Pertumbuhan Investasi Sumsel Naik, tapi Peluang Kerja Belum Optimal

Investasi Sumatra Selatan pada triwulan III 2026 mencapai Rp54,54 triliun, melampaui target 2024 sebesar Rp44,63 triliun, dengan PMDN Rp27,78 triliun dan PMA Rp26,78 triliun.
Bank Indonesia menilai lonjakan investasi belum optimal menciptakan lapangan kerja, meski inflasi terjaga sekitar 2,7 persen untuk menopang daya beli, UMKM, dan pendapatan masyarakat.
Ekonomi Sumsel ditopang konsumsi, perdagangan, serta pertanian; pemerintah mendorong diversifikasi dari komoditas mentah melalui kepastian hukum, regulasi, dan penyederhanaan perizinan OSS.
Palembang, IDN Times - Pertumbuhan investasi Sumatra Selatan pada triwulan III tahun 2026 menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan forum ekonomi, investasi mengalami kenaikan Rp54,54 triliun atau 104,31 persen dari target tahun 2024 yang sebesar Rp44,63 triliun.
Meski lonjakan investasi sudah melampaui target, peluang kerja dari pertumbuhan tren positif permodalan Sumsel disebut belum optimal dalam menjangkau masyarakat.
"Berkah investasi harus berdampak lebih luas terhadap penciptaan lapangan kerja baru," ujar Kepala Kantor Bank Indonesia Wilayah Kerja Sumatra Selatan, Bambang Pramono, dikutip Rabu (4/11/2026).
1. Investasi dorong angka inflasi terjaga

Kepala BI Sumsel Bambang Pramono (kanan) - IDN Times/Feny Maulia Agustin Secara rinci, pertumbuhan positif investasi Sumsel meliputi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp27,78 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) senilai Rp26,78 triliun.
Seiring tren investasi yang menunjukkan tanda panah ke atas, angka inflasi juga berada pada kisaran 2,7 persen. Nilai itu, kata Bambang, jadi modal penting dalam menjaga daya beli dan pertumbuhan UMKM.
"Termasuk menjadi indikator dalam meningkatkan pendapatan masyarakat," kata dia.
2. Berharap dari investasi kesejahteraan masyarakat lebih tangguh

ilustrasi saham, pasar saham, investasi, investor (magnific.com/standret) Lebih lanjut, Bambang menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Sumsel juga ditopang oleh konsumsi rumah tangga, perdagangan, serta sektor pertanian, peternakan, dan perkebunan. Hal ini juga jadi peluang untuk membangun struktur ekonomi yang lebih berdaya tahan di tengah gejolak harga global.
"Harapannya, dari optimalisasi ekonomi, percepatan investasi dan aktivitas ekonomi inklusif serta pertumbuhan ekonomi dapat mendorong kesejahteraan masyarakat yang lebih tangguh dan berdaulat," jelas dia.
3. Pertumbuhan ekonomi tak hanya bisa ditopang dari komoditas sawit-batubara

Gubernur Sumsel Herman Deru (IDN Times/Rangga Erfizal) Sementara kata Gubernur Sumsel Herman Deru, memulihkan pertumbuhan ekonomi tidak bisa terus bertumpu pada komoditas mentah seperti batu bara dan kelapa sawit. Meski kedua komoditas tersebut sejauh ini masih menjadi mesin pertumbuhan.
Dia menambahkan, untuk mewujudkan mesin pertumbuhan ekonomi baru dalam target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2030, harus ada sejumlah langkah strategis.
"Dimulai dari kepastian hukum, regulasi, perizinan dan juga penyederhanaan perizinan berbasis risiko melalui Online Single Submission (OSS)," katanya.




















