Mimpi Buruk Pengendara di Jalintim, Tol Dibuka Situasional Saat Krodit

Titik utama kemacetan atau bottleneck berada di sekitar KM 14 hingga KM 18, kawasan ini mengalami penurunan permukaan dan gelombang parah
Selain waktu yang banyak habis di jalanana, BBM pun ikut menguap karena posisi mobil tak bergerak dari antrian panjang kendaraan
Tol Kapal Betung dibuka saat situasi dan kondisi Jalintim Palembang-Betung, Banyuasin sudah mengalami trobel
Banyuasin, IDN Times – Arus kemacetan di Jalan Lintas Timur (Jalintim) Banyuasin seakan tak pernah putus dan membuat pengendara frustrasi. Ditambah pengerjaan pengecoran bahu jalan di KM 17 Talang Kelapa semakin membuat kendaraan mengular sejak Kecamatan Betung.
Beberapa jalur alternatif yang diinformasikan oleh kepolisian maupun Dinas Perhubungan (Dishub) masih belum mengurai persoalan kemacetan di Jalintim. Bahkan rencana pembukaan tol Kayu Agung–Palembang (Kapal Betung) secara fungsional belum berjalan, dan pengendara yang terjebak terpaksa menunggu giliran untuk melintas di arus lalu lintas yang direkayasa buka-tutup.
1. Jalan tol dibuka fungsional di pintu Tol Musi Landas

Berdasarkan informasi dari Sat Lantas Banyuasin, titik utama kemacetan atau bottleneck berada di sekitar KM 14 hingga KM 18. Kawasan Talang Kelapa dan Serong ini mengalami penurunan permukaan dan gelombang parah yang memaksa kendaraan besar memperlambat laju.
Untuk saat ini, jalan tol fungsional hanya diberlakukan pada pintu Tol Musi Landas. Sedangkan tol yang melalui Suak Tapeh maupun Pulau Rimau akan dibuka situasional jika kondisi lalu lintas sudah krodit. Sementara, hanya kendaraan proyek yang berkaitan langsung dengan pekerjaan di lokasi yang boleh memasuki ruas Pulau Rimau.
2. Pengendara keluhkan rugi di waktu, tenaga dan materi selama terjebak macet

Gunawan, salah satu sopir travel Palembang-Sekayu, mengaku sudah lelah dengan kondisi Jalintim Banyuasin yang setiap hari dilintasinya. Selain waktu yang banyak habis di jalanan, BBM pun ikut menguap karena posisi mobil tak bergerak akibat antrean panjang kendaraan.
"Setiap keluar dari Simpang Tugu Polwan menuju Palembang, mimpi buruk kami para sopir ini sudah di depan mata. Macet panjang tak berkesudahan, membuat lelah dan rugi waktu maupun tenaga," ujarnya.
Hal serupa diungkapkan Wiranto, warga Palembang yang bekerja di Sekayu, Muba. Dirinya lebih memilih tak pulang ke rumahnya di Palembang saat libur karena kemacetan panjang sangat menguras tenaga dan BBM.
"Sempat lewat jalur alternatif di Jalinteng, yang lewat Simpang PALI. Hitungannya sama saja karena jaraknya jauh. Bedanya, di sana bebas macet dan satu-satunya permasalahan hanya di jalan rusak di perbatasan Musi Rawas," ucapnya.
3. Tol Kapal Betung dibuka saat situasi dan kondisi Jalintim sudah terkunci

Sementara itu, KBO Sat Lantas Polres Banyuasin, Iptu Eko Susilo, mengonfirmasikan dibukanya Tol Kapalbetung bukan fungsional, tetapi situasional. Artinya, tol baru bisa dibuka bila memang terjadi kemacetan panjang seperti beberapa waktu lalu saat pengecoran Jalintim Palembang-Betung.
"Tol Kapal Betung dibuka saat situasi dan kondisi Jalintim Palembang-Betung, Banyuasin, sudah mengalami trouble dan kemacetan yang sangat panjang. Nantinya tol dibuka secara situasional agar kendaraan bisa melintas secara satu arah," jelasnya.
Ia menambahkan, kendaraan yang melintas hanya kendaraan roda empat atau kendaraan pribadi yang dimasukkan melalui Pulau Rimau menuju Karang Anyar atau menuju ke Tanah Mas. Kendaraan yang bisa melintas di tol ini harus mematuhi aturan yang telah diberikan pihak Hutama Karya, agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Terutama terjadinya kecelakaan lalu lintas di dalam akses tol saat dibuka secara situasional.
"Perlu ditegaskan bukan difungsionalkan. Berbeda antara situasional dan fungsional. Kalau situasional ketika kondisi Jalintim Palembang-Betung krodit, tol baru dibuka. Kalau fungsional, seperti yang dilaksanakan saat Lebaran. Jadi pengendara juga harus memahami itu, dibuka secara situasional dan bukan fungsional," tegas Eko.



















