ISPA di Palembang Tembus 17.434 pada September, Terparah di 2026

- Kasus ISPA di Palembang mencapai 17.434 pada September 2026, menjadi angka tertinggi tahun ini. Wali Kota Ratu Dewa mengaitkan lonjakan tersebut dengan asap kebakaran hutan dan lahan.
- Mayoritas penderita ISPA merupakan anak-anak berusia di bawah satu hingga tujuh tahun. Kualitas udara masuk kategori berbahaya, dengan konsentrasi PM2,5 dilaporkan melebihi 494.
- Pemkot meminta rumah sakit siaga dan puskesmas membuka layanan 24 jam, terutama di Sematang Borang, Kalidoni, Alang-Alang Lebar, Kertapati, serta Ilir Barat I.
Palembang, IDN Times - Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada September menjadi situasi terparah sepanjang 2026, yakni menembus angka 17.434 kasus.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengakui, peningkatan kasus ISPA cukup tinggi disebabkan oleh kondisi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Kami minta rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta untuk selalu standby (mengatasi kasus ISPA)," katanya, dikutip Minggu (4/10/2026).
1. Kasus ISPA mayoritas dialami anak-anak

Ilustrasi pasien anak penderita infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA (ANTARA FOTO/Syaiful Arif) Berdasarkan data sementara, mayoritas penderita ISPA di Palembang merupakan anak-anak usia di bawah satu tahun hingga tujuh tahun. Namun, untuk data rinci, Dinkes masih harus mengecek laporan lebih lanjut.
Penyebab utama ISPA kian tinggi di Bumi Sriwijaya seiring dengan situasi udara wilayah yang sudah masuk kategori berbahaya berdasarkan laporan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Tercatat, nilai konsentrasi PM2,5 berada di angka lebih dari 494.
"Saya sudah mengunjungi beberapa rumah sakit termasuk di Charitas Jumat (2/10/2026) kemarin dan berdasarkan data Dinkes, kasus ISPA banya anak-anak," jelas dia.
2. Polutan asap paling parah terjadi sore ke malam hari

Ilustrasi Anak penyakit ISPA. (IDN Times/Anjani Asra) Melihat kondisi polutan asap dari karhutla sepanjang September 2026, asap tebal paling rentan terjadi pada sore menjelang malam hari. Situasi ini juga makin memperburuk kasus ISPA di Palembang.
"Dari laporan, September 2026 menjadi bulan dengan jumlah ISPA tertinggi," katanya.
3. Minta puskesmas buka layanan 24 jam

ilustrasi anak yang terkena penyakit ISPA akibat cuaca panas ekstrem (pexels.com/Gustavo Fring) Lebih lanjut, Dewa menyampaikan bahwa, selain langkah pemerintah kota mengatasi kabut asap dan kasus ISPA, dirinya juga meminta seluruh puskesmas meningkatkan kesiapsiagaan.
Dirinya berharap, puskesmas dapat membuka layanan selama 24 jam untuk menangani warga yang terdampak ISPA. Terutama di lima kecamatan yang dinilai berpotensi terdampak karhutla, yakni Kecamatan Sematang Borang, Kalidoni, Alang-Alang Lebar, Kertapati, dan Ilir Barat I.
“Puskesmas kami minta buka 24 jam, sehingga kalau ada yang terdampak ISPA langsung bisa ditindaklanjuti," jelas dia.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















