Rupiah Nyaris Rp18.200 per Dolar AS, Apa Faktor Pemicunya?

Rupiah pada 4 November 2026 pukul 18.00 WIB melemah ke Rp18.164 per dolar AS, mendekati level Rp18.200.
BI Sumatra Selatan menyebut pergerakan rupiah dipengaruhi faktor fundamental, seperti ekspor-impor dan pembayaran pinjaman luar negeri, serta faktor sentimen yang lebih sulit dikendalikan.
Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas rupiah melalui pengendalian sentimen, ajakan kepada pengusaha terkait defisit ekspor, dan kerja sama dengan bank sentral lain.
Palembang, IDN Times - Nilai mata uang rupiah pada 4 November 2026 pukul 18.00 WIB kembali melemah. Terpantau, rupiah kini senilai Rp18.164 atau nyaris menembus Rp18.200 per dolar AS.
Lalu, apa yang sebenarnya membuat nilai mata uang negara terus bergerak melemah dan menguat dalam periode waktu tertentu?
1. Tanggung jawab stabilitas rupiah kewenangan Bank Indonesia pusat

Kepala BI Sumsel Bambang Pramono (kanan) - IDN Times/Feny Maulia Agustin Menurut Kepala Kantor Bank Indonesia Wilayah Sumatra Selatan, Bambang Pramono, dari sisi kewenangan bank sentral dalam upaya penguatan rupiah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia di pemerintahan pusat.
"Kalau bicara soal rupiah itu sebenarnya bukan kewenangan kami (BI Sumsel). Karena semua di kantor pusat di sana," ujarnya, dikutip Rabu (4/11/2026).
Namun Bambang menyampaikan, ada beberapa faktor yang memengaruhi nilai mata uang khususnya rupiah bergerak. Yakni faktor fundamental dan faktor sentimen.
"Tapi intinya, itu (pergerakan rupiah terhadap dolar AS) ada dua nilai (fundamental dan sentimen)," jelasnya.
2. Pergerakan nilai rupiah dipengaruhi faktor fundamental dan sentimen pasar

ilustrasi rupiah (pixabay.com/IqbalStock) Berdasarkan faktor fundamental, lanjut dia, hal itu dipengaruhi oleh berbagai aktivitas ekonomi, termasuk beragam kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam pergerakan neraca perdagangan.
"Dari fundamental, kegiatan-kegiatan aktivitas kita, dari ekspor juga impor, kemudian pinjaman luar negeri yang kita bayarkan, tapi ada juga sentimen," kata Bambang.
Dirinya menyampaikan bahwa pergerakan dari faktor sentimen tersebut justru lebih sulit dikendalikan untuk menjaga nilai mata uang. Sebab dari sisi sentimen, memengaruhi banyak sektor.
Kata Bambang, faktor sentimen merupakan hal-hal, kondisi, atau unsur yang berkaitan dengan perasaan, emosi, kenangan, atau kepekaan. Bukan semata-mata berdasarkan pertimbangan logika, rasio, atau nilai materi yang objektif.
"Dan yang agak susah kita kendalikan itu sentimen dan harus kita kendalikan," katanya.
3. Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga stabilitas rupiah

Bank Indonesia (pexels.com/fajri nugroho) Bambang menegaskan, melihat situasi saat ini, tentu bank sentral, Bank Indonesia, berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar mata uang, terutama rupiah. Langkah menjaga rupiah tetap dalam kondisi stabil juga menjadi acuan pertumbuhan ekonomi negara.
"Sejauh ini, Bank Indonesia akan all out untuk menjaga stabilitas rupiah. Makanya, kita ajak juga seluruh pengusaha, kalau mereka dapat defisit ekspor, dimasukkanlah ke sini (pengendalian sentimen). Kita juga melakukan kerja sama dengan bank sentral lainnya," jelas dia.




















