Agustus-September Masuk Puncak Kemarau, BMKG Minta Waspadai Karhutla

- BMKG mengingatkan Sumatera Selatan meningkatkan kewaspadaan karhutla karena El Nino berada pada kategori kuat dan berpotensi sangat kuat, meski kemarau 2026 diprediksi tidak sekering 1997 atau 2015.
- Puncak kemarau di Sumsel diperkirakan berlangsung Agustus-September. Hujan baru turun bertahap pertengahan Oktober, tetapi intensitasnya rendah dan belum efektif membasahi lahan atau menghentikan titik panas.
- Lahan gambut dan hutan sangat rawan terbakar karena curah hujan masih di bawah normal; sejumlah wilayah mengalami hingga 40 hari tanpa hujan. BMKG mengimbau warga tidak membakar lahan dan menghemat air.
Palembang, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah di Sumatera Selatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peringatan tersebut disampaikan seiring fenomena El Nino yang kini telah berada pada kategori kuat dan diperkirakan masih berpotensi meningkat hingga level sangat kuat dalam beberapa waktu ke depan.
"El Nino telah aktif pada level kuat dan berpotensi mencapai sangat kuat. Meski terjadi El Nino, BMKG memprediksi kemarau 2026 tidak akan sekering 1997 ataupun 2015," ungkap Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatra Selatan, Wandayantolis, Senin (3/8/2026).
1. Oktober diperkirakan baru akan hujan

Wandayantolis menyebutkan, puncak musim kemarau di Sumsel akan berlangsung pada Agustus hingga September mendatang. Setelah itu, hujan diperkirakan mulai turun secara bertahap pada pertengahan Oktober.
Namun, intensitas hujan pada masa transisi tersebut masih relatif rendah sehingga belum cukup efektif untuk membasahi lahan secara menyeluruh maupun menghentikan kemunculan titik panas.
"Namun demikian, potensi karhutla tetap harus diwaspadai karena curah hujan masih rendah," ungkap dia.
2. Area gambut miliki tingkat kerawanan tinggi

Menurut Wandayantolis, kondisi tersebut menyebabkan wilayah yang memiliki lahan gambut maupun kawasan hutan tetap memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran apabila terjadi aktivitas pembakaran.
Ia menjelaskan, meskipun pada akhir Juli sempat terjadi hujan di sejumlah daerah akibat pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), secara akumulasi curah hujan bulanan di sebagian besar wilayah Sumsel masih berada di bawah kondisi normal atau lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis.
"Artinya, hujan yang terjadi belum mampu mengembalikan kelembapan tanah secara optimal. Kondisi lahan masih relatif kering sehingga kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan," ujarnya.
3. Hari tanpa hujan jadi indikator kemarau

BMKG juga mencatat terdapat sejumlah wilayah di Sumsel yang mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga mencapai 40 hari berturut-turut. Sementara sebagian besar daerah lainnya berada pada kategori 6 hingga 10 hari tanpa hujan karena sempat mendapat tambahan hujan dari Operasi Modifikasi Cuaca yang dilaksanakan pada 19–30 Juli 2026.
Menurut BMKG, panjangnya periode tanpa hujan menjadi salah satu indikator meningkatnya potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. Semakin lama suatu wilayah tidak diguyur hujan, semakin rendah kadar air di vegetasi dan permukaan tanah sehingga api lebih mudah muncul dan cepat menyebar.
"Imbauan kepada masyarakat untuk tidak Melakukan pembakaran lahan. Menghemat penggunaan air dan menjaga kesehatan saat suhu dan polutan meningkat di musim kemarau," jelasnya.



















