.
  • Wali Kota Pagar Alam Ludi Oliansyah menyiapkan mobil tangki air untuk memasok warga serta menyebut perlunya instalasi pengolahan air minum yang lebih memadai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pagar Alam, IDN Times - Krisis air bersih melanda dua kecamatan di wilayah Pagar Alam, yakni Dempo Tengah dan Dempo Selatan. Kondisi ini menyebabkan beberapa sumur milik warga mengering akibat musim kemarau sehingga kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari.

"Hampir setiap hari kami harus mengambil air dari dusun sebelah," ungkap Zuhairi (55), warga Dusun Darang Dalo, Kecamatan Dempo Tengah, Senin (3/8/2026).

1. Warga harus berjalan lima kilometer cari air

Ilustrasi warga membeli air bersih karena kekeringan. (IDN Times/Asrhawi Muin)

Akibat kondisi tersebut, masyarakat terpaksa mencari sumber air lain yang masih tersedia. Sebagian warga mengambil air dari mata air umum, sementara lainnya mengandalkan aliran Sungai Lematang. Air kemudian diangkut menggunakan jeriken untuk keperluan memasak, mandi, mencuci, hingga kebutuhan konsumsi.

"Kadang harus antre karena banyak warga dari daerah lain yang juga mengambil air di lokasi yang sama," jelasnya.

Zuhari mengaku sejak sumur di lingkungan tempat tinggalnya tidak lagi mengeluarkan air, dirinya hampir setiap hari harus menempuh perjalanan sekitar lima kilometer menuju mata air di dusun tetangga. Air yang diperoleh dibawa pulang menggunakan jeriken bersama warga lainnya.

"Hampir setiap hari kami harus mengambil air dari dusun sebelah. Kadang harus antre karena banyak warga dari daerah lain yang juga mengambil air di lokasi yang sama," jelasnya.

2. Warga bergantung dengan air Sungai Lematang

Ilustrasi kekeringan (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Situasi serupa juga dialami masyarakat di Kecamatan Dempo Selatan. Ketika sumur tidak lagi dapat dimanfaatkan, warga memilih memanfaatkan aliran Sungai Lematang sebagai sumber utama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Mathan (60), warga Dusun Tanah Pilih, mengatakan persoalan kekurangan air bersih hampir selalu terjadi setiap musim kemarau. Sungai Lematang menjadi satu-satunya sumber air yang masih bisa dimanfaatkan masyarakat saat kondisi tersebut berlangsung.

"Kalau musim kemarau datang, kami memang bergantung pada air Sungai Lematang untuk kebutuhan sehari-hari," katanya.

3. Akui ada kekeringan di Pagar Alam

Ilustrasi warga mengantri untuk mendapatkan bantuan air bersih. (IDN Times/Candra Irawan)

Senada, Wali Kota Pagar Alam Ludi Oliansyah membenarkan adanya kekeringan dibeberapa wilayah di Pagar Alam. Untuk mengantisipasi kekeringan semakin meluas, pihaknya akan menyiapkan mobil tangki air untuk memasok air ke masyarakat.

"Proyek tersebut menjadi angin segar di tengah kekhawatiran yang selalu muncul setiap musim kemarau," jelasnya.

Dirinya menambahkan, keberadaan instalasi pengolahan air minum yang lebih memadai akan memperkuat ketahanan pasokan air bersih, terutama bagi masyarakat di wilayah Dempo Selatan yang selama ini kerap mengalami kesulitan memperoleh air ketika musim kemarau berlangsung.

"Selama ini, keterbatasan akses terhadap air bersih kerap menjadi tantangan yang memengaruhi aktivitas sehari-hari masyarakat," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article