Sektor Pertanian Dorong Ekonomi Sumsel Tumbuh 5,2 Persen di 2025

- Pertumbuhan ekonomi Sumsel mencapai 5,2 persen, tertinggi kedua di Pulau Sumatra.
- Program cetak sawah dan optimalisasi lahan turut mendukung pertumbuhan ekonomi Sumsel.
- Sinergitas pengendalian inflasi terbilang efektif dengan koordinasi lintas instansi dan pemerintah kabupaten/kota.
Palembang, IDN Times - Bank Indonesia Sumatra Selatan mencatatkan pertumbuhan ekonomi pada Triwulan III tahun 2025 dalam kondisi positif. Berdasarkan data, angka ekonomi Sumsel di angka 5,2 persen dan nilai itu menjadi yang tertinggi kedua di Pulau Sumatra.
"Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga memberikan kontribusi signifikan (dorong pertumbuhan ekonomi Sumsel)," ujar Kepala BI Sumsel Bambang Pramono dalam keterangan rilis yang diterima, Kamis (5/2/2026).
1. Program cetak sawah dorong ekonomi Sumsel tumbuh

Bambang menyampaikan, tren solid pertumbuhan ekonomi di Sumsel tak terlepas dari keberhasilan pemerintah daerah dalam mencetak produksi padi dari lahan sawah optimal. Pertumbuhan tersebut lanjutnya, turut ditopang sektor konstruksi.
"Serta seiring dimulainya program cetak sawah dan optimalisasi lahan sejak triwulan III 2025," kata dia.
2. Inflasi Sumsel disebut dalam kisaran angka terkendali

Lebih lanjut, kata Bambang, program cetak sawah sinergi pemerintah provinsi merupakan bukti nyata pemerintah konsisten memperkuat berbagai program ketahanan pangan di daerah. Harapannya, mampu mendorong nilai inflasi dalam kondisi terjaga.
"Dari sisi stabilitas, inflasi Sumsel secara tahunan pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,91 persen. Dan nilai ini tetap berada dalam kisaran sasaran inflasi yang ditetapkan," jelasnya.
3. Waspada ketidakpastian ekonomi dengan bangun kebijakan moneter

Berdasarkan capaian itu, sinergitas pengendalian inflasi terbilang efektif. Koordinasi lintas instansi dan pemerintah kabupaten/kota menunjukkan komitmen besar dalam menekan kenaikan harga.
"Tapi penting diantisipasi, ke depan akan ada kondisi ketidakpastian ekonomi global, potensi gangguan rantai pasok, serta volatilitas harga komoditas," katanya.
Oleh karena itu, Bank Indonesia menekankan pentingnya penguatan kebijakan moneter, makroprudensial dan sistem pembayaran di tingkat daerah yang didukung lewat penguatan ketahanan pangan, akselerasi transformasi struktural, serta percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan.


















