Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gubernur Sumsel Herman Deru dan Bupati Muba, Toha Tohet dalam peresmian penyelesaian peralihan pelanggan di Desa Air Putih Ulu (C1) Kecamatan Plakat Tinggi, Jumat (19/6/2026). (Dok. PLN)
  • Migrasi ke PLN membuat pasokan listrik warga Muba lebih stabil, membantu usaha rumahan seperti jus dan es teler, serta mendukung pembelajaran daring dan konektivitas.
  • Peralihan pelanggan PT MEP ke PLN tuntas 100 persen pada 19 Juni 2026, mencakup 56.719 pelanggan di 14 kecamatan dan melampaui target lebih dari 57 ribu pelanggan.
  • Lima desa kawasan hutan di Muba segera mendapat listrik PLN; rasio desa berlistrik Sumsel mencapai 99,35 persen, meski perluasan jaringan masih menghadapi tantangan geografis dan perizinan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Musi Banyuasin, IDN Times - Siang itu, suara mesin blender bergemuruh di teras depan rumah Nanik (27), warga Desa Rantau Keroya, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Minggu (1/11/2026). Potongan mangga segar dipadu krimer manis tampak menggugah selera, membuat pembeli tak sabar ingin mencicipinya.

Dari teras berukuran 2x3 meter itulah, ibu dua anak ini membuka usaha kecil-kecilan dengan menjual jus buah dan es teler. Warungnya cukup sederhana, dua buah mesin blender dan pajangan aneka buah terpampang di etalase kaca. Di sampingnya, sebuah mesin cup sealer dan tumpukan gelas plastik disusun rapi. Tak lupa, lemari pendingin dengan pintu transparan menambah kesan kuat warung Nanik yang berada di dekat kantor desa tersebut.

Nanik mengaku sejak jaringan listrik di rumahnya stabil setahun belakangan, ia bisa mencari uang tambahan sembari mengasuh bayinya yang masih berusia 9 bulan di rumah sendiri.

"Dulu tak bisa jualan jus seperti ini karena blender tak hidup. Apalagi mesin cup sealer juga butuh dicolok ke listrik," ujarnya.

Persoalan bertambah rumit saat aliran listrik dari PT Muba Elektrik Power (MEP), yang merupakan salah satu BUMD Pemkab Muba ini, terus-terusan byar pet. Menurut Nanik, dulu listrik di desa tersebut sering padam terutama di malam hari. Saking seringnya padam, warga desa menyebut penerangan di desanya seperti minum obat karena sering kumat-kumatan.

"Banyak alat elektronik tak berfungsi dengan baik. Padahal saya sudah lama ingin buka usaha jualan es yang membutuhkan dukungan listrik yang stabil. Makanya sejak migrasi ke PLN, barulah berani buka usaha jus dan es teler. Alhamdulillah, hasilnya bisa membantu uang dapur," ungkap Nanik.

Warga Muba sangat menantikan migrasi listrik PLN

Harapan masyarakat untuk mendapatkan pasokan listrik yang stabil turut dirasakan oleh Anton, warga Tungkal Jaya. Saat masih memakai jaringan milik perusahaan pelat merah sebelumnya, warga di desanya kerap mengeluhkan pemadaman listrik yang sangat mengganggu aktivitas, terutama di malam hari.

"Banyak yang merugi, terutama kami yang buka usaha mengandalkan listrik. Saat itu kami mendesak agar Pemkab Muba segera mempercepat proses migrasi listrik ini. Karena kami yakin jaringan PLN sangat stabil dan jauh lebih murah," katanya.

Anton tak berpikir dua kali saat ditawarkan untuk migrasi ke PLN, dengan menyiapkan seluruh berkas yang diperlukan. Prosesnya mudah, ditambah adanya skema cicilan dari PLN yang meringankan warga menengah ke bawah. Kini Anton dan beberapa warga lainnya bisa hidup tenang dan nyaman karena persoalan listrik sudah teratasi

"Dulu kalau mati lampu, jaringan provider ikut lenyap. Sekarang lancar terus. Yang paling terasa itu ketika PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) saat kabut asap kemarin, anak saya bisa belajar online di rumahnya tanpa terganggu pemadaman listrik dan sinyal lemot," kata pria yang sehari-hari berprofesi sebagai penjahit ini dengan antusias.

Ilustrasi petugas PLN tengah mengecek peralatan listrik PLN. (Dok. PLN)

Peralihan pelanggan PT MEP ke PT PLN (Persero) kini tuntas 100 persen

Sebagai salah satu daerah penghasil utama minyak dan gas bumi (migas) serta cadangan energi di Indonesia, tentunya Pemkab Muba ingin segera menuntaskan persoalan listrik ini agar merata di Bumi Serasan Sekate. Progres migrasi pengelolaan listrik oleh BUMD PT MEP ke PLN lantas dikebut. Pemkab Muba meminta agar PT PLN segera menuntaskan pemasangan jaringan listrik di wilayah Muba yang belum terpasang jaringan PLN. Terlebih, PT MEP secara resmi menghentikan layanan pengisian dan pembelian token listrik bagi pelanggan sejak 15 Mei 2026 guna mempercepat proses transisi penuh ke PLN.

Hingga akhirnya kabar baik itu datang. Pada Jumat, 19 Juni 2026, sejarah baru untuk Muba yang terang benderang terwujud setelah proses peralihan pelanggan PT MEP ke PT PLN (Persero) kini tuntas 100 persen. Sebanyak 56.719 pelanggan di 14 kecamatan resmi menjadi pelanggan PLN, bahkan jumlahnya malah melampaui target dan mencapai lebih dari 57 ribu pelanggan.

Bupati Muba, M. Toha Tohet, mengatakan dari total 56.719 pelanggan yang telah beralih, Kecamatan Plakat Tinggi menjadi salah satu wilayah dengan jumlah pelanggan terbesar, yakni sebanyak 6.375 pelanggan.

"Alhamdulillah, target yang ditetapkan dapat tercapai, bahkan terlampaui. Jika sebelumnya ditargetkan 56 ribu pelanggan, saat ini sudah mencapai lebih dari 57 ribu pelanggan," kata Toha.

Menurutnya, listrik merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting karena tidak hanya berfungsi sebagai penerangan, tetapi juga menjadi penunjang utama berbagai aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan masyarakat.

Maka, peralihan pelanggan PT MEP ke PLN merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menghadirkan layanan kelistrikan yang lebih baik dan merata bagi masyarakat Muba.

"Masyarakat sangat antusias, apalagi sebagai bentuk dukungan, dari PLN Pusat sempat diberikan diskresi pemberian skema cicilan bagi pelanggan rumah tangga yang akan bermigrasi dan MEP ke PLN," ucapnya.

Lima desa di kawasan hutan Muba segera dialiri listrik PLN

Selain itu, Toha memastikan kabupaten yang dipimpinnya ini akan terang 100 persen berkat listrik negara. Setelah sebelumnya, lima desa di kawasan hutan segera dialiri listrik PLN. Kelima desa kawasan hutan tersebut yakni Lubuk Bintialo, Pangkalan Bulian, Sako Suban, Muara Merang, dan Mangsang.

Bahkan, kerja sama pasokan listrik PLN kali pertama dalam sejarah di wilayah tersebut. Pasalnya, sudah puluhan tahun, bahkan sebelum Indonesia merdeka, masyarakat di lima desa tersebut belum menikmati aliran listrik karena dihadapkan pada persoalan hutan.

"Saat itu, Pemkab Muba bersama Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel telah menandatangani perjanjian kerja sama penggunaan kawasan hutan untuk pemasangan jaringan distribusi listrik. Proses ini tidak mudah karena harus mematuhi aturan tata kelola kawasan hutan. Tapi berkat komitmen dan kerja sama semua pihak, hari ini bisa terwujud," terangnya.

Gubernur Sumsel Herman Deru dan Bupati Muba, Toha Tohet dalam peresmian penyelesaian peralihan pelanggan di Desa Air Putih Ulu (C1) Kecamatan Plakat Tinggi, Jumat (19/6/2026). (Dok. PLN)

Rasio Desa Berlistrik (RDB) tercatat sebesar 99,35 persen

Senior Manager Keuangan, Komunikasi dan Umum PLN UID S2JB, Wahyudi, mengatakan tuntasnya peralihan pelanggan PT MEP ke PLN menjadi tonggak penting dalam pemerataan layanan kelistrikan di Muba. Sekaligus membuka peluang yang lebih besar bagi pengembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah kabupaten tersebut.

Pihaknya berkomitmen untuk terus memperluas akses kelistrikan, terutama bagi masyarakat di kawasan perdesaan dan wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau oleh jaringan listrik.

"PLN berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin baik, kemudahan akses layanan, serta keandalan pasokan listrik untuk mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah," ujarnya.

Berdasarkan data PLN UID S2JB, Rasio Elektrifikasi (RE) Sumsel saat ini telah mencapai 98,15 persen. Sementara itu, Rasio Desa Berlistrik (RDB) tercatat sebesar 99,35 persen. Angka tersebut menunjukkan luasnya jangkauan layanan kelistrikan di Sumsel.

Namun, upaya pemerataan masih terus dilakukan agar masyarakat di wilayah yang belum terjangkau dapat menikmati manfaat listrik secara berkelanjutan.

"Bagi masyarakat desa, kehadiran listrik tidak hanya berkaitan dengan penerangan rumah. Akses energi juga membuka peluang bagi kegiatan ekonomi, mendukung proses belajar, serta memperkuat pelayanan publik. PLN UID S2JB berharap perluasan elektrifikasi dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya pusat-pusat aktivitas baru di perdesaan sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di berbagai wilayah," terangnya.

General Manager PLN UID S2JB, Diksi Erfani Umar, menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur kelistrikan di wilayah Sumsel, Jambi, dan Bengkulu memiliki tantangan tersendiri. Mulai dari kondisi geografis, keterbatasan akses menuju lokasi pembangunan, hingga kebutuhan perizinan menjadi sejumlah faktor yang harus dihadapi dalam proses elektrifikasi.

Maka, koordinasi dengan pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan juga diperlukan untuk memastikan pembangunan dapat berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.

“Tantangan di lapangan tentu tidak ringan, mulai dari kondisi geografis, aksesibilitas, hingga kebutuhan perizinan. Namun, semua itu menjadi bagian dari tanggung jawab pelayanan. Kami percaya pemerataan listrik harus terus diperjuangkan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat,” jelas Diksi.

Ia menegaskan, perluasan elektrifikasi tidak cukup hanya dengan membangun jaringan listrik. Keberlanjutan layanan dan keandalan pasokan juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.

"Tentunya harapan kami sederhana, listrik tidak hanya menyala di rumah-rumah warga, tetapi juga ikut menyalakan harapan, kesempatan, dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat," ucap Diksi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article