Kenapa Lihab Dinamakan Kasur Palembang? Ternyata Begini Asal-usulnya

Kasur lihab atau Kasur Palembang telah dikenal sejak puluhan tahun lalu, dengan 26 Ilir menjadi kawasan perdagangan penting pada era 1970-an dan penyebarannya lintas daerah sejak 1980-an.
Nama Kasur Palembang melekat karena kerajinan ini berasal dan banyak diproduksi pengrajin Palembang, lalu dikenal luas di luar daerah sebagai kasur lantai yang fleksibel digunakan.
Kasur lihab berisi kapuk randu, dibungkus kain, dan berpola jahitan kotak-kotak. Perdagangan di 26 Ilir kemudian tergeser setelah warga beralih mengembangkan usaha pempek.
Palembang, IDN Times - Sebagian masyarakat mungkin masih ingat dengan kasur tipis berisi kapuk yang memiliki jahitan kotak-kotak kecil di permukaannya. Kasur tersebut biasanya digelar di lantai untuk tidur, duduk santai, hingga menjadi alas ketika berkumpul bersama keluarga.
Produk itu dikenal dengan nama kasur lihab atau kasur Palembang. Meski sekarang keberadaannya mulai jarang ditemukan dibandingkan dengan perlengkapan tidur modern, kasur tradisional ini pernah menjadi salah satu produk kerajinan rumah tangga yang cukup berkembang di Kota Pempek.
Menariknya, perjalanan Kasur Palembang tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan masyarakat terhadap alas tidur. Produk tersebut juga menyimpan cerita tentang perkembangan industri rumahan, aktivitas perdagangan, hingga perubahan mata pencaharian warga di kawasan 26 Ilir.
Berikut IDN Times merangkum jawaban kenapa kasus ini dapat identik dengan Palembang.
1. Kasur Palembang sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu

Ilustrasi kasur Palembang (Dok: Akulaku) Tidak banyak catatan yang secara pasti menyebutkan kapan pertama kali kasur lihab dibuat. Namun, sejumlah sumber sejarah dan penelitian menunjukkan bahwa produk tersebut sudah berkembang di Palembang sejak puluhan tahun lalu. Salah satu catatan mengenai keberadaannya dapat ditemukan dalam penelitian sejarah Kampung Pempek 26 Ilir yang diterbitkan dalam Jurnal Criksetra Universitas Sriwijaya pada 2022.
Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kawasan 26 Ilir, khususnya sepanjang Jalan Mujahidin hingga Jalan Radial, pada era 1970-an dikenal sebagai tempat perdagangan kasur lihab. Pedagang kasur ketika itu berjualan di sepanjang jalan. Kawasan tersebut menjadi salah satu tempat masyarakat mencari kasur tradisional yang diproduksi oleh pengrajin lokal.
Sementara itu, penyebaran kasur Palembang ke luar daerah juga tercatat dalam penelitian industri kerajinan kasur di Batulimbak, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Pada 1985, seorang warga bernama Asnawiyah memperkenalkan produk kasur tersebut kepada masyarakat setempat. Kehadirannya kemudian menjadi awal berkembangnya usaha pembuatan kasur Palembang di daerah tersebut. Catatan ini menunjukkan bahwa kasur lihab telah dikenal dan diperdagangkan lintas daerah sejak dekade 1980-an.
2. Mengapa disebut Kasur Palembang?

ilustrasi menjemur kasur (unsplash.com/Rosa Jakobi) Nama Kasur Palembang tidak muncul tanpa alasan. Penyebutan tersebut berkaitan dengan asal kerajinan dan pengrajin yang pertama kali memperkenalkan serta memproduksinya. Kasur lihab menjadi salah satu produk kerajinan khas Palembang. Karena berasal dan banyak diproduksi di kota ini, masyarakat di luar daerah kemudian lebih mengenalnya dengan sebutan Kasur Palembang.
Ada pula yang menyebutnya kasur lantai atau kasur santai. Penamaan tersebut merujuk pada penggunaannya yang tidak harus ditempatkan di atas ranjang. Berbeda dengan kasur modern, lihab lebih fleksibel digunakan di berbagai tempat. Kasur ini bisa digelar di lantai, dilipat ketika tidak dipakai, atau dibawa saat bepergian.
Identitas Palembang yang melekat pada produk tersebut akhirnya membuat namanya tetap dikenal, bahkan ketika dipasarkan ke luar Sumatra Selatan.
3. Ciri khas kasur lihab yang membedakannya dari kasur biasa

Ilustrasi berdiri di kasur (pexels.com/cottonbro studio) Salah satu daya tarik kasur Palembang terletak pada bentuk dan material pembuatannya. Kasur ini umumnya menggunakan kain satin atau jenis kain lain sebagai pembungkus, dengan kapuk randu sebagai bahan pengisi. Kombinasi tersebut membuat permukaannya terasa empuk meskipun memiliki bentuk relatif tipis.
Jahitan pada permukaannya juga menjadi karakteristik tersendiri. Pola jahitan dibuat dalam petak-petak kecil untuk menjaga susunan isian agar tidak mudah bergeser. Berdasarkan catatan mengenai kerajinan kasur lihab, ketebalannya umumnya berkisar 3-5 sentimeter. Ukurannya pun beragam, menyesuaikan kebutuhan pengguna.
Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian. Pengrajin harus menyiapkan kain, mengisi bagian dalam dengan kapuk, kemudian menjahit sejumlah bagian agar bentuk kasur tetap terjaga. Pada industri rumahan, pekerjaan tersebut melibatkan keterampilan tangan. Sebagian tahapan bisa dilakukan menggunakan mesin jahit, tetapi pengisian dan pengaturan kapuk tetap membutuhkan ketelitian pengrajin.
Karakteristik inilah yang membuat kasur lihab memiliki tampilan berbeda dibandingkan dengan kasur busa maupun spring bed.
4. Kawasan 26 Ilir pernah menjadi pusat perdagangan kasur Palembang

ilustrasi memasang pelindung kasur (magnific.com/magnific) Kini kawasan 26 Ilir lebih dikenal sebagai salah satu tujuan wisata kuliner pempek. Namun, sebelum identik dengan makanan khas Palembang tersebut, wilayah ini memiliki cerita berbeda. Pada dekade 1970-an, 26 Ilir justru dikenal sebagai kawasan perdagangan kasur lihab.
Menurut penelitian Destri Ramadhani dan rekan-rekannya dalam Jurnal Criksetra Universitas Sriwijaya, aktivitas penjualan kasur di kawasan tersebut berlangsung sebelum usaha pempek berkembang. Perubahan mulai terlihat pada 1993. Saat itu, beberapa warga mulai menjual pempek sebagai sumber penghasilan. Awalnya, jumlah pedagang masih terbatas dan sebagian berjualan secara berkeliling.
Memasuki tahun 1997, semakin banyak warga yang mulai memproduksi dan menjual pempek secara menetap. Usaha kuliner tersebut kemudian berkembang pesat. Pada 2005, aktivitas perdagangan pempek di kawasan 26 Ilir semakin ramai hingga sebagian warga yang sebelumnya berjualan kasur mulai beralih ke usaha makanan.
Penelitian tersebut mencatat bahwa pada 2010, kawasan 26 Ilir resmi menjadi sentra perdagangan kuliner pempek Palembang. Perubahan ini menjadi salah satu bagian menarik dari sejarah ekonomi masyarakat setempat. Kawasan yang dahulu dikenal melalui perdagangan kasur lihab perlahan membangun identitas baru sebagai Kampung Pempek.






















