Kisah Pilu Hardiansyah, Ojol di Palembang Meninggal usai Sesak Napas di Tengah Kabut Asap

Hardiansyah (41), warga Palembang dengan riwayat asma, meninggal setelah mengalami sesak napas di tengah kabut asap; keluarga menyebut ia sempat mengeluhkan nyeri dada.
Keluhan sesak sebelumnya muncul pada 15 September 2026 dan membaik dengan obat, lalu kambuh saat kualitas udara memburuk. Rumah tanpa plafon di sebagian besar area disebut mudah dimasuki asap.
Hardiansyah sempat batuk dan pilek, lalu dibawa ke RSUD Bari sekitar pukul 08.00 WIB. Setelah EKG, kejut jantung, dan suntikan, ia dinyatakan meninggal sekitar 30 menit kemudian.
Palembang, IDN Times - Hardiansyah (41), warga Palembang, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas, diduga akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Sumatra Selatan, Jumat, 2 Oktober 2026. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai pengemudi ojek online (ojol) ini diketahui memiliki riwayat asma dan sempat mengeluh kesakitan akibat sesak di dadanya.
“Bapak sempat dibawa ke rumah sakit sebelum meninggal dunia,” ungkap istri Hardiansyah, Rika Yunita (39), saat ditemui IDN Times di rumah duka, Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang, Sabtu (3/10/2026).
1. Hardiansyah sempat mengeluh sesak napas

Karangan bunga ucapan duka untuk Hardiansyah, warga Palembang yang meninggal usai mengeluhkan sesak napas. Hardiansyah diketahui memiliki riwayat penyakit asma. Rika menjelaskan, sang suami sempat mengeluh sesak napas pada 15 September 2026. Namun, seiring waktu, sesak napas itu menghilang dan almarhum kembali beraktivitas seperti biasa.
“Memang Bapak ada riwayat asma. Sempat kambuh parah tanggal 15 September, tapi waktu itu tidak sempat ke dokter karena langsung membaik setelah diberi obat," ujar Rika.
Seiring memburuknya kualitas udara di Palembang, Hardiansyah kembali mengalami sesak napas saat kondisi udara Palembang kembali memburuk pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Hari itu, Hardiansyah kembali mengeluh mengalami sesak napas. Keluarga tak sempat memberikan pertolongan pertama, karena semua panik dan segera membawa korban ke Rumah Sakit BARI Palembang.
“Biasanya kalau kumat kami nebu. Kemarin sempat pakai nebu juga, tapi saat kondisi terakhir itu sudah panik, jadi langsung dibawa ke rumah sakit,” katanya.
Rika mengatakan, keluarganya juga merasakan kondisi asap yang cukup tebal di sekitar rumah. Rumah yang ditempati almarhum disebut tidak memiliki plafon di sebagian besar bagian rumah, sehingga asap lebih mudah masuk.
“Memang asap itu tebal nian, karena rumah tidak ada plafon, cuma kamar saja yang ada plafon,” ujarnya.
2. Tetap beraktivitas sejak subuh

Istri korban Rika Yunita (39) menceritakan kisah sang suami yang harus menderita karena Kebakaran Lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Rika menyebut, suaminya masih beraktivitas seperti biasa sejak pagi sebelum kondisinya memburuk. Namun, keberadaan kabut asap turut memengaruhi aktivitas almarhum.
Karena mengetahui memiliki riwayat asma, Hardiansyah disebut selalu menggunakan masker ketika keluar rumah untuk mencari nafkah sebagai pengemudi ojol.
“Bapak itu aktivitas dari pagi, dari subuh. Gara-gara asap ini juga memengaruhi aktivitas. Bapak kalau keluar selalu pakai masker karena tahu punya asma,” kata Rika.
3. Sempat mengalami batuk dan pilek

Foto pernikahan menjadi kenangan terakhir Rika mengenang suaminya, Hardiansyah yang meninggal usai sesak napas di tengah kabut asap pekat di Palembang. (IDN Times/Rangga Erfizal) Selain riwayat asma, keluarga menyebut Hardiansyah sempat mengalami batuk dan pilek sebelum mengalami sesak napas yang lebih berat. Keluarga menduga keluhan tersebut turut memicu kambuhnya asma.
Namun, penyebab medis pasti meninggalnya Hardiansyah belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan dugaan keluarga.
“Kalau dari RS cuma mengeluarkan surat keterangan meninggal dunia. Sempat di EKG, terus defibrilasi atau kejut jantung dan disuntik, tapi Bapak sudah meninggal dunia,” jelasnya.
4. Meninggal 30 menit usai dibawa ke RS Bari

Istri korban Rika Yunita (39) menceritakan kisah sang suami yang harus menderita karena Kebakaran Lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Saat kondisi Hardiansyah memburuk, keluarga langsung membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bari Palembang untuk mendapatkan pertolongan. Rika mengatakan ayahnya dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 08.00 WIB. Namun, sekitar pukul 08.30 WIB, Hardiansyah dinyatakan meninggal dunia.
“Sampai rumah sakit sudah tidak ada napas lagi,” ujar Rika.
Usai kabar duka tersebut, sejumlah pihak dari kelurahan disebut sempat datang ke rumah keluarga untuk menyampaikan belasungkawa.
Keluarga saat ini masih berduka atas meninggalnya Hardiansyah. Mereka menyampaikan bahwa kondisi asap yang pekat memang dirasakan di lingkungan tempat tinggal, terutama dalam beberapa hari terakhir.
“Asap memang begitu tebal terutama pada pagi dan malam hari,” jelasnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)

















